Merawat Tradisi Lebaran Ketupat di Tengah Arus Globalisasi
- Diposting Oleh Achmad Firdausi
- Jumat, 27 Maret 2026
- Dilihat 232 Kali
Oleh: Prof. Dr. H. Atiqullah, S.Ag., M.Pd.
(Guru Besar Kepemimpinan Pendidikan Islam & Direktur Pascasarjana UIN Madura)
Lebaran di Indonesia tidak pernah sekadar menjadi perayaan keagamaan yang menandai berakhirnya puasa Ramadhan. Ia juga merupakan ruang budaya tempat masyarakat mengekspresikan nilai kebersamaan, solidaritas, dan identitas lokal. Di Jawa dan Madura, salah satu tradisi yang masih hidup hingga kini adalah Lebaran Ketupat atau yang dikenal dengan istilah kupatan atau katopa’an (madura). Tradisi ini biasanya dirayakan beberapa hari setelah Idulfitri, tepatnya setelah umat Islam menyelesaikan puasa sunnah enam hari di bulan Syawal. Bagi masyarakat Jawa dan Madura, momen ini bukan sekadar menyantap ketupat, tetapi menjadi perayaan sosial yang sarat makna spiritual dan kultural.
Makna Lebaran Ketupat tidak dapat dilepaskan dari simbolisme ketupat itu sendiri. Ketupat yang dibuat dari anyaman daun kelapa muda atau janur melambangkan kesederhanaan sekaligus kerumitan hidup manusia. Di dalam tradisi Jawa, ketupat sering dimaknai sebagai simbol ngaku lepat—mengakui kesalahan dan saling memaafkan. Filosofi ini mempertegas bahwa tradisi kuliner dalam perayaan Lebaran tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan nilai moral dan spiritual masyarakat.
Sementara dalam tradisi Madura, istilah ketupan memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar makanan khas. Ketupan dipahami sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur setelah menjalani rangkaian ibadah Ramadhan dan puasa Syawal. Ketika masyarakat Madura merayakan Lebaran Ketupat, mereka tidak hanya memasak ketupat, tetapi juga berbagi hidangan dengan tetangga, kerabat, dan tamu yang datang. Aktivitas ini mencerminkan semangat gotong royong dan solidaritas sosial yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pesisir dan agraris di Madura.
Dalam perspektif sosiologi agama, tradisi seperti ini menunjukkan bagaimana agama dan budaya saling berinteraksi. Sosiolog Muslim Indonesia, Kuntowijoyo, pernah menegaskan bahwa agama di Indonesia tidak hanya hadir dalam bentuk ajaran normatif, tetapi juga dalam praktik budaya sehari-hari. Ia menyebut fenomena ini sebagai proses kulturalisasi agama, yaitu ketika nilai-nilai Islam dihayati dan diekspresikan melalui tradisi lokal. Dalam konteks ini, Lebaran Ketupat menjadi salah satu contoh bagaimana ajaran tentang silaturahmi, syukur, dan berbagi diterjemahkan dalam bentuk tradisi masyarakat.
Di berbagai daerah di Jawa dan Madura, tradisi Lebaran Ketupat dirayakan dengan cara yang beragam. Di beberapa desa, masyarakat mengadakan selamatan bersama dengan membawa ketupat, opor ayam, atau hidangan khas lainnya untuk dimakan secara kolektif. Ada pula tradisi arak-arakan ketupat, pasar rakyat, hingga kegiatan sosial yang melibatkan warga desa. Selain itu, sebagian masyarakat juga melakukan ziarah kubur sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan refleksi spiritual tentang kehidupan.
Budayawan Madura D. Zawawi Imron sering menekankan bahwa tradisi masyarakat Madura lahir dari kehidupan yang sederhana tetapi sarat dengan nilai kemanusiaan. Menurutnya, praktik berbagi makanan dalam tradisi Lebaran mencerminkan semangat abhantal ombhea’ asapok angin, yakni sikap kepedulian dan solidaritas yang kuat dalam masyarakat Madura. Dalam pandangan Zawawi Imron, tradisi bukan sekadar kebiasaan yang diwariskan turun-temurun, melainkan sumber kearifan yang menjaga manusia tetap terhubung dengan komunitasnya.
