Merawat Kampus Taneyan Lanjheng sebagai Rumah Ekologis Bersama
- Diposting Oleh Achmad Firdausi
- Kamis, 21 Mei 2026
- Dilihat 144 Kali
Oleh: Dr. Eva Nikmatul Rabbianty, M.Pd.
(Kepala UPT Bahasa & Dosen Tadris Bahasa Inggris FTIK UIN Madura)
Kampus seyogyanya bukan sekadar tempat berlangsungnya tridarma perkuliahan, layanan administrasi, penelitian serta pengabdian, dan kegiatan akademik lainnya. Namun, kampus selayaknya adalah ruang hidup bersama yang setiap hari dibentuk oleh cara kita berpikir, bekerja, berinteraksi, dan memperlakukan lingkungan sekitar. Dengan kata lain, kualitas sebuah kampus tidak hanya akan diukur dari gedungnya, fasilitasnya, prestasi akademiknya, ataupun capaian kelembagaannya, tetapi juga dari kesadaran warganya dalam menjaga kebersihan, kenyamanan, ketertiban, dan keberlanjutan lingkungan hidupnya.
Dalam konteks Kampus Taneyan Lanjheng, kesadaran ekologis memiliki makna yang sangat penting. Sebagai perguruan tinggi keislaman, kampus ini memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan lingkungan akademik yang bersih, sehat, tertib, dan ramah terhadap alam. Kita sadari bersama bahwa nilai-nilai Islam mengajarkan kebersihan, kesederhanaan, keseimbangan, tanggung jawab, serta larangan untuk berbuat kerusakan. Dengan demikian, kepedulian terhadap lingkungan kampus seharusnya tidak dipandang sebagai program tambahan, tetapi sebagai bagian dari pengamalan nilai keislaman dalam kehidupan akademik sehari-hari.
Gagasan kampus hijau perlu dimaknai secara lebih luas, bukan hanya sebagai keberadaan pepohonan, taman yang indah, atau ruang terbuka yang nyaman. Kampus hijau seharusnya tampak dalam budaya sehari-hari seperti, membuang sampah terpilah pada tempatnya dan mengolahnya dengan bijak, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menghemat air dan listrik, menjaga kebersihan ruang belajar dan ruang kerja, serta memilih cara berkegiatan yang tidak menambah beban lingkungan. Bahkan, pelayanan di kantin kampus pun tidak boleh luput dari perhatian, terutama dalam penggunaan kemasan dan pengelolaan sampah konsumsi. Dalam kehidupan kampus sehari-hari, hal-hal yang seolah olah sederhana seperti tersebut diatas, masih perlu terus diperkuat sebagai kebiasaan kolektif. Hal ini tentu tidak perlu dipahami sebagai kesalahan pihak tertentu, melainkan sebagai bahan refleksi bersama bahwa kampus hijau adalah budaya yang harus hadir dalam kebijakan, layanan, pembelajaran, kegiatan kemahasiswaan, dan tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten oleh seluruh unsur kampus.
Kebersihan kampus tidak mungkin hanya diserahkan kepada petugas kebersihan. Mereka memang memiliki peran yang sangat penting, tetapi budaya bersih tidak akan terbentuk jika warga kampus belum ikut mengurangi sumber persoalan. Jika sampah masih dibuang sembarangan, ruang kegiatan ditinggalkan dalam keadaan kotor, atau konsumsi kegiatan menghasilkan banyak limbah, maka beban menjaga kebersihan menjadi tidak seimbang. Kampus yang bersih lahir dari kerja bersama antara petugas yang menjalankan tugasnya, dari mahasiswa yang menjaga ruang belajarnya, dari dosen yang memberi teladan, dari tenaga kependidikan yang mendukung sistem, dan dari seluruh warga kampus yang merasa memiliki lingkungan tempatnya beraktivitas.
Karena itu, merawat Kampus Taneyan Lanjheng sebagai rumah ekologis bersama perlu dimulai dari kesadaran personal setiap warga kampus dengan perannya masing-masing. Tindakan sederhana seperti membawa botol minum sendiri, menggunakan kertas secara bijak, mematikan lampu dan pendingin ruangan setelah digunakan, membuang sampah sesuai tempatnya, menjaga tanaman, serta membersihkan ruang setelah kegiatan adalah bentuk kontribusi nyata yang dapat dilakukan oleh siapa pun.
Komitmen ekologis juga perlu tampak dalam budaya berkegiatan dalam kampus taneyan Lanjheng seperti dalam kegiatan rapat, seminar, pelatihan, kuliah umum, kegiatan kemahasiswaan, dan acara kelembagaan dapat mulai menerapkan prinsip ramah lingkungan secara lebih nyata. Misalnya, pemilihan konsumsi kegiatan dapat diarahkan pada kemasan yang lebih ramah lingkungan dan menghindari plastik sekali pakai. Air minum dalam kemasan plastik dapat dikurangi dengan menyediakan galon, dispenser, atau mendorong peserta membawa tumbler. Jenis konsumsi juga dapat dipilih secara lebih bijak, tidak berlebihan, dan tidak menghasilkan banyak sampah.
Hal serupa juga dapat diterapkan dalam pemberian ucapan selamat berupa hadiah, dan atribut kegiatan. Perlu disarankan bahwa ucapan selamat tidak harus selalu diwujudkan dalam bentuk barang yang berakhir sebagai limbah. Akan lebih bijak kiranya jika kita memilih ucapan selamat berupa ucapan digital, kartu sederhana yang dapat didaur ulang, tanaman hidup, buku, produk lokal ramah lingkungan, atau hadiah yang memiliki nilai guna jangka panjang. Jika memungkinkan banner kegiatan yang sudah mulai digantikan dengan desain digital perlu tetap menjadi pilihan utama yang lebih ekologis. Jika banner fisik tetap diperlukan, penggunaannya dapat dibuat lebih efisien, tidak berlebihan, dan dirancang agar dapat digunakan kembali. Perubahan kecil seperti ini menunjukkan bahwa kepedulian lingkungan tidak hanya berada dalam wacana, tetapi masuk ke dalam keputusan-keputusan praktis sehari-hari.
