Alamat

Jl. Raya Panglegur KM.4 Pamekasan

Telp./WA

+62 898-9700-500

Email

info@uinmadura.ac.id

Revitalisasi Kepeloporan Ronggosukowati: Menyalakan Kembali Semangat Pamekasan Bangkit

  • Diposting Oleh Achmad Firdausi
  • Senin, 2 November 2026
  • Dilihat 18 Kali
Bagikan ke

Oleh: Dr. Moh. Hafid Effendy, M.Pd.

(Dosen FTIK UIN Madura dan Ketua Yayasan Pakem Maddhu)

Pada 3 November 2026, Pamekasan memasuki usia ke-496 tahun. Tema “Pamekasan Bangkit” terdengar menggugah. Namun, kebangkitan daerah tidak cukup diumumkan melalui baliho, panggung seremonial, atau pidato peringatan. Kebangkitan harus terasa di ruang kelas, pasar, sawah, pesisir, dan kantor pelayanan publik. Di sinilah sejarah Ronggosukowati menemukan relevansinya. Hal ini bukan untuk dikenang sebagai sejarah masa silam, melainkan dibaca kembali sebagai sumber keberanian mengubah keadaan.

Sejarah mencatat penobatan Pangeran Ronggosukowati pada 3 November 1530 sebagai penanda hari jadi Pamekasan. Ia dikenal sebagai penguasa Muslim pertama di wilayah tersebut. Pada masa pemerintahannya, pusat kekuasaan dipindahkan ke Mandhilaras dan tata ruang dibangun dengan menghubungkan pusat pemerintahan, tempat ibadah, pasar, serta fasilitas keamanan. Fakta ini memperlihatkan satu pelajaran penting: kepemimpinan bukan semata menduduki kekuasaan, melainkan menata kehidupan bersama.

Tentu, kerajaan abad ke-16 tidak dapat disamakan begitu saja dengan pemerintahan demokratis abad ke-21. Karena itu, meneladani Ronggosukowati bukan berarti menghidupkan kembali model kekuasaan feodal. Akan tetapi yang patut diwarisi yakni daya rintisnya yang berupa kemampuan membaca kebutuhan zaman, menyusun prioritas, dan mengambil keputusan yang meninggalkan manfaat lintas generasi. Warisan sejarah menjadi bermakna apabila diterjemahkan menjadi etika pembangunan bukan sekadar nama pendopo atau monumen.

Pertanyaannya, apakah Pamekasan hari ini telah menunjukkan keberanian serupa? Kita memiliki tradisi pendidikan pesantren, kerajinan batik, pertanian tembakau, potensi ekonomi pesisir, serta generasi muda kreatif. Akan tetapi, kekayaan potensi tidak otomatis berubah menjadi kesejahteraan. Tanpa tata kelola yang konsisten, produk lokal hanya menjadi komoditas musiman, anak muda mencari peluang di luar daerah, sementara desa-desa tetap berjuang mendapatkan akses ekonomi yang setara.

Ada beberapa peta jalan kebangkitan. Pertama dimulai dari pembenahan pemerintahan. Semangat kepeloporan menuntut birokrasi yang melayani, bukan dilayani. Izin usaha harus mudah dan transparan, anggaran harus menjawab kebutuhan warga, dan program pembangunan harus dapat diukur hasilnya. Publik membutuhkan bukti berupa pelayanan lebih cepat, jalan desa yang layak, dan fasilitas pendidikan serta kesehatan yang menjangkau masyarakat. Pamekasan tidak akan bangkit hanya karena memiliki slogan yang kuat jika kualitas layanan masih tertinggal.

Peta jalan kebangkitan kedua membangun ekonomi dari akar rumput. Pengrajin batik tidak cukup diundang memamerkan karya pada acara resmi. Mereka memerlukan desain yang adaptif, akses permodalan, perlindungan kekayaan intelektual, dan pasar digital yang berkelanjutan. Petani membutuhkan pendampingan, informasi harga, dan penguatan posisi tawar. Pelaku usaha kecil memerlukan ekosistem produksi hingga pemasaran. Ukuran keberhasilan ekonomi seharusnya bukan ramainya festival, melainkan meningkatnya pendapatan keluarga.

