I’tikaf di Era Distraksi Digital: Menemukan Keheningan di Tengah Kebisingan
- Diposting Oleh Achmad Firdausi
- Jumat, 13 Maret 2026
- Dilihat 17 Kali
Oleh: Prof. Dr. H. Atiqullah, S.Ag., M.Pd.
(Guru Besar Kepemimpinan Pendidikan Islam & Direktur Pascasarjana UIN Madura)
Ramadhan selalu menghadirkan ruang bagi manusia untuk kembali menata batin. Salah satu praktik spiritual yang paling dalam dalam tradisi Islam adalah i’tikaf—berdiam diri di masjid untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui zikir, tilawah, dan tafakur. Praktik ini dicontohkan langsung oleh Muhammad yang pada sepuluh malam terakhir Ramadhan memilih berdiam di masjid, memutus sementara kesibukan dunia untuk memperdalam hubungan dengan Sang Pencipta.
Namun di era digital saat ini, makna i’tikaf menghadapi tantangan yang berbeda. Kebisingan zaman tidak lagi hanya berasal dari keramaian aktivitas sosial, tetapi juga dari layar ponsel yang selalu menyala. Notifikasi media sosial, pesan instan, hingga arus informasi yang tidak pernah berhenti menjadi distraksi baru dalam kehidupan modern. Bahkan tidak jarang seseorang datang ke masjid untuk beribadah, tetapi pikirannya masih terhubung dengan dunia digital. Di sinilah i’tikaf menemukan relevansinya kembali: sebagai ruang keheningan di tengah kebisingan.
Pengalaman mengampu mata kuliah Ilmu Jiwa Agama di perguruan tinggi, diskusi tentang relasi antara agama dan kesehatan mental selalu menjadi topik yang menarik bagi mahasiswa. Banyak mahasiswa yang mengakui bahwa mereka sering merasa lelah secara mental karena terlalu banyak terpapar informasi dan aktivitas digital. ibadah secara praktik dalam Islam sebenarnya memiliki dimensi terapeutik bagi jiwa manusia. Dimensi inilah; shalat, zikir, puasa, dan i’tikaf bukan sekadar ritual formal, tetapi juga mekanisme spiritual yang membantu manusia menemukan ketenangan batin. Dalam bahasa psikologi modern, praktik-praktik tersebut dapat membantu menurunkan stres, memperkuat kesadaran diri, dan memulihkan keseimbangan emosional.
Pandangan ini sejalan dengan parapsikolog sebagaimana Malik Badri dalam Contemplation: An Islamic Psychospiritual Study dan ulama’ sufi sebagaimana Al-Ghazali dan Ibn Qayyim al-Jawziyya yang menegaskan bahwa kesehatan mental dalam Islam sangat terkait dengan kondisi qalb (hati). Ketika hati terlalu dipenuhi oleh distraksi duniawi, maka manusia mudah mengalami kegelisahan dan kehilangan ketenteraman batin.
Dalam tradisi tasawuf, keheningan bukan sekadar kondisi fisik, tetapi juga keadaan spiritual (akhwal). Para sufi sejak lama mengajarkan pentingnya khalwah—menyendiri dari keramaian untuk membersihkan hati. Sehingga Al-Ghazali, menggambarkan hati manusia seperti cermin. Ketika cermin itu tertutup oleh debu kesibukan dunia, maka cahaya kebenaran sulit terpantul dengan jernih. Karena itu manusia membutuhkan momen-momen kontemplatif untuk membersihkan hati melalui zikir dan tafakur.
Para pengamal tasawuf dalam tradisi Thariqah Naqshabandiyah, pengalaman spiritual ini terasa sangat nyata. Dalam tradisi tarekat ini dikenal prinsip khalwat—menyendiri di tengah keramaian. Artinya, seorang salik tetap hidup dalam aktivitas sosial, tetapi hatinya selalu terhubung dengan Allah melalui zikir yang terus hidup dalam kesadaran batinnya. I’tikaf dalam bulan Ramadhan menjadi salah satu latihan spiritual yang sangat penting dalam proses tersebut.
Di beberapa masjid di Madura, tradisi i’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan masih dijaga dengan penuh khidmat. Para jamaah datang setelah shalat tarawih dan menetap hingga menjelang sahur. Sebagian membaca Al-Qur’an, sebagian lagi memperbanyak zikir, sementara yang lain larut dalam doa-doa panjang.
Menariknya, pada malam-malam ganjil—yang diyakini sebagai waktu yang paling dekat dengan kemungkinan turunnya Lailatul Qadar—para jamaah biasanya melaksanakan shalat sunnah tasbih secara berjamaah atau sendiri-sendiri. Suasana masjid menjadi sangat khusyuk: lampu redup, suara zikir lirih, dan jamaah yang larut dalam ibadah. Dalam pengalaman menyaksikan tradisi ini, terasa bahwa i’tikaf bukan hanya ritual ibadah, tetapi juga ruang kontemplasi kolektif. Di tengah keheningan malam Ramadhan, manusia seolah diajak berhenti sejenak dari rutinitas dunia yang melelahkan.
Jika pada masa lalu manusia menjauh dari keramaian pasar untuk mencari ketenangan spiritual, maka manusia masa kini perlu menjauh sejenak dari keramaian digital. I’tikaf dapat menjadi momentum untuk melakukan detoks digital—mengurangi keterikatan pada perangkat teknologi dan kembali menghadirkan kesadaran spiritual. Ketika seseorang mengurangi distraksi digital dan menggantinya dengan zikir serta tilawah, maka pikirannya perlahan menjadi lebih tenang. Keheningan yang muncul bukan sekadar ketiadaan suara, tetapi kondisi batin yang lebih jernih. Disinilah manusia mulai mendengar suara hati nuraninya sendiri—suara yang sering tenggelam oleh kebisingan kehidupan modern.
I’tikaf di 10 terakhir Ramadhan mengajarkan satu hal yang sangat penting: bahwa ketenangan tidak selalu ditemukan dengan menambah aktivitas, tetapi justru dengan mengurangi kebisingan. Dan mungkin, di tengah zaman yang penuh distraksi ini, yang paling dibutuhkan manusia bukanlah lebih banyak informasi—melainkan lebih banyak keheningan.
Editor: Achmad Firdausi