Alamat

Jl. Raya Panglegur KM.4 Pamekasan

Telp./WA

+62 898-9700-500

Email

info@uinmadura.ac.id

Jakarta Understansding Tekankan Penguatan Kompetensi Imam dan Peran Sosial Masjid

  • Diposting Oleh Widya Yuni Wulandari
  • Senin, 28 September 2026
  • Dilihat 31 Kali
Bagikan ke

Jakarta (UIN Madura) | Sidang Panel ke-4 International Grand Imam Conference (IGIC) 2026 yang berlangsung di Jakarta, Indonesia, pada 25–27 September 2026, membahas rumusan Jakarta Understanding dengan fokus “Masjid Harmony, Religious Diplomacy and Global Peace”.

Dipimpin Ketua Panitia IGIC 2026, Faried F. Saenong, Ph.D., sesi panel ini diwarnai oleh masukan dan usulan konstruktif dari para imam, mufti, serta delegasi berbagai negara untuk menyempurnakan draf Jakarta Understanding 2026. Berbagai gagasan yang mengemuka berfokus pada langkah nyata para pemimpin agama dalam merespons tantangan kontemporer global.

Sejumlah delegasi menyoroti perlunya pembekalan yang adaptif bagi para imam di tengah kompleksitas zaman. Imam dari Inggris mengusulkan pembentukan dewan atau organisasi khusus guna melatih para imam dalam mengatasi berbagai tantangan baru, khususnya di negara-negara minoritas Muslim di Barat, seperti isu Islamofobia, kebencian, kekerasan, hingga persoalan aborsi.

"There are many challenges in the West for Muslims, about, you know, new matters and new issues that need to be tackled. For example, you know, the issue of Islamophobia, hatred, violence, and, you know, abortion, and not all Imams are trained enough to address these issues. So, I suggest adding something like, a council or leadership to guide the Imam corpus,” sarannya, Minggu (27/9/2026).

Senada dengan hal tersebut, usulan dari delegasi lainnya menekankan pentingnya pengembangan keterampilan imam secara berkelanjutan. Para imam dinilai perlu dibekali kompetensi di luar ilmu keagamaan konvensional, mencakup isu pemuda dan keluarga, kesehatan mental, media digital, kecerdasan buatan (artificial intelligence), hingga tanggung jawab terhadap lingkungan, agar dokumen kesepahaman dapat diimplementasikan secara taktis di tingkat masyarakat.

Ide mengenai Open Mosque (Masjid Terbuka) turut mengemuka dalam memperkuat dialog lintas iman. Delegasi Italia dan Yunani mengusulkan agar masjid secara berkala membuka diri bagi para pemimpin dan umat dari agama lain, seperti program "Hari Masjid Terbuka" yang pernah diterapkan di Eropa. Langkah ini dinilai efektif untuk menjelaskan ajaran Islam yang penuh kasih, menepis prasangka, serta membangun hubungan yang harmonis dengan komunitas beragama lain.

“I think, it's so important also the, the idea of open mosque. So, to open our mosque, to be in contact with the other leaders, the religious leaders of another religion. So, open our mosque also for, give this kind of connection and stay with the other religion,” ujar perwakilan Italia.

Selain itu, delegasi Inggris menyambut baik usulan penguatan diplomasi keberagamaan dan dialog antaragama. Konsep ini dinilai sangat mendesak untuk diterapkan di Eropa dan wilayah Barat guna meredakan ketegangan di tengah masyarakat yang plural.

Utusan Spanyol mengingatkan bahwa peningkatan polarisasi dan ketidaktahuan terhadap kaum Muslim sering kali berawal dari berita palsu. Oleh karena itu, para imam didorong untuk berdiri di garis depan dalam menolak segala bentuk ekstremisme, ujaran kebencian, dan Islamofobia melalui pencarian kebenaran secara kolektif.

Dari aspek substantif, delegasi lain mengusulkan agar penguatan nilai-nilai moral serta perlindungan terhadap tempat-tempat suci agama dicantumkan secara tegas dalam rumusan. Sementara itu, masukan dari delegasi Belanda menekankan pentingnya memastikan bahwa konsep-konsep seperti "inklusivitas" atau "hak asasi manusia" merujuk pada nilai-nilai Islam dari Al-Qur'an dan Sunnah, agar substansinya dapat dipahami secara tepat di dunia Barat.

Isu pelestarian alam turut disuarakan oleh Imam Masjid Istiqlal Jakarta, Indonesia, yang memandang bahwa kesadaran menjaga lingkungan hidup merupakan pesan universal yang dapat dikerjakan bersama pemimpin lintas iman, termasuk non-Muslim.

Perhatian terhadap kelompok rentan juga menjadi sorotan penting. Perwakilan Mufti Polandia mengusulkan agar masjid tidak hanya menjadi tempat spiritual bagi generasi muda dan perempuan, tetapi juga ramah bagi penyandang disabilitas. Ruang-ruang masjid harus dirancang agar aspirasi dan bakat generasi muda dapat tersalurkan dengan baik.

“mosques should serve as spaces that encourage young people to engage in respectful dialogue with people from different religious backgrounds, fostering mutual understanding, trust, and lasting relationships among communities.” kata mufti dari Polandia.

Selain itu, salah satu peserta forum perempuan dalam sidang tersebut menekankan pentingnya penguatan ketahanan keluarga sebagai fondasi peradaban. Mereka juga menyerukan agar para imam mengambil peran dalam menggerakkan solidaritas global, termasuk memengaruhi kebijakan politik internasional terkait perlindungan korban di wilayah konflik serta pembebasan Palestina.

Dari berbagai usulan tersebut, forum menyepakati bahwa rumusan Jakarta Understanding harus bersifat operasional dan aplikatif. Sejumlah usulan konkret di antaranya adalah mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan ke dalam kurikulum pendidikan formal melalui koordinasi dengan kementerian pendidikan di masing-masing negara, serta membentuk komite khusus di bawah pengawasan imam untuk memberikan pelayanan sosial, budaya, dan material secara langsung di tengah masyarakat.

 


Sumber: Website Kementerian Agama RI

Editor: Achmad Firdausi