Alamat

Jl. Raya Panglegur KM.4 Pamekasan

Telp./WA

+62 898-9700-500

Email

info@uinmadura.ac.id

LPPM UIN Madura Dorong Dosen Perkuat Research Excellence melalui Metodologi dan Research Group

  • Diposting Oleh Achmad Firdausi
  • Kamis, 8 Oktober 2026
  • Dilihat 90 Kali
Bagikan ke

Pamekasan | Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Islam Negeri (UIN) Madura mendorong penguatan budaya riset di kalangan dosen melalui kegiatan “Accelerating Research Excellence: Penguatan Metodologi dan Optimalisasi Research Group” yang digelar di Ballroom Gedung Rektorat Lt.4 UIN Madura, Kamis (8/10/2026).

Kegiatan tersebut secara khusus diperuntukkan bagi dosen UIN Madura dengan jabatan fungsional Asisten Ahli dan Lektor yang belum berkualifikasi Doktor (Non-Doktor). Kegiatan menghadirkan Dr. Ahmad Hanif Asyhar, M.Si., dosen UIN Sunan Ampel Surabaya, sebagai narasumber, dengan Dr. Agik Nur Efendi, M.Pd., Kepala Pusat PKM UIN Madura, bertindak sebagai moderator. Sementara itu, kegiatan dibuka oleh Prof. Dr. H. Erie Hariyanto, M.H., Ketua LPPM UIN Madura.

Melalui kegiatan ini, LPPM UIN Madura tidak hanya menempatkan publikasi sebagai ukuran keberhasilan penelitian, tetapi mendorong terbentuknya ekosistem riset yang konsisten, kolaboratif, dan berdampak. Materi kegiatan dirancang dalam enam kerangka utama, yakni Research Excellence, Methodological Alignment, Solid Research Design, Research Group, Research Roadmap, dan Action Plan.

Dalam pemaparannya, Dr. Ahmad Hanif Asyhar menekankan bahwa research excellence merupakan sebuah perjalanan, bukan sekadar satu capaian. Publikasi tetap menjadi bagian penting dalam aktivitas akademik, tetapi tidak berdiri sendiri.

“Research excellence bukan sekadar tentang jumlah publikasi. Yang lebih penting adalah bagaimana penelitian memiliki pertanyaan ilmiah yang berkelanjutan, desain dan evidensi yang kuat, kolaborasi, serta dampak yang dapat diukur,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa kerangka research excellence yang diperkenalkan mencakup lima unsur yang perlu berjalan secara bersama, yaitu quality, coherence, collaboration, impact, dan sustainability. Kualitas berkaitan dengan kekuatan desain dan evidensi; coherence dengan kesinambungan agenda; collaboration dengan kepakaran yang saling melengkapi; impact dengan kontribusi ilmiah dan sosial; sedangkan sustainability menekankan keberlanjutan rangkaian penelitian.

Perspektif tersebut membawa peserta pada pemahaman bahwa banyaknya artikel yang dihasilkan belum otomatis menunjukkan research excellence apabila penelitian tersebut belum membangun body of knowledge yang memiliki benang merah dan kontribusi yang jelas.

Ahmad Hanif juga menyoroti kecenderungan penelitian yang terfragmentasi. Menurutnya, penelitian yang terfragmentasi membuat aktivitas, data, dan temuan studi berdiri secara terpisah. Sebaliknya, cumulative research memungkinkan pengetahuan dibangun secara bertahap karena penelitian baru berdiri di atas temuan, data, dan teori dari penelitian sebelumnya.

“Penelitian seharusnya tidak berdiri sendiri-sendiri. Kita perlu membangun cumulative research agar penelitian berikutnya dapat memperkuat temuan dan pengetahuan yang sudah ada,” katanya.

Dalam konteks tersebut, research roadmap menjadi instrumen penting untuk memastikan penelitian tidak berhenti sebagai daftar kegiatan tahunan. Research roadmap ditempatkan sebagai trajectory riset yang menunjukkan arah perkembangan penelitian dari masa lalu, kondisi saat ini, hingga target dan dampak yang ingin dicapai. Karena itu, research roadmap dibedakan dari research process yang menggambarkan tahapan teknis penelitian, seperti pertanyaan riset, desain, data, analisis, dan hasil.

Penguatan riset, menurut kerangka materi kegiatan, tidak dapat hanya dilakukan pada tingkat penelitian individual. Terdapat dua level yang perlu diperkuat secara bersamaan, yaitu level penelitian dan level ekosistem.

Pada level penelitian, penguatan mencakup pertanyaan riset, desain dan metode, data dan analisis, serta evidence dan claim. Sementara pada level ekosistem, penguatan mencakup research identity, research group, roadmap and portfolio, funding, output, dan impact. Kedua level tersebut dipandang sebagai satu kesatuan yang saling menguatkan.

Perspektif ekosistem tersebut juga diperkuat melalui pembelajaran dari Research Roadmap 2023–2032 University of Queensland yang menempatkan peneliti dan budaya riset, kapasitas inovasi, infrastruktur dan sistem, investasi dan kolaborasi, serta sumber daya sebagai bagian dari ekosistem yang menopang proses, keluaran, dan dampak penelitian.

Aspek lain yang menjadi perhatian adalah pengembangan research group. Menurutnya, research group tidak diposisikan sebagai sekadar kumpulan nama dosen, tetapi sebagai agenda penelitian bersama yang memiliki arah dan kesinambungan.

Sementara itu, penguatan research identity juga menjadi bagian penting. Peneliti diarahkan untuk membangun research niche melalui keterhubungan antara expertise, problem, context, agenda, dan roadmap.

“Dengan demikian, identitas akademik tidak hanya dibangun berdasarkan bidang keahlian, tetapi juga melalui kontribusi yang jelas terhadap persoalan tertentu dalam konteks tertentu,” tegas Dr. Ahmad Hanif Asyhar.

Kerangka tersebut kemudian dapat dikembangkan melalui research roadmap jangka menengah dan panjang. Dr. Ahmad Hanif Asyhar memberikan ilustrasi perkembangan agenda riset dari tahap understand, explain, develop, validate, hingga scale, sehingga penelitian dapat bergerak dari pemahaman masalah menuju pengembangan, validasi, implementasi, dan dampak.

Kegiatan Accelerating Research Excellence tidak berhenti pada penguatan pemahaman konseptual. Peserta diarahkan dari penguatan mindset dan methodological thinking menuju penyusunan roadmap, portfolio, dan action plan. Proses tersebut ditekankan untuk dimulai dari masalah dan research gap, bukan dari judul penelitian.

“Jangan memulai penelitian dari judul. Mulailah dari masalah dan research gap, kemudian tentukan pertanyaan penelitian, metode, roadmap, hingga action plan,” pungkasnya.

 


Penulis: Herlina Tria Sukmawati                           Editor: Achmad Firdausi