Alamat

Jl. Raya Panglegur KM.4 Pamekasan

Telp./WA

+62 898-9700-500

Email

info@uinmadura.ac.id

Menangkap Peluang Prestasi Bagi Mahasiswa di Pentas MTQ

  • Diposting Oleh Achmad Firdausi
  • Rabu, 17 September 2025
  • Dilihat 432 Kali
Bagikan ke

Oleh: Dr. Imam Amrusi Jailani, M.Ag.

(Ketua Program Studi Doktor Ilmu Syariah Pascasarjana UIN Madura)

Pada pertengahan September tahun ini, tepatnya dan tanggal 11 hingga 20, Lembaga  Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Jawa Timur menggelar hajatan MTQ ke-31 yang bertempat di kabupaten Jember. MTQ kali ini diikuti oleh semua kafilah dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur. Musabaqah Tilawatil Qur’an merupakan ajang yang menampilkan bakat yang berkaitan dengan seni membaca dan memahami Al-Qur’an. MTQ menjadi pagelaran untuk menunjukkan keahlian setiap peserta yang digelar oleh Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an yang secara formal dari tingkat kabupaten hingga nasional setiap 2 tahun sekali. MTQ digelar secara sistematis dan bertahap mulai dari penyaringan di tingkat kecamatan, kemudian diseleksi lagi di tingkat kabupaten, dan kabupaten menetapkan kafilah untuk semua cabang yang kemudian dikirim ke ajang provinsi. LPTQ provinsi menyeleksi dan menetapkan peserta setiap cabang untuk jadikan sebagai kafilah provinsi dan diutus ke level MTQ Nasional. Dari kejuaraan MTQ Nasional, sebagian dari para juara dipilih untuk menjadi delegasi Indonesia di ajang MTQ internasional.

Banyak cabang yang variatif dalam ajang MTQ serta dengan jenjang dan tingkat umur, dari belajar, mahasiswa dan sarjana. Pada tingkat anak-anak mempersembahkan cabang tilawah anak-anak, tartil, tahfidz 1 juz tilawah dan 5 juz tilawah. Pada tingkat pelajar mempersembahkan tilawah remaja, murottal remaja, tahfidz 10 juz dan 20 juz, MSQ (Musabaqah Syarhil Qur’an) dan MFQ (Musabaqah Fahmil Qur’an).

Sedangkan cabang yang bisa diikuti oleh seumuran mahasiswa adalah tilawah remaja, tahfidz 20 dan 30 juz, tafsir Al-Qur’an bahasa Indonesia, Arab dan Inggris. Kemudian qiro’ah murottal dan mujawwad, Khat (kaligrafi Arab) serta KTIQ (Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an), dan cabang tilawah cacat netra. Sedangkan mereka yang sudah sarjana bisa mengikuti pada tingkat tilawah dewasa, qiroah mujawbat dan murottal, serta Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an.

Sebenarnya banyak cabang yang membutuhkan keahlian akademik, seperti cabang tafsir Al-Qur’an dan Karya Tulis Ilmiah Alquran, yang cabang ini sebenarnya merupakan wilayah yang bisa diakses secara kompetitif oleh para mahasiswa. Akan tetapi pada kenyataannya mahasiswa yang bisa menangkap peluang prestasi pada cabang ini sangat minim, karena pada cabang tafsir dan karya tulis ilmiah sebagian masih diikuti oleh kalangan pelajar SMA/MA santri yang sebenarnya masih kurang mumpuni di dalam dua cabang ini. Namun perlu disyukuri, ternyata dengan pembinaan intensif mereka sudah melampaui kemampuan akademik mahasiswa. Bagaimana jika yang dibina itu berasal dari kalangan mahasiswa, tentu hasilnya akan jauh lebih membanggakan, karena mereka sudah terbiasa dengan hal-hal yang berkaitan dengan literasi dan karya tulis.

Belum lagi cabang yang lain seperti tilawah dewasa dan murottal – mujawwad, seharusnya mahasiswa bisa berkontribusi pada carang ini. Begitu pula pada cabang tahfidzul Qur’an 20 dan 30 juz bisa diakses oleh mahasiswa secara kompetitif yang telah berhasil menghafalkan Al-Qur’an 20 sampai 30 juz, karena di antara sekian banyak mahasiswa banyak yang mendapatkan beasiswa tahfidz dengan syarat hafal 20 sampai 30 juz Al-Qur’an. Mereka harus disupport untuk bisa menjadi bagian dari MTQ mulai dari tingkat kabupaten. Syukur-syukur bisa berprestasi hingga tingkat internasional. Dan tentunya prestasi itu bukan hanya membanggakan bagi diri mahasiswa itu, tentu saja orang tuanya, kabupaten, serta provinsi, akan tetapi juga bagi institusi gimana Mereka kuliah.

 


Editor: Achmad Firdausi