Kurikulum Cinta di Perguruan Tinggi
- Diposting Oleh Widya Yuni Wulandari
- Selasa, 10 Maret 2026
- Dilihat 70 Kali
Oleh: Dr. Moh. Hafid Effendy, M.Pd.
(Kepala SPI Universitas Islam Negeri Madura)
Lantunan gagasan kurikulum cinta pada dasarnya tidak lahir dari satu tokoh tunggal, melainkan berkembang dari tradisi panjang pemikiran pendidikan humanistik yang menempatkan kasih sayang, empati, dan penghargaan terhadap martabat manusia sebagai inti proses pendidikan. Hal ini merujuk pada SK Dirjen Pendidikan Islam Nomor 6077 Tahun 2025 tentang panduan kurikulum berbasis cinta. Dalam perkembangannya, konsep ini kemudian dipopulerkan kembali dalam wacana pendidikan kontemporer, termasuk dalam kebijakan pendidikan di Indonesia. Di tengah derasnya arus globalisasi, perguruan tinggi menghadapi tantangan yang tidak hanya berkaitan dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga pembentukan karakter manusia yang berkeadaban. Banyak lulusan perguruan tinggi yang cerdas secara akademik, tetapi sering kali dianggap kurang memiliki empati sosial, kepekaan moral, dan tanggung jawab kemanusiaan. Dalam konteks inilah gagasan kurikulum cinta menjadi semakin relevan untuk diimplementasikan di lingkungan pendidikan tinggi.
Kurikulum cinta bukanlah konsep yang romantik dalam pengertian sentimental, melainkan sebuah pendekatan pendidikan yang menempatkan nilai-nilai kemanusiaan sebagai fondasi pembelajaran. Cinta dalam konteks ini dimaknai sebagai kepedulian, empati, penghormatan terhadap martabat manusia, serta komitmen untuk menghadirkan kebaikan bersama. Dengan kata lain, kurikulum cinta berupaya menanamkan nilai kasih sayang, kejujuran, tanggung jawab, dan solidaritas sosial dalam seluruh proses pendidikan.
Selama ini sistem pendidikan tinggi sering kali terlalu menekankan aspek kognitif dan kompetensi teknis. Mahasiswa didorong untuk menjadi individu yang kompetitif, produktif, dan unggul secara akademik. Namun, orientasi yang terlalu teknokratis tersebut berpotensi mengabaikan dimensi afektif dan moral dalam pendidikan. Akibatnya, lahirlah generasi yang terampil, tetapi tidak selalu memiliki kepekaan terhadap persoalan sosial di sekitarnya.
Di sinilah kurikulum cinta dapat menjadi alternatif paradigma pendidikan yang lebih humanis. Implementasinya tidak harus melalui mata kuliah baru yang berdiri sendiri, melainkan dapat diintegrasikan dalam berbagai kegiatan akademik maupun nonakademik di perguruan tinggi. Misalnya, melalui pendekatan pembelajaran yang dialogis, kolaboratif, dan menghargai keberagaman pandangan.
Retorika dosen dalam konteks ini memegang peran penting sebagai teladan sekaligus fasilitator nilai-nilai keislaman. Proses perkuliahan tidak hanya menjadi ruang transfer pengetahuan, tetapi juga ruang perjumpaan manusia yang saling menghargai, Sikap terbuka, empati terhadap mahasiswa, serta penghargaan terhadap perbedaan menjadi bagian dari praktik kurikulum cinta dalam kehidupan kampus sehari-hari.
Selain itu, implementasi kurikulum cinta juga dapat diwujudkan melalui program pengabdian kepada masyarakat yang lebih bermakna. Mahasiswa tidak sekadar menjalankan kewajiban akademik, tetapi benar-benar belajar memahami realitas sosial masyarakat. Ketika mahasiswa terlibat langsung dalam membantu komunitas yang membutuhkan, mereka belajar bahwa ilmu pengetahuan memiliki tanggung jawab moral untuk memberi manfaat bagi kehidupan bersama.
Kurikulum cinta juga relevan dalam membangun budaya akademik yang sehat. Kampus seharusnya menjadi ruang yang bebas dari praktik diskriminasi, kekerasan verbal, maupun relasi kuasa yang tidak sehat. Dalam banyak kasus, konflik di lingkungan akademik muncul karena hilangnya sikap saling menghormati dan rendahnya empati antarindividu. Dengan menanamkan nilai cinta sebagai etika bersama, perguruan tinggi dapat membangun lingkungan belajar yang lebih inklusif dan berkeadaban.
Di samping itu, kurikulum cinta memiliki kaitan erat dengan pembangunan bangsa. Indonesia sebagai negara yang majemuk membutuhkan generasi muda yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki semangat kebersamaan dan kepedulian sosial. Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab strategis untuk menyiapkan generasi tersebut. Melalui pendidikan yang berlandaskan nilai cinta, mahasiswa didorong untuk menjadi pemimpin masa depan yang berintegritas dan berpihak pada kemanusiaan. Namun, implementasi kurikulum cinta tentu tidak dapat berjalan secara instan. Hal ini memerlukan komitmen kelembagaan, dukungan kebijakan akademik, serta kesadaran kolektif dari seluruh civitas akademika. Perguruan tinggi perlu merumuskan strategi yang sistematis agar nilai-nilai kemanusiaan benar-benar terintegrasi dalam proses pendidikan, bukan sekadar slogan moral.
Urgensinya tujuan utama pendidikan tinggi bukan hanya menghasilkan lulusan yang pintar, tetapi juga manusia yang bijaksana. Ilmu pengetahuan tanpa nilai kemanusiaan berpotensi melahirkan kemajuan yang kering makna. Sebaliknya, ketika ilmu dipadukan dengan cinta, pendidikan akan melahirkan generasi yang tidak hanya mampu berpikir cerdas, tetapi juga bertindak dengan hati nurani.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kurikulum cinta menjadi pengingat hakikat pendidikan dalam memanusiakan manusia. Perguruan tinggi sebagai ruang pembelajaran tertinggi, seharusnya menjadi tempat di mana ilmu pengetahuan tumbuh berdampingan dengan nilai kasih sayang dan tanggung jawab kemanusiaan. Oleh karena itu, ekosistem kampus akan lebih harmoni dalam penerapan tridarma perguruan tinggi.
Editor: Achmad Firdausi