Alamat

Jl. Raya Panglegur KM.4 Pamekasan

Telp./WA

+62 898-9700-500

Email

info@uinmadura.ac.id

Mahasiswa KKN UIN Madura Olah Limbah Sekam Padi Jadi Briket Aromaterapi “Sekawang”

  • Diposting Oleh Widya Yuni Wulandari
  • Senin, 7 September 2026
  • Dilihat 26 Kali
Bagikan ke

Pamekasan | Melimpahnya limbah sekam padi yang belum dimanfaatkan secara optimal mendorong mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Posko 13 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Madura menghadirkan inovasi bahan bakar alternatif berbasis lingkungan di Desa Klompang Timur, Kecamatan Pakong, Kabupaten Pamekasan.

Memanfaatkan limbah sekam padi dari fasilitas penggilingan beras lokal, mahasiswa mengembangkan briket bioarang beraroma buhur yang diberi nama Sekam Wangi (Sekawang). Produk ini tidak hanya menjadi alternatif bahan bakar yang ramah lingkungan, tetapi juga memiliki fungsi aromaterapi melalui wewangian khas yang dihasilkan saat dibakar.

Inovasi tersebut dikembangkan di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Muzayyinatul Hamidia, M.Pd., serta pengawalan Koordinator Desa (Kordes), Farhat Nola Syabadi. Sejak awal pelaksanaan KKN, DPL mendorong mahasiswa untuk mengembangkan program yang memiliki keberlanjutan sekaligus mampu menjawab persoalan pengelolaan limbah di wilayah pedesaan.

“Saya menyarankan agar mahasiswa memfokuskan pengabdian pada keberlanjutan pemanfaatan energi alternatif guna menjawab tantangan pengolahan limbah di wilayah pedesaan,” ujar Muzayyinatul.

Berangkat dari arahan tersebut, mahasiswa KKN Posko 13 mengembangkan briket arang dengan konsep berbeda. Briket yang umumnya hanya digunakan sebagai bahan bakar konvensional yang menghasilkan bau asap pekat, kini dikembangkan dengan menambahkan aroma buhur atau hajar aswad sehingga memiliki keunikan dan nilai guna ganda (dual innovation).

Inovasi ini menghasilkan briket Sekawang yang tidak hanya berfungsi sebagai energi hemat terbarukan, tetapi juga memancarkan wewangian khas saat dibakar sehingga sangat cocok dimanfaatkan sebagai pengharum ruangan, rumah tangga, majelis taklim, maupun kegiatan pengajian.

Langkah awal pengembangan produk ini berawal dari dialog lapangan bersama Pamong Dusun Tengghinah, Hasir, serta Ketua Kelompok Tani (Poktan), Sihorrahman. Dari hasil diskusi, mahasiswa menemukan bahwa sekam padi yang dihasilkan dari aktivitas pertanian dan penggilingan beras selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal dan kerap terbuang menjadi sampah atau sekadar pakan ternak. Menurut Ketua Poktan, gagasan serupa sebelumnya pernah muncul melalui program KKN.

“beberapa tahun lalu sempat ada gagasan inovasi dari program KKN terdahulu, namun tidak berlanjut akibat kurangnya daya tarik dan belum adanya produk yang praktis bagi kebutuhan warga sehari-hari,” kata Sihorrahman.

Menanggapi hal tersebut, gagasan pengolahan limbah sekam padi menjadi briket beraroma wangi mendapat respon sangat positif dan lampu hijau dari para tokoh desa untuk segera direalisasikan.

Memasuki pertengahan masa pengabdian, mahasiswa melakukan observasi lanjutan ke Dusun Brukoh dan mendapati tumpukan sekam padi yang melimpah di samping area salah satu usaha penggilingan beras milik warga. Melihat potensi bahan baku yang melimpah dan belum dimanfaatkan secara optimal, mahasiswa meminta izin kepada pemilik penggilingan untuk mengumpulkan sekam tersebut. Bahan baku kemudian dibawa ke posko untuk menjalani tahapan eksperimen dan uji coba produksi.

Proses pembuatan Sekawang dilakukan melalui sejumlah tahapan, mulai dari karbonisasi atau pembakaran terkontrol sekam padi, pengayakan serbuk arang, pencampuran dengan bahan perekat alami, penambahan konsentrat buhur, pencetakan, hingga pengeringan di bawah sinar matahari. Meski sempat melewati beberapa kali pengujian formulasi (re-trial) guna memastikan kerapatan, daya tahan panas, dan tingkat keharuman yang stabil, ketekunan tim akhirnya berhasil menghasilkan briket aromaterapi yang menyala sempurna tanpa menghasilkan bau asap yang mengganggu.

Puncak peluncuran produk diwujudkan melalui Seminar Digital Marketing & Launching Produk yang dilaksanakan pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Agenda tersebut dilaksanakan secara kolaboratif bersama KKN Posko 14 dan dihadiri pelaku UMKM lokal, perangkat desa, serta tokoh masyarakat Desa Klompang Timur.

Dalam kegiatan tersebut, Sekawang diperkenalkan secara resmi sebagai salah satu inovasi produk unggulan berbasis potensi lokal. Selain mengurangi limbah pertanian, produk tersebut dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi komoditas ekonomi masyarakat melalui strategi pemasaran digital.

Rangkaian pengabdian kemudian ditutup dengan penyerahan produk Sekawang dan sarana Mading Edukasi Desa kepada Kepala Desa Klompang Timur, Beng Handayani. Penyerahan tersebut menjadi bentuk sinergi antara mahasiswa, akademisi, dan pemerintah desa.

Mahasiswa KKN Posko 13 UIN Madura berharap produksi Sekawang dapat dilanjutkan oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) maupun Kelompok Tani setempat untuk melanjutkan produksi briket Sekawang sebagai unit usaha terbarukan yang bernilai ekonomis dan berkelanjutan.

 


Penulis: Herlina Tria Sukmawati                           Editor: Achmad Firdausi