Alamat

Jl. Raya Panglegur KM.4 Pamekasan

Telp./WA

+62 898-9700-500

Email

info@uinmadura.ac.id

Dosen dan Mahasiswa Program Doktor Studi Islam UIN Madura Dorong Peningkatan Disiplin Higiene Pengelola Dapur SPPG Pamekasan

  • Diposting Oleh Achmad Firdausi
  • Jumat, 28 Agustus 2026
  • Dilihat 65 Kali
Bagikan ke

Pamekasan | Dosen dan mahasiswa Program Studi Studi Islam, Program Doktor UIN Madura melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Mandiri bertajuk “Edukasi Medis-Religi: Upaya Peningkatan Disiplin Perilaku Higiene Pengelolaan Dapur SPPG Pamekasan.” Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam meningkatkan kualitas pengelolaan dapur yang bersih, sehat, aman, dan berorientasi pada kemaslahatan masyarakat.

Kegiatan tersebut dilaksanakan bersama SPPG Akkor 2, Desa Akkor, Kecamatan Palengaan, Kabupaten Pamekasan, pada tanggal 15 Agustus 2026 pukul 13.00–16.00 WIB. Program ini menghadirkan dr. Sarah Marsa Tamimi sebagai narasumber untuk memberikan edukasi mengenai pentingnya penerapan perilaku higiene dalam pengelolaan makanan. Tim PkM Mandiri terdiri atas Prof. Dr. H. Zainuddin Syarif, M.Ag., Dr. H. Abdul Mukti Thabrani, Lc., M.H.I., Dr. H. Abdus Syakur, S.Ag., M.Pd., dan Rahemah, M.Pd., mahasiswa Program Doktor Studi Islam UIN Madura.

Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan edukasi mengenai kebersihan personal, penggunaan perlengkapan kerja, kebersihan peralatan, sanitasi lingkungan dapur, serta pentingnya menjaga keamanan makanan mulai dari proses persiapan, pengolahan, penyimpanan, hingga makanan didistribusikan kepada masyarakat.

Salah satu hasil penting dari kegiatan PkM ini adalah meningkatnya pemahaman peserta bahwa higiene pengelolaan makanan tidak cukup hanya dipahami sebagai kewajiban teknis, tetapi harus diwujudkan dalam perilaku kerja sehari-hari. Narasumber menekankan bahwa berbagai risiko kontaminasi makanan dapat muncul dari perilaku pengelola, kondisi peralatan, lingkungan dapur, maupun proses penyimpanan dan distribusi.

Menurut dr. Sarah Marsa Tamimi, hasil edukasi menunjukkan bahwa aspek yang perlu terus diperkuat dalam pengelolaan dapur SPPG adalah konsistensi perilaku higiene. Kebersihan harus menjadi kebiasaan kerja yang dilakukan sebelum, selama, dan setelah proses pengolahan makanan, bukan sekadar tindakan ketika terdapat pemeriksaan atau pengawasan. Ia juga  menjelaskan bahwa pengelola dapur memiliki posisi strategis dalam menjaga keamanan makanan karena setiap tahapan pengolahan memiliki potensi risiko apabila tidak dilakukan dengan prosedur kebersihan yang baik.

“Higiene dapur harus dimulai dari perilaku setiap individu. Tangan yang bersih, pakaian kerja yang bersih, peralatan yang higienis, serta lingkungan yang terjaga merupakan bagian penting untuk mencegah kontaminasi makanan, Makanan yang aman tidak hanya ditentukan oleh bahan yang digunakan, tetapi juga oleh bagaimana makanan tersebut diproses, disimpan, dan didistribusikan. Karena itu, kedisiplinan pengelola dapur menjadi sangat penting,” jelasnya.

Lebih lanjut, dr. Sarah Marsa Tamimi menegaskan bahwa penerapan higiene harus dilakukan secara konsisten sejak sebelum, selama, hingga setelah proses pengolahan makanan. Pengelola dapur perlu mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, mengenakan pakaian dan perlengkapan kerja yang bersih, memisahkan bahan mentah dan makanan matang, menjaga kebersihan peralatan, serta memastikan makanan tersimpan dalam wadah yang bersih dan tertutup.

