Alamat

Jl. Raya Panglegur KM.4 Pamekasan

Telp./WA

+62 898-9700-500

Email

info@uinmadura.ac.id

Urgensi Pembekalan

  • Diposting Oleh Achmad Firdausi
  • Senin, 11 Mei 2026
  • Dilihat 365 Kali
Bagikan ke

Oleh: Dr. H. Imam Amrusi Jailani, M.Ag.

(Ketua Program Studi Doktor Ilmu Syariah Pascasarjana UIN Madura)

Penyelenggaraan ibadah haji sudah memasuki tahapan pemberangkatan jemaah haji dari tanah air ke tanah suci Mekkah dan Madinah. Tahapan ini merupakan tahapan yang melibatkan beberapa pihak termasuk panitia penyelenggara ibadah haji, baik yang bertugas di asrama haji embarkasi Surabaya maupun para petugas yang menyertai jamaah haji, yang disebut petugas haji kloter, yang terdiri dari ketua kloter, pembimbing ibadah haji kloter dan petugas kesehatan haji kloter. Semua petugas tersebut bertugas menyertai jemaah mulai dari pemberangkatan dari embarkasi Surabaya menuju tanah suci Mekkah dan Madinah serta kepulangan kembali dari tanah suci ke demarkasi Surabaya. Sementara di tanah suci jemaah nantinya akan disambut oleh para petugas haji Arab Saudi yang sering disebut dengan petugas haji non kloter.

Pemberangkatan jemaah haji akan memberangkatkan ratusan bahkan ribuan kloter atau kelompok terbang, di mana satu kloter minimal akan membawa 380 jemaah, dan juga 450 jemaah, sesuai dengan kapasitas maskapainya. Tentunya mereka harus dipersiapkan secara matang, karena akan menjalani ritual atau ibadah haji yang selama ini belum pernah dialami dan dilakukan oleh mereka. Lebih dari itu perjalanan ibadah haji akan diikuti oleh banyak jemaah yang terdiri dari latar belakang yang berbeda yang tentunya mereka memiliki tingkat pemahaman yang berbeda pula mengenai ibadah haji. Begitu pula tingkat kemampuan mereka secara fisik, mental dan mungkin juga finansial amat beragam. Ada yang sehat, ada yang kurang sehat. Ada yang menderita penyakit, ada yang bahkan berisiko tinggi penyakitnya. Keanekaragaman kondisi dari jemaah memerlukan persiapan yang matang. Oleh karena itu Kementerian Haji dan Umroh Republik Indonesia serta Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umroh (KBIHU) saling bau membawa, saling melengkapi untuk membekali para jemaah yang Salah satunya ialah dengan cara memberikan pembekalan kepada mereka.

Pembekalan itu sangat penting bukan hanya bagi petugas penyelenggara ibadah haji yang sudah melalui beberapa tahapan mendapatkan pembekalan, baik melalui diklat dan bimtek atau bimbingan teknis untuk menjadi petugas haji yang amanah dan bertanggung jawab. Begitu pula dengan para jemaah haji harus diberi pembekalan agar mereka paham tentang perjalanan haji dan proaktif menciptakan suasana yang enak, damai dan menyenangkan selama dalam perjalanan dan dalam melaksanakan manasik haji di Haromain.

Pembekalan memang seringkali dikonotasikan dengan keberadaan sejumlah materi yang dijadikan bekal selama perjalanan berangkat menunaikan ibadah haji dan bekal hidup selamat tinggal di Mekkah dan Madinah selama 40 hari. Makanya orang sering mempertanyakan bekal yang dibawa oleh jemaah haji adalah sejumlah finansial, keuangan, makanan, bahkan kebutuhan-kebutuhan lain selama melaksanakan ibadah haji. Akan tetapi kebetulan yang terpenting adalah pembekalan mental, berupa kesiapan dalam melaksanakan ibadah haji itu sendiri, karena haji itu adalah mengharapkan ridho Allah, Ridho Allah hanya akan bisa digapai oleh mereka yang bisa meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Sebaik-baik bekal adalah bekal taqwa. Hal tersebut selaras dengan firman Allah dalam surah al-Taubah, ayat 197:

اَلْحَجُّ اَشْهُرٌ مَّعْلُوْمٰتٌ ۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيْهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوْقَ وَلَا جِدَالَ فِى الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوْا مِنْ خَيْرٍ يَّعْلَمْهُ اللّٰهُ ۗ وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ

“(Musim) haji itu (berlangsung pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi.58) Siapa yang mengerjakan (ibadah) haji dalam (bulan-bulan) itu, janganlah berbuat rafaṡ,59) berbuat maksiat, dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji. Segala kebaikan yang kamu kerjakan (pasti) Allah mengetahuinya. Berbekallah karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat.”

Suatu ketika Rasulullah pernah ditanya oleh para sahabat yang hendak menjalankan ibadah umroh. Maka sahabat memberanikan diri bertanya kepada Rasul. Kami ini akan melaksanakan ibadah umroh, apakah layak atau boleh bagi kami membawa bekal dalam melaksanakan ibadah? Maka kemudian Rasulullah menjawab bahwa boleh membawa bekal secukupnya. Akan tetapi bekal yang terbaik adalah taqwa. Dan inilah yang menjadi sebab turunnya ayat di atas yang menegaskan bahwa bekal terbaik itu adalah taqwa, apalagi selama menjalankan ibadah haji di bulan-bulan haji. Oleh karena itu, para Petugas Penyelenggara Ibadah Haji, dalam setiap kesempatan selalu memberikan pembekalan, walau tinggal satu hari penerbangan tetap semangat memberikan pembekalan di AHES (Asrana Haji Embarkasi Surabaya). Semoga dengan bekal taqwa, haji kita seluruh jemaah haji, baik yang dari Indonesia maupun di seluruh dunia akan diberi anugerah haji mabrur oleh Allah subhanahu wa ta'ala

10 Mei 2026, Asrama Haji Surabaya

Pembimbing Ibadah Haji Kloter 74

 


Editor: Achmad Firdausi