Mashur Abadi Pengabdi Ilmu Sejati
- Diposting Oleh Achmad Firdausi
- Senin, 25 Mei 2026
- Dilihat 371 Kali
Oleh: Prof. Dr. Nor Hasan, M.Ag.
(Dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Madura)
UIN Madura lagi-lagi kehilangan putra terbaiknya setelah wafatnya: Dr. Moh. Hefni, M.Ag., Dr. Taufiqurrahaman,M.Pd., Dr. Edi Susanto,M.Fil.I, dan Prof. Dr. Moh Kosim, M.Ag. serta para dosen lainnya yang banyak berjasa bagi UIN Madura, kini menyusul Mashur Abadi (Jum’at 22 Mei 2026).
Saya mengenal Mashur Abadi sejak di IAIN Sunan Ampel Surabaya, karena saya dan beliau satu almamater yaitu di Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel yang sekarang menjadi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Perkenalan saya dengan beliau berlanjut selama kurang lebih 32 tahun, sejak tahun 1994 ketika saya diangkat menjadi PNS di IAIN Sunan Ampel Cabang Pamekasan, beliaulah yang menyapa saya pertama kali dengan penuh keakraban. Sebagai yunior saya banyak berguru kepada beliau dalam banyak hal.
Dalam rentang waktu yang panjang itu, saya menyaksikan sendiri bagaimana beliau menjadi sosok pengabdi ilmu yang setia, tekun, dan konsisten memperjuangkan gagasan-gagasannya. Hampir semua buku perpustakaan di IAIN Sunan Ampel Surabaya dibacanya, sehingga beliau memiliki literasi yang kuat dengan kemampuan Bahasa Arab dan Bahasa Ingris. Mashur bukan hanya seorang akademisi, tetapi juga seorang pencinta pengetahuan yang menjadikan ilmu sebagai jalan pengabdian hidup.
Salah satu hal yang paling melekat dari diri Mashur adalah sikapnya yang Ulet—teguh, telaten, dan tidak mudah menyerah dalam mengembangkan pemikiran. Di berbagai forum diskusi Mashur selalu hadir, aktif memberi ide-ide baru dan pencerahan. “Ini point” –ciri khas Mashur—saat akan mengajukan gagasan atau ide-ide barunya. Ketika banyak orang berhenti pada wacana, beliau justru bergerak menjadikannya karya nyata.
Dimana beliau diposisikan selalu muncul Gerakan-gerakan baru yang menunjukkan konsistensi keilmuannya. Konsistensi itu salah satunya tampak ketika beliau menjadi pimpinan redaksi Jurnal Karsa dalam perjuangannya mengembangkan kajian ke-Madura-an yang kemudian melahirkan “Madurologi” enam volume dalam jurnal ilmiah Karsa. Bagi beliau, Madura bukan sekadar identitas geografis, melainkan ruang intelektual dan kebudayaan yang harus terus digali, diteliti, dan diwariskan. Jurnal ini kata beliau sudah melahirkan banyak guru Besar, walaupun saya sendiri belum Guru Besar, disertai Tawa khasnya.
Perhatian beliau terhadap sejarah Islam lokal juga sangat kuat. Suatu waktu saya berdiskusi kecil bersama beliau tentang Sejarah Islam Madura, saya sempat bertanya kepada beliau tentang pasean, nama salah satu desa di Pamekasan“Mas apa tidak mungkin Pasean itu ada hubungannya dengan Pasai sebagai Kerajaan Tertua setelah Perlak” Sebagai ilmuan yang belatar belakang Sejarah –karena saya dan Mashur, sama-sama alumni Fakultas Adab Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam di IAIN Sunan Ampel Surabaya- nalar kritis kesejarahannya muncul. Pasean menjadi salah satu gagasan yang selalu beliau perjuangkan sebagai penanda adanya hubungan lokalitas yang sangat dekat antara Madura dan Pasai. Menurut beliau, keterhubungan itu bukan hanya hubungan dagang atau migrasi, tetapi berkaitan erat dengan jalur masuk dan perkembangan Islam di Madura, walaupun masih butuh data historis emperis.
