Mengungkap Nilai-Nilai Ekoteologi dalam Bingkai Rumah Adat Tanèyan Lanjhâng
- Diposting Oleh Achmad Firdausi
- Senin, 11 Mei 2026
- Dilihat 123 Kali
Oleh: Dr. Moh. Hafid Effendy, M.Pd.
(Dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan)
Di tengah arus modernisasi yang kian deras, masyarakat Madura sesungguhnya memiliki warisan budaya yang tidak hanya kaya secara arsitektural, tetapi juga kaya dengan nilai spiritual dan ekologis. Salah satu manifestasi penting dari kearifan lokal tersebut, yakni rumah adat Madura yang disebut Tanèyan Lanjhâng, pola permukiman tradisional khas Madura yang mencerminkan hubungan harmonis dan bersahaja antara manusia, Tuhan, sesama, dan kosmologi (alam). Dalam perspektif ekoteologi, Tanèyan Lanjhâng bukan sekadar susunan rumah keluarga besar, melainkan representasi teologis tentang bagaimana manusia hidup secara beretika di bumi dan bersahabat dengan lingkungan.
Tanèyan Lanjhâng dibangun memanjang dari barat ke timur, biasanya dihuni oleh beberapa generasi dalam satu garis keturunan. Mushalla atau kobhung ditempatkan di bagian barat sebagai pusat spiritual, hal ini menunjukkan bahwa orientasi kehidupan masyarakat Madura selalu bermula dari nilai ketuhanan seperti ungkapan patennang bâdâ Allah dan paburu ka paddhu. Penempatan ini menegaskan prinsip bahwa relasi ekologis harus dibangun di atas fondasi religius. Dalam konteks ini, alam tidak dipandang sebagai objek eksploitasi, melainkan amanah Ilahi yang wajib dijaga, dirawat, dan dipertahankan.
Konsep ruang terbuka di halaman panjang Tanèyan Lanjhâng juga merefleksikan kesadaran ekologis masyarakat tradisional Madura. Halaman bukan hanya ruang sosial, tetapi juga area resapan, tempat tumbuh tanaman produktif, serta sarana interaksi alami antaranggota keluarga. Keterbukaan ruang ini menunjukkan bahwa manusia Madura tradisional memahami pentingnya keseimbangan lingkungan sebagai bagian dari keberlanjutan hidup. Mereka hidup dengan prinsip secukupnya, memanfaatkan sumber daya alam tanpa merusak ekosistem. Namun, problematika muncul ketika modernisasi menghadirkan pola hidup individualistik dan materialistik. Banyak generasi muda Madura mulai meninggalkan konsep Tanèyan Lanjhâng dan beralih pada model hunian modern yang terfragmentasi. Akibatnya, nilai kebersamaan, spiritualitas ekologis, dan kearifan lingkungan semakin terkikis. Lahan-lahan produktif berubah fungsi menjadi bangunan komersial, sementara kesadaran ekologis sering kalah oleh kepentingan ekonomi jangka pendek.
Persoalan lainnya adanya cara pandang yang minim literasi budaya dan ekoteologi di tengah masyarakat. Rumah adat sering dipahami hanya sebagai simbol tradisi masa lalu, bukan sebagai sumber pengetahuan ekologis yang relevan dengan krisis lingkungan hari ini. Padahal, Madura menghadapi tantangan serius seperti kekeringan, degradasi lahan, dan keterbatasan sumber daya air yang membutuhkan solusi berbasis budaya lokal. Karena itu, revitalisasi nilai-nilai Tanèyan Lanjhâng menjadi penting. Karena pendidikan budaya berbasis lokal harus diperkuat, baik di pesantren, sekolah, maupun komunitas masyarakat. Generasi muda perlu dikenalkan bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari ibadah dan identitas budaya. Di sisi lain, pemerintah daerah perlu mendorong pelestarian kawasan Tanèyan Lanjhâng sebagai model pembangunan berkelanjutan berbasis tradisi. Program konservasi budaya seharusnya tidak berhenti pada aspek fisik bangunan, tetapi juga menghidupkan kembali nilai sosial-ekologisnya. Bahkan tokoh agama dan budayawan Madura perlu membangun narasi ekoteologi yang kontekstual, bahwa krisis lingkungan bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga krisis moral-spiritual. Islam yang hidup dalam budaya Madura memiliki potensi besar untuk menanamkan etika lingkungan melalui khutbah, pendidikan keagamaan, dan tradisi sosial.
Tanèyan Lanjhâng mengajarkan bahwa rumah bukan sekadar tempat tinggal, tetapi ruang peradaban ekologis. Hal ini dapat dipertegas bahwa manusia tidak hidup sendiri, melainkan bersama keluarga, masyarakat, alam, dan Tuhan. Dalam situasi krisis iklim global, kearifan lokal seperti ini justru menjadi sumber inspirasi penting.
Masyarakat Madura perlu merefleksi kembali warisan leluhurnya, bukan dengan cara pandang modern dapat meninggalkan masa lalu, tetapi dengan kesadaran masa depan yang perlu dipertahankan. Tanèyan Lanjhâng adalah cermin, bahwa tradisi lokal mampu menawarkan solusi ekologis yang berakar kuat pada spiritualitas. Melalui upaya menghidupkan kembali nilai-nilai ekoteologi tersebut, Madura tidak hanya menjaga identitas budayanya, tetapi juga berkontribusi pada pembangunan masyarakat yang lebih berkelanjutan, religius, dan harmonis dengan alam sekitarnya.
Editor: Achmad Firdausi