Para dosen dapat mengambil peran melalui keteladanan dan pembelajaran dari dalam ruang kelas, dengan menghadirkan isu lingkungan sebagai bahan diskusi, tugas, proyek, atau refleksi akademik. Mereka dapat mengajak para mahasiswa untuk memahami bahwa menjaga lingkungan bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga persoalan etika, spiritualitas, dan tanggung jawab sosial. Dengan demikian, kampus tidak hanya menghasilkan lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga pribadi yang memiliki kepekaan terhadap keberlanjutan kehidupan.
Mahasiswa juga memiliki posisi strategis sebagai penggerak budaya ramah lingkungan. Kita dapat mengembangkan gerakan sederhana yang berdampak dengan melibatkan organisasi mahasiswa, komunitas, dan kelas-kelas perkuliahan dengan mengadakan kegiatan seperti kampanye bebas plastik, bank sampah, Jumat bersih, penggunaan tumbler, pengelolaan sampah organik, atau proyek kreatif berbasis lingkungan. Gerakan-gerakan tersebut akan lebih bermakna apabila dilakukan secara BERKELANJUTAN dan menjadi bagian dari identitas kegiatan mahasiswa, bukan hanya muncul pada momentum tertentu.
Selain kesadaran individu dari masing-masing warga kampus, dukungan kelembagaan tetap sangat diperlukan karena pembiasaan perilaku ramah lingkungan akan lebih mudah terbentuk jika didukung oleh sistem dan kebijakan yang jelas. Misalnya, kebijakan dan sistem yang mengatur penyediaan tempat sampah terpilah, sistem pengelolaan sampah terpilah yang tepat, pengurangan plastik dalam kegiatan resmi, pengelolaan sampah kegiatan, perawatan ruang terbuka hijau, efisiensi penggunaan listrik dan air, serta evaluasi kebersihan di setiap unit dapat menjadi langkah konkret. Dengan kebijakan dan sistem yang jelas maka kepedulian lingkungan tidak hanya bergantung pada kesadaran personal, tetapi menjadi bagian dari tata kelola kampus.
Namun, sistem dan fasilitas tidak akan cukup tanpa KETELADANAN. Setiap kegiatan kampus seharusnya menjadi ruang untuk menunjukkan KOMITMEN ekologis. Lokasi kegiatan perlu dipastikan kembali bersih setelah digunakan. Sampah kegiatan perlu dikumpulkan dan dikelola dengan baik. Dekorasi yang menghasilkan banyak limbah dapat dikurangi. Kebiasaan hemat listrik, hemat air, dan tertib menggunakan fasilitas perlu terus dibangun. Jika hal-hal ini dilakukan secara perlahan tetapi KONSISTEN, pesan tentang kampus hijau akan terasa lebih nyata dan mudah diikuti.
Merawat lingkungan kampus juga memerlukan keberanian untuk saling mengingatkan dengan cara yang santun. Budaya ekologis tidak akan tumbuh melalui sindiran, kemarahan, atau saling menyalahkan. Tetapi budaya tersebut tumbuh melalui ajakan, contoh, pembiasaan, dan kesediaan untuk berubah. Ketika melihat sampah tidak pada tempatnya, kita dapat mulai dari diri sendiri untuk mengambil dan membuangnya. Ketika melihat kegiatan yang menghasilkan banyak sampah, kita dapat mengusulkan cara yang lebih ramah lingkungan. Ketika melihat kebiasaan boros energi, kita dapat mengingatkan dengan bahasa yang baik. Perubahan besar sering kali lahir dari tindakan kecil yang dilakukan berulang-ulang.
Kampus Taneyan Lanjheng memiliki modal besar untuk membangun budaya ekologis. Lokasi kampus Taneyan Lanjheng yang berada di daerah Madura dengan identitas keislaman, tradisi akademik, semangat pengabdian, yang kental dapat menjadi kekuatan untuk mengembangkan kampus yang lebih bersih, sehat, dan ramah lingkungan. Namun sebenarnya, kampus hijau tidak perlu dipahami sebagai proyek yang mahal dan sulit untuk diwujudkan. Kita dapat memulainya dari ruang kelas, ruang kantor, halaman fakultas, kantin, masjid, perpustakaan, laboratorium, dan setiap sudut kampus yang kita gunakan bersama.
Pada akhirnya, mewujudkan Kampus Taneyan Lanjheng sebagai rumah ekologis bersama adalah panggilan bagi kita semua. Kampus ini adalah tempat kita belajar, bekerja, melayani, bertumbuh, dan memberi manfaat. Maka, sudah sepantasnya kita menjaganya dengan penuh tanggung jawab. Kepedulian lingkungan tidak boleh berhenti sebagai SLOGAN, tetapi perlu menjadi KEBIASAAN yang hidup dalam PERILAKU sehari-hari.
Mari kita mengambil bagian sesuai peran masing-masing. Mari mulai dari hal yang sederhana, dari diri sendiri, dari ruang terdekat, dan dari hari ini. Jika seluruh sivitas akademika bergerak bersama, Kampus Taneyan Lanjheng dapat menjadi kampus yang bukan hanya unggul dalam ilmu dan nilai, tetapi juga menjadi rumah ekologis yang bersih, nyaman, sehat, dan mencerminkan akhlak kepedulian terhadap ciptaan Allah.
Editor: Achmad Firdausi