Alamat

Jl. Raya Panglegur KM.4 Pamekasan

Telp./WA

+62 898-9700-500

Email

info@uinmadura.ac.id

Catatan Reflektif Menyongsong HUT Ke-81 Republik Indonesia

  • Diposting Oleh Achmad Firdausi
  • Senin, 17 Agustus 2026
  • Dilihat 64 Kali
Bagikan ke

Oleh:

Dr. Moh. Hafid Effendy, M.Pd.

(Dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan)

 

Setiap tahun di bulan Agustus, bangsa ini mengulang sebuah ritus. Bendera dikerek, gapura dicat, lomba panjat pinang digelar di gang-gang sempit, dan pidato-pidato kenegaraan mengalun dari podium hingga layar telepon genggam. Namun di balik pengulangan yang tampak seremonial itu, ada pertanyaan yang layak diajukan kembali setiap kali usia republik bertambah: apa sebenarnya yang kita rayakan ketika kita merayakan kemerdekaan?

Delapan puluh satu tahun bukan angka yang kecil untuk sebuah bangsa yang lahir dari luka kolonialisme, dari darah yang tertumpah di berbagai front perjuangan, dan dari keberanian segelintir orang yang pada suatu pagi di bulan Ramadan tahun 1945 memutuskan bahwa penantian sudah cukup lama. Proklamasi bukanlah titik akhir, melainkan pembukaan sebuah kalimat panjang yang hingga kini belum selesai ditulis. Dan kemerdekaan bukan barang jadi yang diwariskan dan tinggal disimpan di lemari sejarah. Akan tetapi proyek masa lampau yang terus-menerus harus dikerjakan ulang oleh setiap generasi dengan bahan baku zamannya masing-masing.

Bung Hatta pernah mengingatkan bahwa kemerdekaan adalah jembatan emas, bukan tujuan akhir. Di seberang jembatan itu terletak cita-cita yang lebih besar, yakni keadilan sosial, kesejahteraan yang merata, dan martabat manusia yang terjaga. Delapan dekade kemudian, jembatan itu masih kita seberangi, dan sejujurnya sebagian dari kita masih berjalan, sebagian lain masih tertatih, dan ada pula yang belum sempat menapak. Maka merayakan kemerdekaan sesungguhnya adalah merayakan sebuah kata kerja, bukan kata benda. Kemerdekaan bukan status yang sekali diraih lalu selesai, melainkan tindakan yang harus terus dilakukan memerdekakan diri dari kemiskinan struktural, memerdekakan pikiran dari intoleransi, memerdekakan generasi muda dari kesenjangan akses pendidikan dan teknologi, serta memerdekakan alam dari eksploitasi yang rakus. Dalam konteks ini, upacara bendera setiap 17 Agustus semestinya bukan sekadar penghormatan pada masa lalu, melainkan pengingat akan pekerjaan rumah yang belum tuntas.

Ada godaan yang selalu hadir setiap Agustus tiba, yakni menjadikan perayaan kemerdekaan sebagai nostalgia belaka. Kita mengenang para pahlawan dengan haru, memutar lagu-lagu perjuangan, dan berhenti di situ, seolah kemerdekaan adalah museum yang cukup dikunjungi sekali setahun. Padahal semangat 45 justru menuntut sebaliknya, ungkapan keberanian menghadapi persoalan pada zamannya sendiri.

Generasi 1945 menghadapi penjajah bersenjata. Generasi hari ini menghadapi tantangan yang wajahnya berbeda namun daya rusaknya tak kalah nyata. Seperti krisis iklim yang mengancam pulau-pulau kecil kita, disrupsi teknologi dan kecerdasan buatan yang mengubah lanskap pekerjaan, polarisasi sosial yang dipicu oleh disinformasi di ruang digital, serta ketimpangan ekonomi yang masih menganga di antara kota dan desa, antara Jawa dan luar Jawa. Kemerdekaan ke-81 semestinya dirayakan dengan kesadaran bahwa perjuangan tidak pernah benar-benar berpindah tangan ke generasi berikutnya sebagai warisan pasif, melainkan sebagai estafet yang menuntut pelarian keringat dan pemikiran baru.