Namun realitas sosial saat ini menunjukkan bahwa tradisi Lebaran Ketupat menghadapi tantangan baru. Globalisasi membawa berbagai bentuk budaya populer yang sering kali lebih menarik bagi generasi muda. Perayaan Lebaran yang dahulu identik dengan kegiatan komunal kini mulai bergeser ke arah konsumsi modern—seperti wisata Lebaran, belanja daring, atau perayaan yang lebih bersifat individual.
Perubahan ini tidak sepenuhnya negatif, tetapi memunculkan pertanyaan tentang bagaimana masa depan tradisi lokal. Sebagian generasi muda masih memandang kupatan atau ketupan sebagai bagian penting dari identitas keluarga dan daerah. Mereka tetap ikut membantu orang tua membuat anyaman ketupat, memasak hidangan Lebaran, atau menghadiri acara selamatan desa. Namun ada pula yang memaknai tradisi tersebut secara lebih fleksibel, misalnya dengan merayakannya secara sederhana atau membagikan momen kupatan melalui media sosial.
Dalam perspektif sosiologi budaya, perubahan semacam ini sebenarnya merupakan bagian dari proses adaptasi tradisi. Tradisi tidak selalu harus dipertahankan dalam bentuk yang sama seperti masa lalu. Yang lebih penting adalah menjaga nilai-nilai inti yang terkandung di dalamnya. Selama semangat berbagi, kebersamaan, dan saling memaafkan tetap hidup, maka makna Lebaran Ketupat tidak akan hilang.
Di sinilah peran keluarga menjadi sangat penting. Banyak nilai Lebaran sebenarnya dipelajari melalui pengalaman sehari-hari di rumah. Anak-anak yang sejak kecil diajak membuat ketupat, mengunjungi tetangga, atau mengantarkan makanan kepada kerabat akan memahami bahwa Lebaran bukan sekadar perayaan, melainkan juga proses membangun hubungan sosial.
Selain keluarga, komunitas lokal juga memiliki peran besar dalam mempertahankan tradisi ini. Di banyak desa di Jawa dan Madura, Lebaran Ketupat tetap hidup karena adanya dukungan dari tokoh agama, pemerintah desa, dan kelompok pemuda. Mereka sering mengadakan kegiatan bersama seperti festival kupatan, doa bersama, atau kegiatan sosial yang melibatkan masyarakat luas. Kegiatan semacam ini tidak hanya menjaga tradisi tetap hidup, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial di tengah perubahan zaman.
Dalam konteks globalisasi, merawat tradisi bukan berarti menolak modernitas. Justru tradisi perlu menemukan cara baru agar tetap relevan bagi generasi muda. Dokumentasi digital, festival budaya, hingga edukasi tentang makna filosofis ketupat dapat menjadi jembatan antara warisan masa lalu dan kehidupan modern.
Pada akhirnya, Lebaran Ketupat bukan sekadar perayaan kuliner atau ritual tahunan. Ia merupakan simbol dari cara masyarakat Nusantara memadukan agama, budaya, dan kehidupan sosial. Dalam anyaman daun kelapa yang sederhana, tersimpan pesan tentang kerendahan hati, kebersamaan, serta kesediaan manusia untuk saling memaafkan.
Di tengah dunia yang semakin cepat dan global, nilai-nilai tersebut justru menjadi semakin penting. Tradisi ketupan mengingatkan bahwa perayaan keagamaan tidak hanya tentang hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga tentang hubungan manusia dengan sesamanya. Selama makna itu terus dipahami dan diwariskan, Lebaran Ketupat akan tetap hidup sebagai bagian dari identitas budaya Islam Nusantara.
Editor: Achmad Firdausi