Ketersediaan Pahala dan Berkah pada Lailatul Qadar Berbanding Terbalik dengan Pemakai Manfaatnya
- Diposting Oleh Achmad Firdausi
- Kamis, 12 Maret 2026
- Dilihat 79 Kali
Oleh: Dr. H. Imam Amrusi Jailani, M.Ag.
(Ketua Program Studi Doktor Ilmu Syariah Pascasarjana UIN Madura)
Lailatul Qadar merupakan suatu malam istimewa yang disediakan oleh Allah bagi hamba-Nya yang beriman dan beramal Shaleh. Pahala dan berkah pada malam itu begitu melimpah ruah. Amal baik pada malam itu disetarakan dengan amal baik selama 1000 Bulan di luar bulan Ramadhan. Ketersediaan pahala dan berkah yang begitu melimpah itu dimaksudkan untuk memberikan sugesti kepada mereka yang beriman agar memanfaatkan kesempatan itu semaksimal mungkin, sehingga dengan amal yang dilakukannya, amalnya akan dilipatgandakan dan setara dengan 1000 Bulan.
Ibarat suatu pekerjaan atau skill, maka pekerjaan itu merupakan pekerjaan yang bergaji miliaran, karena bayarannya beribu-ribu kali lipat dari bayaran orang biasa. Yang berbayar tinggi itu adalah high class, karena memiliki high skill. Yang bayarannya biasa-biasa saja, itu hanya orang kebanyakan, maka bayarannya menjadi setara dengan kebanyakan orang. Begitu tinggi penghargaan Allah yang diberikan kepada mereka yang bersungguh-sungguh beribadah dan beramal baik di malam al-qadar.
Ibarat ketersediaan barang dan daya beli konsumen, maka pahala dan berkah lailatul qadar itu adalah sebagai supply, dan pelaku amal baik itu adalah pihak yang membutuhkan ketercukupan keinginan atau demand. berdasarkan teori supply and demand, permintaan dan ketercukupan yang diminta harus setara. Jika tuntutan itu besar, maka harus diimbangi oleh ketersediaan barang yang diminta juga besar. Sebaliknya kalau ketersediaan barang melimpah maka harus terserap oleh konsumen. Semakin besar persediaan barang, maka barang itu akan semakin murah.
Berkaitan dengan lailatul qadar, Allah sudah melimpahkan berkah dan pahala yang begitu banyak, karena Allah ingin memberikan kemurahan kepada hamba-Nya. Jadi, siapapun yang beramal baik menjadi konsumen, dia akan mendapatkan berkah yang melimpah atau hasil yang banyak. Begitu pula, akan merugi mereka yang tidak memanfaatkan kesempatan itu untuk menghasilkan untung yang sangat melimpah, dan hanya tersedia di malam al-qadr saja. Maka berbahagialah bagi mereka yang memanfaatkan kesempatan tersebut sebaik-baiknya.
Supply and demand (penawaran dan permintaan) adalah model ekonomi dasar yang menentukan harga dan jumlah barang di pasar. Supply adalah jumlah produk yang ditawarkan produsen, sedangkan demand adalah jumlah barang yang diminta konsumen. Keseimbangan atau ekuilibrium tercapai ketika harga disepakati dan jumlah barang yang ditawarkan sama dengan yang diminta.
Ada beberapa hal penting dan harus diperhatikan mengenai supply and demand. Supply atau penawaran berfungsi menyediakan seJumlah produk yang ingin dijual oleh produsen pada berbagai tingkat harga dalam periode tertentu. Hukum penawaran menyatakan, jika harga naik, penawaran naik. Jika harga turun, penawaran turun, atau terjadi hubungan positif.
Demand atau permintaan merupakan sejumlah keinginan konsumen untuk membeli atau mendapatkan barang atau jasa pada berbagai tingkat harga. Hukum permintaan menyatakan, jika harga naik, permintaan turun. Jika harga turun, permintaan naik. Dalam hal ini terjadi hubungan terbalik atau negatif.
Supply and demand banyak dipengaruhi oleh mekanisme Pasar. Dalam dinamika mekanisme pasar, supply and demand dapat diprediksi, jika demand lebih tinggi dari supply, maka harga cenderung naik. Dan jika supply lebih tinggi dari demand, maka harga cenderung turun. Dinamika yang fluktuatif seperti itu dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor yang memengaruhi tersebut meliputi biaya produksi, teknologi, pendapatan konsumen, selera, dan harga barang pengganti. Dapat disederhanakan, supply and demand menentukan harga barang yang kita beli sehari-hari.
Berkaitan dengan lailatul qadar, supply melimpah, atau jauh lebih besar dari demand. Supply berupa pahala dan berkah digelontorkan oleh Allah, sebagai penyedia pahala, sebagai bentuk kemurahan-Nya yang disediakan untuk hamba-Nya. Demand berupa permintaan dari hamba untuk disediakan pahala yang sebesar-besarnya untuk ibadahnya. Sebagai konsekuensi logis dari melimpahnya pahala, seharusnya diimbangi semangat yang tinggi pada sektor permintaan, dalam hal ini hamba. Maka beruntunglah bagi mereka yang mampu memanfaatkan berlimpahnya penawaran (pahala), karena kesempatan itu tidak akan pernah ada di luar bulan Ramadhan. Siapa pun yang memanfaatkan kesempatan lailatul qadar akan mendapatkan limpahan pahala dan berkah, sehingga mereka akan mendapatkan kemuliaan. Namun sayang, tidak banyak orang bisa menangkap peluang ini, karena kebanyakan mereka sudah disibukkah oleh urusan duniawi, untuk memenuhi kebutuhan hari raya. Peluang pun dilewati begitu saja, karena tertarik pada urusan lain, yaitu nafsu untuk tampil modis di hari raya.
Editor: Achmad Firdausi