Alamat

Jl. Raya Panglegur KM.4 Pamekasan

Telp./WA

+62 898-9700-500

Email

info@uinmadura.ac.id

Bahas Warisan Intelektual Ulama Nusantara dan Peradaban Global, UIN Madura Selenggarakan ICONIS Ke-10

  • Diposting Oleh Achmad Firdausi
  • Rabu, 9 September 2026
  • Dilihat 47 Kali
Bagikan ke

Pamekasan | Universitas Islam Negeri (UIN) Madura menggelar The 10Th International Conference on Islamic Studies (ICONIS) sekaligus memperingati 400 tahun Syekh Yusuf Al-Makassari. Konferensi internasional tersebut berlangsung di Auditorium UIN Madura, Rabu (9/9/2026).

Mengusung tema Tracing the Intellectual Legacy of Nusantara Ulama for Sustainable Civilization and Global Wisdom, ICONIS ke-10 menjadi ruang akademik untuk menelusuri kembali warisan intelektual ulama Nusantara serta relevansinya dalam menjawab berbagai persoalan kehidupan dan peradaban global.

Rektor UIN Madura, Dr. H. Saiful Hadi, M.Pd., mengatakan ICONIS merupakan agenda rutin tahunan yang telah berlangsung selama satu dekade. Konferensi tersebut secara konsisten menghadirkan narasumber dan peserta dari berbagai negara.

“ICONIS ini sudah berjalan selama 10 tahun dan sekarang memasuki penyelenggaraan yang ke-10. Kegiatan ini setiap tahun mendatangkan narasumber dari berbagai negara, dan peserta maupun pemakalahnya juga tidak hanya berasal dari Indonesia,” ujarnya.

Menurutnya, penyelenggaraan ICONIS tahun 2026 memiliki momentum tersendiri karena bertepatan dengan peringatan 400 tahun Syekh Yusuf Al-Makassari. Momentum tersebut kemudian dikemas dalam tema yang menghubungkan pemikiran ulama Nusantara dengan pembangunan peradaban berkelanjutan dan kebijaksanaan global.

Saiful Hadi menegaskan, tema yang diusung mengandung pesan bahwa pemikiran ulama Nusantara tidak hanya relevan untuk dikenang dalam konteks sejarah, tetapi juga memiliki kontribusi nyata dalam kehidupan bangsa dan peradaban masa kini.

Menurutnya, perjuangan para ulama perlu terus dihidupkan kembali, terutama dalam memperjuangkan nilai kemanusiaan, keadilan, perdamaian, serta kepedulian terhadap lingkungan.

“Pemikiran ulama Nusantara tidak hanya layak dikenang, tetapi juga perlu dihidupkan kembali. Nilai-nilai perjuangan mereka tentang kemanusiaan, keadilan, lingkungan, dan perdamaian masih sangat relevan untuk kehidupan kita saat ini,” katanya.

Ia menambahkan, pembahasan dalam ICONIS ke-10 tidak hanya berfokus pada pemikiran ulama Nusantara, tetapi juga dikembangkan secara multidisipliner melalui berbagai subtema, seperti lingkungan, keadilan, perdamaian, kemanusiaan, ekonomi, dan syariah.

Pemilihan Syekh Yusuf Al-Makassari sebagai tokoh utama dalam peringatan tersebut, lanjut Saiful Hadi, memiliki alasan akademik dan historis yang kuat. Meski lahir di Makassar, perjuangan Syekh Yusuf melampaui batas wilayah dan bahkan berakhir hingga Afrika Selatan.

Syekh Yusuf dikenal tidak hanya sebagai ulama yang memiliki keahlian di bidang keagamaan, tetapi juga sebagai pejuang yang memperjuangkan nilai kemanusiaan dan keadilan. Perjalanan hidupnya juga memiliki jejak historis di berbagai wilayah, termasuk Madura, sebelum akhirnya diasingkan hingga Afrika Selatan.

“ICONIS memiliki cakupan internasional. Syekh Yusuf Al-Makassari bukan hanya tokoh lokal, tetapi seorang ulama dan pejuang yang kiprahnya melintasi berbagai wilayah hingga Afrika Selatan. Karena itu, sangat relevan untuk diangkat dalam sebuah konferensi internasional,” ungkapnya.

Dalam konferensi tersebut, Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA., dijadwalkan menjadi keynote speaker akan tetapi beliau berhalangan hadir dan diwakili oleh Staf Khusus Menteri Agama. Sementara tiga pembicara utama yang hadir yakni Prof. Dr. Suliman Hassan Suliman dari Al-Refak University, Libya, Prof. Dr. Mohd. Roslan bin Mohd. Nor dari Universiti Malaya, serta Dr. H. M. Faried F. Saenong, M.A., Ph.D., akademisi sekaligus Staf Khusus Menteri Agama.

Saiful Hadi berharap konferensi internasional tersebut dapat memperkuat peran perguruan tinggi sebagai sumber inspirasi dan penggerak perubahan sosial.

“Kita ingin kampus ini menjadi sumber inspirasi untuk melakukan perubahan dan membangun tradisi yang lebih baik, sehingga mampu mengantarkan dinamika kehidupan dan peradaban sosial yang lebih berdampak dengan bingkai nilai-nilai ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Panitia ICONIS ke-10, Abd. Muni, M.H.I., menyampaikan bahwa antusiasme peserta pada tahun ini mengalami peningkatan dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya.

Sebanyak 262 naskah dari 10 negara masuk dalam proses seleksi. Dari jumlah tersebut, sebanyak 127 naskah dinyatakan lolos untuk mengikuti rangkaian konferensi.

“Dari 127 naskah yang lolos, sekitar 80 pemakalah akan melakukan presentasi secara luring di UIN Madura, sedangkan sisanya mengikuti presentasi secara daring,” jelas Abd. Muni.

Ia menambahkan, naskah-naskah tersebut selanjutnya akan melalui proses review dan publikasi di berbagai media akademik, mulai dari penerbit Atlantis Press, jurnal internal, hingga prosiding ICONIS.

Menurutnya, mekanisme publikasi tahun ini berbeda dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya. Proses penentuan publikasi dilakukan setelah pelaksanaan konferensi dan presentasi para pemakalah.

Pada ICONIS tahun sebelumnya, tercatat sebanyak 165 naskah masuk dan 80 di antaranya dinyatakan lolos. Peningkatan jumlah naskah pada tahun ini, menurut Abd. Muni, tidak terlepas dari kerja tim serta publikasi yang dilakukan secara masif.

“Alhamdulillah, tahun ini jumlah naskah meningkat cukup signifikan. Salah satunya karena publikasi yang kami lakukan lebih masif dan juga adanya kepercayaan dari para pemakalah terhadap ICONIS,” ujarnya.

Ia menilai, rekam jejak penyelenggaraan ICONIS selama satu dekade turut membangun kepercayaan publik, terutama terkait komitmen panitia dalam mengakomodasi dan mempublikasikan naskah peserta sesuai dengan mekanisme yang telah dijanjikan.

Selain itu, ICONIS ke-10 tidak membebankan biaya pendaftaran kepada para peserta. Kebijakan tersebut menjadi salah satu upaya UIN Madura dalam membuka ruang akademik internasional yang lebih luas.

“Konferensi internasional ini gratis dan tidak ada biaya yang dibebankan kepada peserta. Kepercayaan publik itu yang terus kami jaga,” pungkasnya.

 


Penulis: Herlina Tria Sukmawati                           Editor: Achmad Firdausi