Dârusân: Merawat Kebersamaan di Tengah Gempuran Era Transformasi Digital
- Diposting Oleh Achmad Firdausi
- Jumat, 13 Maret 2026
- Dilihat 84 Kali
Oleh: Dr. Muhsin Muis, Lc., M.Pd.I.
(Dosen Bahasa Arab UIN Madura dan IDB Pamekasan)
Dârusân. Begitulah masyarakat Madura menyebutnya. Mulai dari awal Ramadan hingga memasuki 10 akhir Ramadan, bahkan hingga malam terakhir, ia terus bergema di berbagai masjid, musalla, surau hingga rumah-rumah warga di Madura.
Kata dârusân sebenarnya bukan asli bahasa Madura, tapi ia merupakan serapan dari bahasa Arab: dirāsan, yang secara morfologis, merupakan bentuk derivasi dari kata: dārasa-yudārisu-mudārasatan-dirāsan. Atau serapan dari kata: Tadārusan, yang merupakan derivasi dari kata tadārasa-yatadārasu-tadārusan. Kedua bentuk ini: dirāsan dan tadārusan berakar dari kata yang sama: da-ra-sa yang memiliki arti: belajar. Namun, ketika berubah bentuk, baik ke dirāsan atau tadārusan, artinya berubah menjadi: “mempelajari sesuatu secara kolektif”. Hanya saja, pada bentuk yang pertama (dirāsan), secara kuantitas, lebih sedikit dari pada bentuk yang kedua (tadārusan).
Kedua bentuk ini sama-sama disebutkan dalam hadits. Bentuk pertama, misalnya, ada pada hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Ibnu Abbas yang artinya: “Rasulullah saw. adalah manusia yang paling lembut terutama pada bulan Ramadlan, ketika malaikat Jibril as. menemuinya. Malaikat Jibril as. menemui beliau setiap malam di bulan Ramadlan, di mana malaikat Jibril as. belajar Al-Qur'an bersama beliau. Sungguh Rasulullah saw. jauh lebih lembut daripada angin yang berhembus.”
Sementara, bentuk kedua ada pada hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Hurairah yang artinya: “Rasulullah SAW. bersabda, Tidaklah suatu kaum berkumpul dalam salah satu rumah dari rumah-rumah Allah (masjid), untuk membaca Al-Qur’an dan mempelajarinya di antara mereka, kecuali akan diturunkan kepada mereka ketenangan, dan mereka dilingkupi rahmat Allah, para malaikat akan mengelilingi mereka dan Allah swt. akan menyebut-nyebut mereka di hadapan makhluk-Nya yang berada didekat-Nya (para malaikat).”
Pada kedua hadits di atas ini, maksud dari dârusân sebenarnya bukan hanya sekedar membaca secara bergantian, tapi arti yang paling tepat adalah mempelajari Al-Qur’an secara kolektif. Yang pertama—misalnya—, lebih spesifik kepada Rasulullah saw. dan malaikat Jibril as., ketika bersama-sama mempelajari Al-Qur’an setiap malam bulan Ramadan. Sementara, yang kedua lebih kepada pahala yang diperoleh bagi mereka yang mempelajari Al-Qur’an secara kolektif.
Tentunya, yang dimaksud mempelajari di sini bukan hanya sekedar belajar cara membaca Al-Qur’an, tapi lebih kepada mempelajari makna yang tersirat dari setiap surat-surat yang dibaca. Dengan kata lain, maksud dari dârusân di sini sebenarnya mengaji tafsir-tafsir Al-Qur’an secara bersama-sama. Hanya saja, karena masyarakat kita—khususnya masyarakat Madura—mungkin kompetensinya belum sampai pada level tersebut, maka dicukupkan dengan membacanya secara bersama-sama, sambil lalu ada yang mengingatkan jika ada yang keliru dalam bacaan.
Terjadi penyempitan makna: dari belajar tafsir menjadi sekedar belajar membaca. Tentu ini bukan sesuatu yang tidak baik. Sebab, sekedar membaca pun, jika yang dibaca Al-Qur’an, maka akan tetap mendapatkan pahala. Bahkan, setiap satu huruf dari bacaan Al-Qur’an bernilai satu kebaikan dan setiap satu kebaikan dilipatgandankan menjadi sepuluh kebaikan, sebagaimana sabda Rasulullah saw. “Siapa yang membaca satu huruf dari Al-Qur'an maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi sepuluh kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan “aliflāmmim” satu huruf, tapi Alif satu huruf, Lām satu huruf dan Miim satu huruf.” (HR Tirmidzi).
Di Madura, dârusân merupakan tradisi yang sangat kental dan mengakar, khususnya pada saat bulan Ramadan. Ia merupakan cerminan dari perpaduan antara ketaatan agama dan budaya kekeluargaan yang kuat. Kegiatan ini sebenarnya tidak hanya sekedar membaca Al-Qur’an, tapi ia merupakan bentuk syiar, pendidikan spritual bagi masyarakat setempat dan penguatan ikatan sosial yang mana di dalamnya terkadang diselingi obrolan santai. Bahkan, tidak jarang ada makanan ringan yang dihidangkan masyarakat setempat secara bergantian, sebagai cemilan di sela-sela dârusân.
