Alamat

Jl. Raya Panglegur KM.4 Pamekasan

Telp./WA

+62 898-9700-500

Email

info@uinmadura.ac.id

Hari Raya Ketupat: Memperkuat Tradisi Madura di Era Disrupsi

  • Diposting Oleh Achmad Firdausi
  • Jumat, 27 Maret 2026
  • Dilihat 164 Kali
Bagikan ke

Oleh: Dr. Moh. Hafid Effendy, M.Pd.

(Kepala Satuan Pengawas Internal (SPI) UIN Madura)

Hari Raya Ketupat bukan sekadar perayaan pasca-Idulfitri, melainkan sebuah simpul kebudayaan yang merekatkan nilai religius, sosial, dan kearifan lokal masyarakat Madura. Di tengah arus disrupsi yang ditandai oleh digitalisasi, globalisasi, dan perubahan gaya hidup, tradisi ini menghadapi tantangan sekaligus peluang untuk direaktualisasi. Pertanyaannya, bagaimana Hari Raya Ketupat tetap relevan sebagai identitas budaya tanpa kehilangan esensi spiritual dan sosialnya?

Dalam tradisi Madura, Hari Raya Ketupat dirayakan pada hari ketujuh setelah Idulfitri, sering disebut sebagai “Tellasân Topa’”. Momentum ini tidak hanya menjadi kelanjutan ibadah puasa sunnah Syawal, tetapi juga ruang simbolik untuk memperkuat silaturahmi. Ketupat, sebagai makanan khas, mengandung makna filosofis yakni anyaman janur yang rumit melambangkan kesalahan manusia, sementara isi beras putih mencerminkan kesucian setelah saling memaafkan. Tradisi ini mengajarkan bahwa rekonsiliasi sosial tidak berhenti pada Idulfitri, tetapi terus dirawat dalam kehidupan sehari-hari. Namun, di era disrupsi praktik budaya seperti Hari Raya Ketupat menghadapi reduksi makna. Generasi muda yang hidup dalam ekosistem digital, cenderung melihat tradisi sebagai seremoni tanpa konteks. Ketupat menjadi sekadar konten visual di media sosial kehilangan dimensi reflektif dan komunalnya. Di sisi lain, urbanisasi dan mobilitas tinggi menyebabkan berkurangnya intensitas pertemuan keluarga besar yang selama ini menjadi inti perayaan.

Di sinilah pentingnya membangun kembali narasi konseptual tentang Hari Raya Ketupat. Tradisi ini perlu dipahami bukan sebagai warisan statis, melainkan sebagai praktik budaya yang dinamis dan adaptif. Dalam perspektif ini, Hari Raya Ketupat dapat diposisikan sebagai “modal sosial-budaya” yang memperkuat ketahanan komunitas. Hal ini menjadi ruang untuk mentransmisikan nilai gotong royong, solidaritas, dan etika berbagi yang menjadi ciri khas masyarakat Madura.

Strategi penguatan tradisi ini di era disrupsi dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan. Diantaranya melalui reinterpretasi makna melalui pendidikan kultural. Sekolah, pesantren, dan keluarga perlu mengintegrasikan nilai-nilai simbolik Hari Raya Ketupat dalam pembelajaran. Anak-anak tidak hanya diajak membuat ketupat, tetapi juga memahami filosofi di baliknya. Dengan demikian, tradisi tidak berhenti pada praktik, tetapi menjadi kesadaran.

Pendekatan yang lain bisa melalui digitalisasi berbasis nilai. Alih-alih menolak teknologi, masyarakat perlu memanfaatkannya untuk memperluas jangkauan tradisi. Konten digital tentang Hari Raya Ketupat dapat dikemas secara kreatif, tetapi tetap mengedepankan narasi edukatif. Misalnya, video dokumenter tentang proses pembuatan ketupat, kisah-kisah lokal, atau refleksi nilai spiritualnya. Dengan cara ini, media sosial tidak sekadar menjadi ruang konsumsi, tetapi juga produksi makna.

Di sisi lain bisa melalui revitalisasi ruang komunal. Perayaan Hari Raya Ketupat perlu didorong menjadi agenda kolektif yang melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk pemerintah desa, komunitas seni dan budaya, serta generasi muda. Kegiatan seperti lomba anyaman ketupat, festival kuliner tradisional, hingga diskusi budaya dapat menjadi medium untuk menghidupkan kembali semangat kebersamaan. Tradisi tidak hanya dipertahankan, tetapi dirayakan secara kontekstual khususnya di Madura.

Lebih jauh dapat kita potret, bahwa Hari Raya Ketupat juga memiliki relevansi dalam konteks pembangunan berkelanjutan. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya seperti kesederhanaan, kebersamaan, dan penghormatan terhadap alam (melalui penggunaan bahan alami seperti janur), hal ini sejalan dengan prinsip keberlanjutan. Dalam konteks ini, tradisi lokal bukan penghambat modernitas, melainkan sumber inspirasi untuk model pembangunan yang lebih humanis dan berakar pada budaya.

Oleh karena itu, memperkuat tradisi Hari Raya Ketupat di era disrupsi bukanlah soal mempertahankan bentuk lama secara kaku, melainkan merawat ruhnya agar tetap hidup dalam konteks baru. Tradisi yang mampu beradaptasi adalah tradisi yang akan bertahan. Masyarakat Madura memiliki kekayaan kultural yang luar biasa, tantangannya adalah bagaimana mentransformasikan kekayaan itu menjadi kekuatan yang relevan dengan zaman?

Melalui gagasan konseptual ini dapat dikatakan bahwa Hari Raya Ketupat dengan segala simbol dan praktiknya, hal ini cermin dari identitas kolektif. Tradisi ini mengajarkan bahwa di tengah perubahan yang cepat manusia tetap membutuhkan akar tempat berpijak, memahami diri, dan membangun relasi dengan sesama. Dalam dunia yang semakin individualistik, tradisi ini menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sejati sering kali lahir dari kebersamaan sederhana dengan berbagi ketupat, saling memaafkan, dan merawat hubungan antar sesama etnik Madura.

 


Editor: Achmad Firdausi