Menyongsong Bulan Bahasa Penuh Suka Cita
- Diposting Oleh Achmad Firdausi
- Selasa, 14 Oktober 2025
- Dilihat 609 Kali
Oleh: Dr. Moh. Hafid Effendy, M.Pd.
(Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Madura dan Ketua Yayasan Pakem Maddhu)
Setiap bulan Oktober, bangsa Indonesia memperingati Bulan Bahasa dan Sastra sebagai bentuk penghormatan atas peristiwa bersejarah Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, di mana bahasa Indonesia ditetapkan sebagai bahasa persatuan. Peringatan ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan momentum reflektif untuk meneguhkan kembali peran bahasa Indonesia dalam membangun jati diri, memperkuat persatuan, serta mendorong kemajuan bangsa. Dengan demikian, menyongsong Bulan Bahasa harus dilakukan dengan penuh suka cita, semangat kebersamaan, serta orientasi akademik dan kultural yang berimbang.
Bahasa memiliki kedudukan yang sangat strategis, baik sebagai alat komunikasi maupun sebagai wahana pengembangan ilmu pengetahuan. Bahasa Indonesia tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyampaian gagasan, tetapi juga sebagai simbol identitas dan kebanggaan nasional. Oleh karena itu, penyambutan Bulan Bahasa perlu dimaknai sebagai upaya meningkatkan kesadaran kolektif masyarakat tentang pentingnya menggunakan bahasa Indonesia yang baik, benar, sekaligus santun. Kesadaran ini dapat diwujudkan dalam berbagai aktivitas, mulai dari lingkungan pendidikan, keluarga, hingga ruang publik.
Kegiatan yang dihadirkan dalam Bulan Bahasa seyogianya tidak berhenti pada perlombaan formal semata, seperti pidato, baca puisi, atau cipta cerpen. Lebih jauh, kegiatan tersebut sebaiknya diarahkan pada penguatan ekosistem literasi yang berkelanjutan. Misalnya, melalui diskusi akademik tentang kebijakan bahasa, lokakarya penulisan karya ilmiah dan sastra, penerbitan karya kolektif, hingga kampanye literasi digital yang mengedepankan penggunaan bahasa Indonesia sesuai kaidah. Dengan demikian, Bulan Bahasa akan berfungsi tidak hanya sebagai ruang perayaan, tetapi juga sebagai laboratorium pembelajaran dan pengembangan kompetensi berbahasa.
Menyongsong Bulan Bahasa penuh suka cita juga berarti menanamkan semangat apresiasi terhadap keragaman bahasa daerah. Indonesia kaya dengan ratusan bahasa daerah yang menjadi khazanah budaya sekaligus sumber inspirasi bagi bahasa Indonesia. Dalam perspektif sosiolinguistik, bahasa Indonesia dan bahasa daerah tidak perlu dipertentangkan, melainkan diposisikan secara saling melengkapi. Bahasa daerah memperkaya ekspresi kultural, sedangkan bahasa Indonesia mengikat seluruh masyarakat dalam satu identitas kebangsaan. Dengan demikian, perayaan Bulan Bahasa harus membuka ruang dialog dan kolaborasi antara keduanya.
Selain itu, dinamika era digital menghadirkan tantangan tersendiri. Arus globalisasi, media sosial, dan teknologi kecerdasan buatan menyebabkan perubahan pola komunikasi masyarakat yang kerap mengabaikan kaidah berbahasa. Fenomena alih kode, campur kode, serta pemendekan kata seringkali mendominasi komunikasi daring. Menyambut Bulan Bahasa dengan penuh suka cita berarti pula merespons tantangan tersebut secara kreatif. Misalnya, dengan menciptakan konten digital yang inspiratif, edukatif, dan tetap memuliakan bahasa Indonesia.
Dengan demikian, menyongsong Bulan Bahasa penuh suka cita bukan hanya ekspresi seremonial, melainkan langkah konkret membangun budaya literasi, memperkokoh identitas nasional, serta meneguhkan posisi bahasa Indonesia di tengah arus globalisasi. Apabila momentum ini dimaknai secara mendalam, maka Bulan Bahasa akan melahirkan generasi yang tidak hanya bangga terhadap bahasanya, tetapi juga mampu menggunakan bahasa Indonesia sebagai sarana berpikir kritis, berkomunikasi efektif, dan berkontribusi dalam percaturan ilmu pengetahuan dunia.
Editor: Achmad Firdausi