Di Madura, dârusân biasanya dilaksanakan dengan cara membuat kelompok-kelompok kecil yang duduk melingkar membaca Al-Qur’an secara bergantian, baik di masjid, musalla, surau atau rumah-rumah warga setiap selesai sholat tarawih. Dalam lingkaran tersebut, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa hingga yang sudah lanjut usia dengan sangat antusias membaca Al-Qur’an secara bergantian dan saling mengingatkan serta memperbaiki, jika ada kesalahan dalam bacaan.
Dari tahun ke tahun, antusias masyarakat Madura dalam menyambut kegiatan dârusân di setiap bulan Ramadan tidak pernah surut. Mereka senantiasa menyambutnya dengan penuh semangat dan gembira. Sebab, bagi masyarakat Madura, kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana untuk memperdalam bacaan Al-Qur’an, tetapi juga menjadi momen berharga untuk mempererat tali silaturahmi di tengah masyarakat.
Di berbagai masjid, surau dan rumah-rumah warga, suara lantunan ayat suci yang dibaca secara bergantian oleh anak-anak, remaja, dewasa hingga yang tua terdengar bergema hingga larut malam, menciptakan suasana religius yang hangat dan menentramkan. Sehingga, melalui kebersamaan dalam dârusân ini, nilai-nilai keislaman, kebersamaan, dan gotong royong semakin tertanam kuat dalam kehidupan masyarakat Madura.
Namun, seiring dengan perkembangan zaman, di mana era transformasi digital semakin melesat dan menyebar ke pelosok-pelosok desa, kegiatan ini kini mulai mengalami pergeseran bahkan kemerosotan. Salah satu sebab yang paling dominan adalah apa yang dimaksud dengan nomophobia (no mobile phone phobia), yaitu suatu kondisi di mana seseorang merasa takut, merasa ada yang hilang dan merasa ada yang kurang dari dirinya, ketika jauh dari smartphone.
Tentunya, apabila seseorang sudah tidak mampu mengontrol diri dalam penggunaan smartphone, maka keberadaannya dapat mengganggu konsentrasi dan keseriuan dalam setiap kegiatan, tak terkecuali dalam kegiatan dârusân. Bahkan, penggunaan yang berlebihan terhadap perangkat tersebut dapat menimbulkan adiksi atau kecanduan pada diri seseorang yang tentunya dapat berimplikasi pada munculnya sikap abai terhadap kegiatan dârusân. Ketika demikian, maka yang terjadi adalah tidak adanya lagi aktivitas saling mengingatkan dan saling memperbaiki ketika ada kekeliruan dalam bacaan Al-Qur’an. Tentu ini sangat membayakan.
Memang, kehadiran smartphone dalam kehidupan sehari-hari sudah tidak dapat dihindari. Perangkat ini hampir setiap saat menyertai berbagai aktivitas manusia di mana pun dan kapan pun, khususnya di kalangan remaja yang merupakan salah satu kelompok pengguna terbesar. Namun, meskipun perangkat tersebut memberikan banyak manfaat dan kemudahan, penggunaan yang kurang bijak dan tidak terkontrol dapat menimbulkan ketergantungan berlebihan, sehingga dapat berpotensi mendominasi berbagai aspek kehidupan, seperti hubungan keluarga, praktik ibadah, aktivitas bisnis, maupun interaksi sosial lainnya.
Oleh karena itu, dalam situasi demikian, sebenarnya setiap individu diharapkan mampu menjadi smart people, yaitu pribadi yang tidak hanya cakap dalam membaca Al-Qur’an, tetapi juga cerdas memanfaatkan smartphone sebagai alat untuk memahami makna dan kandungan Al-Qur’an secara lebih mendalam. Hal ini tentu sejalan dengan makna asal dari dârusân itu sendiri, yaitu mempelajari Al-Qur’an secara kolektif dengan menelaah makna yang tersirat dalam surat-suratnya.
Dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, berbagai aplikasi Al-Qur’an digital kini hadir dengan beragam fitur pendukung, seperti terjemahan, tafsir, hingga audio murottal yang memudahkan pengguna dalam membaca sekaligus memahami pesan yang terkandung di dalamnya. Jika dimanfaatkan dengan bijak, maka perangkat tersebut tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tapi juga dapat berfungsi sebagai media pembelajaran yang efektif untuk memperdalam pemahaman terhadap Al-Qur’an. Sehingga, tradisi dârusân yang telah mengakar di tengah masyarakat dapat terus berkembang, tidak hanya sebagai aktivitas membaca, tetapi juga sebagai ruang refleksi dan penghayatan terhadap nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Namun demikian, setiap individu juga perlu menunjukkan sikap kebijaksanaan dalam menggunakan smartphone, terutama ketika mengikuti kegiatan keagamaan seperti dârusân yang menuntut fokus, penghormatan, dan keterlibatan spiritual yang optimal. Artinya, penggunaan perangkat tersebut hendaknya benar-benar diarahkan untuk menunjang proses pembelajaran dan pemahaman terhadap ayat-ayat Al-Qur’an, bukan justru mengalihkan perhatian pada hal-hal yang kurang relevan. Hal ini dirasa penting, agar kehadiran perangkat tersebut tidak lantas mengurangi kekhidmatan suasana, tapi justru memperkaya pengalaman spiritual yang dirasakan para peserta. Dengan demikian, rasa kebersamaan, kekhusyukan, serta nilai-nilai spiritual yang terkandung dalam kegiatan dârusân dapat tetap terjaga dan berkembang dengan baik di tengah dinamika kehidupan modern yang semakin dipenuhi oleh teknologi digital.
Editor: Achmad Firdausi