Sambut Mahasiswa Internasional dari Palestina, Dekan Fasya Soroti Kekhasan Program Studi
- Diposting Oleh Achmad Firdausi
- Selasa, 3 November 2026
- Dilihat 31 Kali
Pamekasan | Pendidikan menjadi salah satu jalan untuk membangun perdamaian dunia. Melalui pemberian beasiswa kepada mahasiswa Palestina, Universitas Islam Negeri (UIN) Madura turut membuka akses pendidikan tinggi bagi generasi muda yang terdampak konflik di negaranya.
Dekan Fakultas Syariah (Fasya) UIN Madura, H. Muhammad Taufiq, Lc., M.Sy., Ph.D., mendapat amanah untuk melakukan seleksi sekaligus menerima mahasiswa internasional pada jenjang pascasarjana, bahkan sebelum dirinya menjabat sebagai dekan. Dalam proses tersebut, ia membagikan pengalamannya saat berkesempatan menerima dua mahasiswa asal Palestina bernama Anas dan Saheda. Keduanya merupakan alumni Universitas Al-Azhar yang memilih melanjutkan pendidikan magister pada Program Studi Hukum Keluarga Islam Pascasarjana UIN Madura.
Menurutnya, pilihan tersebut didasarkan pada kekhasan bidang keilmuan yang ingin mereka dalami. Program studi yang secara spesifik berfokus pada hukum keluarga menjadi salah satu pertimbangan penting bagi keduanya untuk melanjutkan studi di UIN Madura.
“Anas dan Saheda merupakan alumni Al-Azhar yang memilih melanjutkan pendidikan S-2 Magister Hukum Keluarga Islam di Pascasarjana UIN Madura. Salah satu alasannya karena di luar negeri belum ada program studi yang secara spesifik dan fokus mempelajari hukum keluarga,” ungkapnya.
Pengalaman seleksi tersebut juga menyisakan kisah emosional. Seusai menjalani wawancara, Anas dan Saheda langsung menghubungi ayah mereka yang saat itu berada di tenda pengungsian di Palestina. Komunikasi tersebut memperlihatkan situasi sulit yang tengah dihadapi keluarga mereka di tengah konflik berkepanjangan.
Di tengah proses tersebut, Anas juga menerima kabar duka bahwa tunangannya telah gugur akibat konflik yang terjadi di Palestina. Kabar itu menjadi momen yang mengharukan sekaligus menggambarkan beratnya situasi kemanusiaan yang dialami masyarakat Palestina.
Dekan Fasya tersebut berupaya menghibur kepada Anas dengan menyampaikan candaan agar kelak menikah dengan perempuan Madura. Meski sempat tersenyum, kesedihan Anas masih terasa karena kehilangan orang yang dicintainya.
Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa konflik tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga menghadirkan kehilangan dan luka mendalam bagi masyarakat yang mengalaminya. Di tengah kondisi tersebut, kesempatan memperoleh pendidikan menjadi salah satu harapan untuk membangun masa depan.
Kedekatan dengan dunia akademik Palestina juga bukan hal baru bagi Dekan Fasya tersebut. Saat menempuh pendidikan di Al-Ahgaff University dan International Islamic University Malaysia (IIUM), ia pernah belajar langsung kepada sejumlah akademisi asal Palestina.
“Ketika kuliah di Al-Ahgaff dan IIUM, saya pernah belajar langsung kepada dosen dari Palestina. Di Al-Ahgaff saya belajar kepada Syekh Abdullah Shahen. Sementara saat menempuh pendidikan doktoral, saya belajar tafsir kepada Prof. Dr. Radwan Jamal Yousef Elatrash,” jelasnya.
Lebih jauh, pengalaman tersebut mendorong refleksi mengenai peran pendidikan tinggi dalam merespons persoalan global, termasuk keberlangsungan masyarakat dan generasi muda. Ia menyoroti kondisi depopulasi yang terjadi di Palestina akibat konflik, serta fenomena penurunan angka kelahiran dan perkawinan di Jepang yang dipengaruhi berbagai faktor sosial dan demografis.
Dalam konteks pendidikan tinggi Indonesia, ia turut menyinggung wacana penggabungan atau merger program studi yang menjadi perhatian Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Menurutnya, kebijakan tersebut perlu dikaji secara komprehensif dengan mempertimbangkan kekhasan dan kebutuhan masing-masing bidang keilmuan.
“Di Palestina terjadi depopulasi karena konflik, sedangkan di Jepang juga terjadi depopulasi karena masyarakatnya cenderung enggan menikah dan memiliki keturunan. Dalam konteks ini, ketika ada wacana merger program studi oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, kebijakan tersebut perlu dikaji ulang,” tuturnya.
Ia menilai, program studi dengan fokus keilmuan yang spesifik merupakan salah satu karakteristik yang dapat memperkuat identitas perguruan tinggi. Karena itu, penggabungan program studi perlu mempertimbangkan kebutuhan masyarakat, perkembangan ilmu pengetahuan, serta relevansinya dengan tantangan global.
“Bukankah salah satu kekhasan pendidikan tinggi kita terletak pada program studi yang spesifik? Hal ini tentu menjadi bahan diskusi bersama,” tutupnya.
Penulis: Herlina Tria Sukmawati Editor: Achmad Firdausi