Peta jalan kebangkitan ketiga menyangkut manusia. Akses sekolah, madrasah, pesantren, dan perguruan tinggi harus menjadi tempat lahirnya pemecah masalah, bukan sekadar pencetak ijazah. Keterampilan digital, literasi, kewirausahaan, dan karakter integritas perlu dipadukan dengan kepekaan terhadap persoalan lokal. Anak-anak Pamekasan seharusnya mampu memanfaatkan teknologi untuk mengolah potensi desanya, bukan hanya menjadi konsumen pasif arus informasi dari luar.

Dalam kerangka itulah, potret kebudayaan Madura tidak boleh ditempatkan sebagai hiasan panggung. Bahasa Madura, sastra lisan, nilai gotong royong, dan pengetahuan lokal merupakan modal sosial yang perlu diwariskan secara kreatif. Revitalisasi budaya dapat hadir melalui pembelajaran di sekolah, dokumentasi digital, ruang ekspresi anak muda, serta penguatan industri kreatif. Daerah yang kehilangan ingatan budayanya mungkin tumbuh secara fisik, tetapi mudah kehilangan arah.

Ada satu pekerjaan lain yang tidak boleh ditunda, yakni menjaga daya dukung lingkungan. Seperti persoalan air bersih, pengelolaan sampah, perubahan musim, dan ketahanan pangan semakin dekat dengan kehidupan warga. Pembangunan yang membiarkan ruang hidup rusak pada akhirnya membebankan ongkos kepada generasi berikutnya. Spirit perintisan justru mengharuskan keberanian mengambil kebijakan yang mungkin tidak populer, seperti melindungi sumber air, memperbaiki tata kelola sampah, dan memastikan investasi tidak mengorbankan lahan produktif serta melibatkan warga dalam setiap keputusan. Kemajuan yang diwariskan kepada anak cucu mestinya berupa lingkungan yang sehat, bukan tumpukan proyek yang kehilangan manfaat setelah diresmikan.

Lebih jauh, semangat “Pamekasan Bangkit” mesti bersifat inklusif. Kebijakan pembangunan tidak boleh terkonsentrasi di pusat kota dan melupakan wilayah utara, desa pertanian, maupun kampung pesisir. Perempuan, penyandang disabilitas, petani kecil, dan pemuda desa harus mendapatkan kesempatan menjadi pelaku perubahan. Pembangunan yang hanya menguntungkan kelompok tertentu bukan kebangkitan bersama, melainkan ketimpangan yang diberi kemasan baru. Karena itu, peringatan hari jadi hendaknya menghasilkan agenda nyata. Pemerintah daerah dapat mengumumkan sejumlah target publik yang sederhana, terukur, dan dievaluasi secara terbuka setiap tahun: mutu layanan dasar, pertumbuhan usaha lokal, penyerapan tenaga kerja muda, pemajuan budaya, dan pengurangan kesenjangan antarwilayah. Perguruan tinggi, pesantren, komunitas, dunia usaha, serta media perlu terlibat mengawal pencapaiannya. Kolaborasi tidak boleh berhenti pada foto bersama.

Ronggosukowati telah menjadi bagian dari ingatan kolektif Pamekasan selama berabad-abad. Kini, penghormatan paling bermakna bukan memperbanyak pujian terhadap masa lalu, melainkan menghadirkan keberanian baru dalam tindakan. Jika kepeloporan dahulu ditandai dengan menata pusat kehidupan masyarakat, kepeloporan hari ini harus terlihat dari kemampuan menata masa depan yang lebih adil, produktif, dan bermartabat. Pamekasan bangkit ketika sejarah berhenti menjadi seremoni dan mulai bekerja untuk rakyat.

 


Editor: Achmad Firdausi