“Ego Haji”: Penyakit Tersembunyi Namun Keberadaannya Nyata
- Diposting Oleh Achmad Firdausi
- Senin, 1 Juni 2026
- Dilihat 153 Kali
Oleh: Dr. H. Imam Amrusi Jailani, M.Ag.
(Pembimbing Ibadah Haji Kloter SUB 74 & Ketua Prodi. Doktor Ilmu Syariah UIN Madura)
Haji bagi kebanyakan masyarakat muslim merupakan sesuatu yang sangat didambakan bagi setiap muslim dan menjadi istimewa bagi siapapun yang berkesempatan untuk melaksanakannya. Malahan bagi sebagian masyarakat muslim menganggap bahwa haji itu segala-galanya, sehingga haji kadang di sebagian komunitas muslim dianggap sebagai sesuatu yang teristimewa, dengan julukan “haji” bagi yang sudah menunaikannya. Berbeda dengan ibadah rukun Islam lainnya, yang kurang diistimewakan, walau yang lain bukan berarti tidak istemewa, mungkin karena hanya sekali seumur hidup, dan lagi bagi yang mampu. Dalam kehidupan masyarakat, yang haji mendapatkan tempat tersendiri di tengah-tengah masyarakat dengan julukan “Pak Haji” ataupun “ibu Hajjah”, sementara mereka yang rajin shalat sekalipun tidak akan pernah dipanggil “mushalli” (orang yang shalat), dan mereka yang membayar zakat tidak akan pernah dipanggil “muzakki” (orang yang berzakat), serta yang sudah melaksanakan puasa juga tidak akan dipanggil “shoim” (orang yang puasa).
Itulah realitasnya kenapa haji itu selalu diburu oleh hampir setiap orang Islam, selain karena rukun Islam kelima, yang menjadikan keislaman seseorang menjadi sempurna dengan haji, juga karena ekspektasi umat atau masyarakat terhadapnya begitu tinggi, dengan sebutan “Pak Haji” atau mereka sudah sampai kepada strata masyarakat yang dianggap pantas untuk memakai “kopiah putih” sebagai simbol dari haji yang melekat pada diri seseorang. Itu semua jika ditinjau dari sudut pandang sosial dan penampakan fisik.
Jika ditinjau dari sudut psikis, haji terkadang bermetamorfosis menjadi sebuah “ego” bagi mereka yang sudah melakukan ibadah haji. Kebanyakan mereka meganggap dirinya sudah melakukan sesuatu yang menurut dirinya melebihi orang lain, bahkan sebagian dari mereka sudah merasa lebih alim dari kebanyakan orang yang belum haji. Bahkan di antara komunitas jemaah haji, mereka ingin selalu menunjukkan bahwa dirinya itu adalah lebih dari orang lain. Itulah yang dalam hal ini saya sebutkan dengan “ego haji” dengan kebanggaan sebutan Pak atau bu Haji. Sebagai contohnya saja, orang yang sewaktu dan selama di kampungnya tidak pernah menjadi imam shalat, tiba-tiba di sebuah musholla atau jemaah shalat, sebagian dari mereka tahu-tahu tampil ke depan sebagai Imam, walaupun bacaannya kurang sedap didengarkan telinga orang yang ahli qiro’ah. Begitu pula banyak dari mereka yang mendadak seakan piawai mengeluarkan hukum-hukum tentang haji atau yang lainnya yang seakan-akan mereka itu sudah mengerti segala-galanya tentang hal ini dan ingin menggurui orang lain dalam persoalan haji.
Begitulah “ego haji” itu dengan secara serta merta terinjeksi ke dalam diri atau jiwa seseorang yang sedang atau sudah melakukan haji, sehingga dirinya minimal sudah sejajar dengan mereka yang sudah haji lebih duluan atau dengan ustadz dan kyai yang sudah ia kenal sebelumnya. Ego haji selalu menyeret tuannya untuk selalu merasa superioritas mengungguli mereka yang belum haji, bahkan perasaan selalu ingin dihormati sebagai orang yang sudah haji, selalu ingin dianggap dirinya sam[ai pada level tinggi. Ego haji itu juga akhirnya akan menyeret mereka dalam kehidupan sosial di mana mereka sudah mulai merangsek ke derajat kehidupan yang dianggap lebih spektakuler dan sensasional dengan haji yang sudah melekat pada dirinya, dan itu terkadang semakin lama semakin akut dan semakin menggerogoti akhlakul karimah yang telah dipertahankannya sejak lama. Hinggapnya ego haji pada diri seseorang sudah mulai menipiskan akhlakul karimah pada dirinya. Dan jika itu tidak disadari maka lama-kelamaan mereka akan semakin tenggelam dalam ego haji tersebut.
Tentunya keadaan seperti itu harus segera disadari dan perlahan-lahan harus sudah di-refresh untuk kembali pada jalur akhlakul karimah lagi, dengan cara menyadari bahwa kedudukan setiap hamba itu adalah sama di hadapan Allah, dan yang membedakan mereka hanyalah ketakwaan. Kemudian hendaklah harus disadari bahwa bukan hanya haji yang bisa mengantarkan seorang beriman untuk masuk surga. karena kuncinya surga itu adalah kalimat tauhid, dengan syarat iman, maka Allah menjanjikan kepada siapa yang membaca kalimat tauhid, menegakkan shalat, membayar zakat, berpuasa, dan juga ibadah-ibadah yang lain, berpotensi untuk masuk surga. Demikian pula kesadaran tentang kewajiban dirinya sebagai hamba Allah, bahwa haji itu adalah salah satu rukun Islam yang menjadi kewajiban bagi mereka yang sudah mampu. Maka mereka yang mampu mengerjakannya mendapatkan pahala, dan berdosa jika tidak mengerjakan.
Sementara bagi yang mereka yang tidak wajib untuk menunaikan haji dan mereka tetap sebagai hamba Allah yang kedudukannya sama setara dengan yang lain yang sudah haji atau yang tidak haji. Mereka yang haji jangan kemudian mengklaim bahwa hanya mereka yang akan melenggang ke surga, sementara yang tidak haji hanya akan mengantri belakangan. Itu hanya klaim sepihak, karena urusan surga itu adalah urusan Allah. Dan Allah berkehendak untuk memasukkan setiap hamba-Nya dalam surga-Nya sesuai dengan kehendak-Nya. Oleh karena itu “ego haji” harus disikapi secara bijak dan sebagai sebuah tindakan preventif adalah kesadaran kita sendiri tentang diri kita ini sebenarnya siapa, bagaimana posisi kita di hadapan Allah dan dihadapan sesama hamba Allah Subhanahu wa Ta'ala. Maka jika sudah sampai pada level seperti itu, seseorang akan bisa mengabaikan “ego haji” dan tidak akan pernah meruntuhkan dan juga menggeser akhlakul karimah yang melekat pada dirinya. (Mekkah, 1 April 2026/15 Dzulhijjah 1447 H).
Editor: Achmad Firdausi