Kemudian beliau menautkannya dengan Penemuan makam Pujuk Penaungan di Pasongsongan Sumenep, hal ini menjadi bagian penting dari upayanya menelusuri jejak sejarah Islam di Madura. Saya dan Beliau melihat adanya kesamaan penanggalan di batu nisan para almarhumin di Penaungan dengan era Walisongo, sebuah temuan yang membuka ruang diskusi baru tentang jaringan Islamisasi Nusantara. Semangat ilmiahnya tidak berhenti pada sejarah dan budaya. Dari pemikiran-pemikiran seperti inilah tampak bagaimana beliau berusaha membaca sejarah lokal secara lebih mendalam dan bermartabat.
Beliau juga memiliki ketekunan luar biasa dalam penelitian lapangan. Saat beliau menjadi ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) gagasan penguatan penelitian dan Pengabdian Dosen dan Mahasiswa melalui PAR selalu diperjuangkan. Menurut beliau banyak dosen kita memahami tentang PAR tetapi belum beriman pada PAR, tugas kita sebagai “nabi” begitu beliau menyebut (tentu ini satere) bagaimana mengimankan para dosen pada PAR walaupun ini bukan satu-satunya pendekatan terbaik.
Gagasan menarik adalah tentang bambu. Ini diawali dengan Rencana kerja sama IAIN Madura dengan ITS Surabaya. Saya (saat itu sebagai Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Kelembagaan) Bersama beliau (sebagai Ketua LPPM) datang secara lansung ke ITS. Setelah diskusi Panjang dengan pihak ITS, kami diajak megunjungi Produk “Perahu Bambu” semua bahan materialnya serba bambu. Dari sinilah gagasan penelitian tentang bambu muncul. Sepanjang perjalanan pulang dari ITS sampai kampus IAIN Madura kami berdua berdiskusi Panjang lebar tentang bambu, dengan diselingi pemandangan beberapa pohon bambu di sepanjang jalan di Madura menambah semangat berdiskusi.
Saat saya bersama beliau satu Tim dalam Reseach Leader tentang Dunia Lora Tapal Kuda (2024), disela-sela penggalian data, gagasan tentang bambu itu lagi-lagi muncul, karena memang pemandangan pohon bambu betul-betul menarik perhatian. Rupanya Mashur tidak hanya berhenti pada wacana tentang bambu, beliau melanjutkannya ke penelitian tentang bambu di Jawa bahkan sampai pada kampung bambu di Bali pun di datangi (namun sampai saat ini belum ada laporan hasil penelitiannya). Hal ini menunjukkan keluasan cara pandangnya dalam menghubungkan pengetahuan lokal dengan pengembangan akademik yang lebih modern dan aplikatif.
Di balik keseriusan intelektualnya, Mashur Abadi adalah pribadi yang hangat dan penuh keceriaan. Ketawalepas ngakaknya yang khas sering menjadi pemecah kebuntuan dalam diskusi-diskusi panjang. Bagi Mashur Tawa itu bukan sekadar ekspresi spontan, tetapi menjadi energi yang mencairkan suasana dan menghidupkan semangat kebersamaan. Banyak orang mengenang beliau bukan hanya karena gagasan dan karya-karyanya, tetapi juga karena kehadirannya yang membuat ruang-ruang akademik terasa lebih hidup dan manusiawi.
Bagi saya, Mashur Abadi adalah contoh bahwa pengabdian terhadap ilmu tidak selalu diukur dari jabatan atau popularitas, melainkan dari kesetiaan menjaga gagasan, ketekunan meneliti, dan keberanian memperjuangkan pengetahuan untuk kemaslahatan yang lebih luas. Nama beliau akan selalu hidup dalam ingatan banyak orang—sebagai pengabdi setia ilmu, penjaga tradisi intelektual Madura, dan sahabat diskusi yang menghadirkan makna di setiap perjumpaan.
Selamat Jalan Sang Pengabdi Ilmu Sejati, terima kasih atas segala ilmu, bimbingan dan pengabdiannmu, namamu akan tetap Abadi.
Editor: Achmad Firdausi