Di sudut lain ada satu hal yang membuat Indonesia istimewa di antara bangsa-bangsa lain, yakni keberagamannya yang luar biasa, dari Sabang sampai Merauke, dari ratusan suku dan bahasa, dari beragam agama dan kepercayaan yang hidup berdampingan. Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar semboyan yang tertulis di kaki burung Garuda, melainkan sebuah eksperimen kebangsaan yang berani menyatukan yang berbeda tanpa menyeragamkan dan merangkul yang plural tanpa memecah.

Di tengah dunia yang semakin terfragmentasi oleh identitas politik dan gelombang populisme sempit, Indonesia memiliki modal berharga berupa pengalaman panjang mengelola perbedaan. Namun modal ini tidak otomatis abadi. Hal ini perlu terus dirawat, terutama di ruang digital yang hari ini menjadi medan pertempuran baru bagi narasi kebangsaan. Merayakan HUT RI ke-81 berarti juga merayakan keberanian untuk tetap memilih persatuan di tengah godaan untuk saling curiga.

Anak-anak muda Indonesia hari ini tumbuh di dunia yang sama sekali berbeda dari dunia para pendiri bangsa. Mereka lahir dengan gawai di tangan, tumbuh dengan algoritma yang membentuk cara mereka berpikir dan berelasi. Ini adalah generasi yang oleh sebagian orang dianggap rentan, namun oleh yang lain dipandang sebagai kekuatan baru, yakni kreatif, adaptif, dan terhubung dengan dunia global secara instan.

Tugas bangsa ini adalah memastikan kemerdekaan turut hadir dalam ruang digital tersebut, kemerdekaan dari hoaks dan misinformasi, kemerdekaan untuk berpendapat secara sehat, dan kemerdekaan untuk mengakses ilmu pengetahuan tanpa terhambat oleh kesenjangan infrastruktur. Sebab kemerdekaan sejati bukan hanya soal bebas dari penjajahan asing, tetapi juga bebas dari penjajahan gagasan yang menyesatkan, dan bebas untuk tumbuh menjadi manusia yang berdaya. Maka bagaimana seharusnya kita merayakan 17 Agustus 2026 ini? Tentu boleh dengan gegap gempita melalui lomba-lomba rakyat yang mempertemukan tetangga yang jarang bertegur sapa, karnaval yang mewarnai jalanan, atau pentas seni yang menghidupkan kembali cerita perjuangan. Semua itu penting sebagai perekat sosial dan penanda kegembiraan kolektif. Namun di balik semua kemeriahan itu, ada baiknya kita menyisipkan jeda untuk merenung. Merenungkan bahwa kemerdekaan yang kita nikmati hari ini dibayar dengan harga yang tidak murah. Merenungkan bahwa masih ada saudara sebangsa yang belum sepenuhnya merasakan buah kemerdekaan itu, entah karena kemiskinan, keterbatasan akses kesehatan dan pendidikan, atau ketidakadilan struktural lainnya. Mari renungkan bahwa siapa pun dan di posisi apa pun memiliki peran dalam menyempurnakan proyek besar bernama Indonesia ini.

Delapan puluh satu tahun adalah usia yang cukup matang untuk sebuah bangsa mengevaluasi dirinya dengan jujur tanpa perlu larut dalam sinisme maupun terjebak dalam romantisme berlebihan. Kita boleh bangga pada apa yang telah dicapai, sembari tetap rendah hati mengakui apa yang belum tuntas.

Kemerdekaan bukan warisan yang selesai dibagikan pada 17 Agustus 1945. Hal  ini merupakan jembatan emas yang masih terus dibangun, disempurnakan, dan diseberangi oleh setiap generasi dengan caranya sendiri. Merayakan HUT RI ke-81 pada akhirnya adalah merayakan keberanian untuk terus berjalan di jembatan itu, sembari tak lupa menoleh ke belakang untuk mengenang mereka yang telah menanam pijakan pertamanya dengan pengorbanan yang tak ternilai. Selamat merayakan kemerdekaan. Selamat melanjutkan pekerjaan yang belum selesai. Dirgahayu Republik Indonesia ke-81. Merdeka.....!

 


Editor: Achmad Firdausi