Alamat

Jl. Raya Panglegur KM.4 Pamekasan

Telp./WA

+62 898-9700-500

Email

info@uinmadura.ac.id

Merawat Ungkapan Tradisional dalam Perspektif Budaya Madura

  • Diposting Oleh Achmad Firdausi
  • Senin, 22 September 2025
  • Dilihat 420 Kali
Bagikan ke

Oleh: Dr. Moh. Hafid Effendy, M.Pd.

(Dosen Tarbiyah UIN Madura dan Ketua Yayasan Pakem Maddhu)

Pernahkah Kita menggunakan parèbhâsan atau sering disebut cap-ocabhân Madhurâ dalam berinteraksi? Tentu jarang digunakan. Cap-ocabhân Madhurâ atau yang berada pada bingkai parèbhâsan termasuk salah satu bentuk kearifan lokal yang disebut ungkapan tradisional. Bentuk kearifan lokal tersebut hidup dan berkembang dalam masyarakat Madura. Dalam konteks budaya Madura, ungkapan tradisional tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, melainkan juga sebagai media penyampaian nilai, etika, dan pandangan hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi. Oleh karena itu, merawat ungkapan tradisional menjadi sebuah kebutuhan mendesak agar identitas budaya Madura tidak mengalami erosi di tengah arus globalisasi dan modernisasi.

Ungkapan tradisional dalam budaya Madura kerap hadir dalam bentuk peribahasa, pepatah, atau paribasan yang sarat dengan nilai moral, religius, serta filosofi kehidupan. Misalnya, ungkapan yang menekankan pentingnya kerja keras, (alako berrâ’ apello konèng),  penghormatan terhadap orang tua, dan keteguhan hati dalam menghadapi tantangan hidup. Ungkapan-ungkapan ini berfungsi sebagai instrumen pendidikan kultural yang membentuk pola pikir serta perilaku masyarakat Madura. Dengan demikian, ungkapan tradisional tidak sekadar susunan kata yang indah, melainkan refleksi dari identitas kolektif yang memperkuat solidaritas sosial.

Namun demikian, tantangan besar dihadapi pada era kontemporer. Generasi muda Madura cenderung lebih akrab dengan budaya populer global yang didukung oleh teknologi digital, sehingga penggunaan ungkapan tradisional semakin berkurang. Jika tidak dikelola dengan baik, ungkapan tersebut berpotensi punah dan hanya tersisa dalam catatan akademis. Maka dari itu, upaya pelestarian perlu diarahkan pada integrasi ungkapan tradisional ke dalam ruang-ruang pendidikan formal dan nonformal, serta media digital yang dekat dengan generasi muda.

Dalam perspektif budaya Madura, merawat ungkapan tradisional juga berarti menjaga kesinambungan nilai-nilai luhur yang melekat pada masyarakat. Upaya ini dapat diwujudkan melalui dokumentasi, kajian akademik, dan revitalisasi dalam praktik sosial sehari-hari. Misalnya, penggunaan ungkapan tradisional dalam pidato adat, pembelajaran bahasa daerah, maupun karya sastra kontemporer. Selain itu, kolaborasi antara pemerintah daerah, pesantren, dan komunitas budaya dapat memperkuat kesadaran kolektif bahwa ungkapan tradisional adalah warisan yang harus dihargai.

Dengan demikian, merawat ungkapan tradisional dalam budaya Madura bukan hanya persoalan melestarikan bahasa, melainkan juga menjaga eksistensi identitas kultural dan moralitas masyarakat. Ungkapan tradisional adalah jendela yang memperlihatkan cara pandang orang Madura terhadap kehidupan, sehingga keberlangsungannya menjadi pondasi penting bagi pembangunan kebudayaan yang berkarakter sekaligus adaptif terhadap perubahan zaman.

 


Editor: Achmad Firdausi