“Menjaga higiene harus dimulai dari diri sendiri. Sebelum bekerja, pastikan tangan, pakaian, dan perlengkapan kerja dalam keadaan bersih. Selama proses pengolahan, pisahkan bahan mentah dengan makanan matang, gunakan peralatan yang bersih, dan cuci tangan setiap kali berpotensi terjadi kontaminasi. Setelah selesai bekerja, seluruh peralatan dan area dapur harus kembali dibersihkan dan ditata dengan baik,” jelas dr. Sarah.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga alur kerja dan lingkungan dapur agar tetap bersih, termasuk pengelolaan sampah serta kebersihan tempat penyimpanan dan distribusi makanan.

“Prinsipnya adalah bersih sebelum bekerja, bersih selama bekerja, dan bersih setelah bekerja. Jangan menunggu ada pemeriksaan baru menjaga kebersihan. Higiene harus menjadi kebiasaan dan budaya kerja setiap pengelola dapur karena makanan yang kita siapkan berkaitan langsung dengan kesehatan dan keselamatan masyarakat,” tegasnya.

Hasil kegiatan tersebut kemudian diarahkan pada beberapa tindak lanjut, yaitu penguatan kebiasaan kebersihan personal, peningkatan kedisiplinan penggunaan perlengkapan kerja, pemeliharaan kebersihan peralatan dan lingkungan dapur, serta penguatan kesadaran mengenai keamanan makanan pada setiap tahapan pengelolaan.

Ketua Tim PkM, Prof. Dr. H. Zainuddin Syarif, M.Ag., menegaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya diarahkan pada peningkatan pengetahuan tentang kesehatan, tetapi juga pembentukan kesadaran dan perilaku melalui integrasi nilai medis dan religi.

“Kami ingin edukasi higiene ini tidak berhenti pada pemahaman tentang kebersihan, tetapi benar-benar menjadi budaya kerja. Nilai-nilai medis dan religi kami integrasikan agar kebersihan dipahami sebagai bagian dari tanggung jawab kepada masyarakat. Kebersihan bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi juga memiliki dimensi keagamaan. Karena itu, menjaga kebersihan makanan dan lingkungan kerja dapat menjadi bagian dari bentuk tanggung jawab dan amanah dalam melayani masyarakat,” ungkapnya.

Pendekatan tersebut menjadikan higiene tidak semata-mata sebagai standar kesehatan, tetapi juga sebagai bagian dari nilai moral dan keagamaan. Pengelola dapur didorong untuk memandang tugas menyediakan makanan sebagai sebuah amanah yang harus dilakukan secara bertanggung jawab, karena makanan yang diproduksi berkaitan langsung dengan kesehatan masyarakat penerima manfaat.

Dari kegiatan edukasi dan diskusi bersama peserta, tim PkM menemukan bahwa aspek yang perlu diperkuat bukan hanya pengetahuan mengenai higiene, tetapi terutama pembiasaan dan kedisiplinan dalam menerapkan prinsip higiene secara konsisten. Pendekatan integratif tersebut menunjukkan bahwa ilmu keislaman dapat dikembangkan secara kontekstual dengan persoalan kesehatan dan kehidupan masyarakat. Nilai agama dapat menjadi penguat kesadaran dalam menjalankan perilaku hidup bersih, disiplin, bertanggung jawab, dan menjaga kemaslahatan bersama.

Melalui kegiatan PkM Mandiri tersebut, tim UIN Madura mendorong agar pengelola SPPG Akkor 2 semakin memahami pentingnya disiplin higiene dalam setiap aktivitas pengelolaan makanan. Edukasi diarahkan tidak hanya pada aspek kognitif atau peningkatan pengetahuan, tetapi juga pada perubahan sikap dan perilaku. Program ini sekaligus memperkuat sinergi antara UIN Madura, tenaga kesehatan, dan SPPG Akkor 2 dalam mewujudkan pengelolaan makanan yang berkualitas. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi kesehatan dan keamanan masyarakat penerima manfaat.

Kegiatan PkM Mandiri ini menjadi salah satu bentuk nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Melalui pendekatan edukasi medis-religi, UIN Madura berupaya menghadirkan model pengabdian yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan perilaku yang disiplin, bertanggung jawab, dan berlandaskan nilai-nilai keagamaan.

Dengan demikian, kegiatan ini diharapkan mampu berkontribusi terhadap terwujudnya dapur SPPG yang bersih, sehat, aman, dan berkualitas, sekaligus mendukung terciptanya masyarakat yang sehat dan memperoleh layanan makanan yang memenuhi prinsip kebersihan dan keamanan.

 


Editor: Achmad Firdausi