Ketika Rindu ke Tanah Suci Tumbuh di Tanah Air
- Diposting Oleh Achmad Firdausi
- Senin, 11 Mei 2026
- Dilihat 256 Kali
Oleh: Suwantoro
(Dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Madura)
Ada suasana yang selalu terasa berbeda setiap kali musim haji tiba. Bukan hanya karena ramainya keberangkatan para engah, tetapi karena pada saat yang sama banyak hati mulai dipenuhi keinginan yang serupa, yaitu ingin suatu hari nanti dapat menapakkan kakinya di Mekkah dan Madinah sebagai tamu Allah. Keinginan itu sering kali datang tanpa disadari, tumbuh pelan-pelan terutama ketika melihat orang lain akhirnya sampai pada perjalanan spiritual yang selama ini hanya mampu dipanjatkan dalam doa.
Barangkali perasaan itulah yang memenuhi suasana pelepasan jemaah haji di depan Masjid Agung As-Syuhada’ Pamekasan pada hari Ahad kemaren Tanggal 10 Mei 2026. Sejak malam hari jemaah terus berdatangan dari berbagai daerah untuk mengantar keluarga atau kerabatnya menuju Tanah Suci. Kawasan masjid dan sekitarnya pun dipadati manusia dan kendaraan. Namun di balik keramaian itu, tersimpan nuansa batin yang membuat pelepasan haji selalu terasa berbeda dari perjalanan-perjalanan lainnya.
Bahkan, tidak berlebihan kiranya jika digambarkan bahwa suasana itu juga ikut dirasakan oleh para pedagang kecil yang memenuhi sekitar lokasi. Sambil menjajakan minuman, makanan ringan, hingga mainan anak-anak, pandangan mereka sesekali tertuju pada para calon jemaah haji yang bersiap diberangkatkan. Ada tatapan yang tidak sekadar melihat, tetapi juga menyimpan harapan. Ada kata-kata yang tidak sekadar keluar dari lisan, melainkan juga lahir dari hati yang sedang menyimpan kerinduan. Sebab bagi banyak orang, menyaksikan keberangkatan haji selalu menghadirkan getaran batin yang sulit dijelaskan. Dari sanalah banyak harapan tumbuh perlahan, disimpan dalam diam sambil memohon agar suatu saat nanti dirinya masuk dalam daftar panggilan.
Merawat Kerinduan
Kerinduan kepada Tanah Suci sejatinya tidak lahir secara tiba-tiba. Ia tumbuh perlahan di dalam hati seorang hamba, sering kali dari hal-hal sederhana sebagaimana tergambar dalam suasana pelepasan jemaah haji di atas. Kadang juga berawal dari doa orang tua, cerita para jemaah sepulang dari Makkah. Dari pengalaman-pengalaman sederhana itulah, kerinduan itu kemudian menetap dan perlahan berubah menjadi harapan yang terus hidup dan melekat.
Bagi sebagian orang, Ibadah haji memang terasa sangat berat. Ada yang terkendala biaya, usia, kesehatan, bahkan kesempatan. Namun kerinduan tidak pernah mengenal batas kemampuan. Banyak orang yang belum tahu kapan dirinya akan berangkat, tetapi hatinya sudah lebih dulu berjalan menuju Ka’bah dengan cara memperbaiki doa-doanya, menyisihkan sedikit rezekinya, dan menjaga niat agar tetap menyala dan tidak akan dibiarkan padam oleh keadaan.
Kerinduan semacam inilah yang sejatinya perlu terus dirawat. Sebab di tengah kehidupan yang semakin sibuk dan penuh tuntutan, manusia sering kali kehilangan ruang untuk mendekatkan hati kepada hal-hal yang bersifat spiritual. Kita terlalu mudah tenggelam dalam urusan dunia, hingga tanpa sadar mulai jauh dari percakapan batin dengan yang maha Kuasa. Padahal, haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju Mekkah dan Madinah, melainkan perjalanan ruhani yang mengajak manusia kembali menyadari arah hidup, mengenali dirinya, dan mendekat kepada sang Maha Kuasa dengan hati yang lebih cerah.
Menyiapkan Kepantasan
Kerinduan saja tentu tidak cukup jika tidak disertai usaha untuk memantaskan diri. Sebab haji pada hakikatnya bukan hanya tentang keberangkatan fisik menuju tanah suci, tetapi juga tentang bagaimana seseorang menyiapkan hati yang lebih bersih, sikap yang lebih baik, dan kehidupan yang lebih dekat kepada Allah.
Berbagai persiapan lahiriah memang menjadi bagian penting dalam perjalanan haji. Akan tetapi, di balik semua itu terdapat proses mempersiapkan hati dan diri yang juga perlu tumbuh seiring dengan datangnya kerinduan menuju tanah suci. Sebab perjalanan menuju tanah suci bukan hanya tentang kesiapan berangkat, tetapi juga tentang belajar menumbuhkan sikap rendah hati, kesabaran, serta menjaga adab terhadap sesama. Karena itu, bagi siapa pun yang masih menunggu kesempatan berhaji, masa penantian sejatinya dapat menjadi ruang untuk terus memperbaiki diri dan mempersiapkan hati agar kelak benar-benar siap menyambut panggilan suci itu.
Menyiapkan kepantasan diri berarti memberi ruang bagi hati untuk terus berbenah dan belajar menjadi lebih baik, belajar lebih sabar, lebih tulus, lebih rendah hati, dan lebih peduli terhadap sesama. Karena perjalanan menuju Baitullah sejatinya bukan hanya tentang sampai di Mekkah, tetapi juga tentang bagaimana seseorang bertumbuh selama menunggu panggilan itu tiba.
Karena itu, suasana pelepasan jemaah haji di depan Masjid Agung As-Syuhada’ kemaren, termasuk juga di tempat-tempat lainnya, sejatinya bukan hanya tentang keberangkatan menuju tanah suci, tetapi juga tentang tumbuhnya harapan dan kerinduan di hati banyak orang. Dari kerinduan menuju tanah cuci itulah, banyak doa perlahan tumbuh dan dirawat di tanah air ini. Semoga para jemaah haji yang berangkat diberikan kesehatan, kelancaran, dan kemudahan dalam menjalankan seluruh rangkaian ibadah, serta kembali ke tanah air dengan membawa haji yang mabrur, hati yang lebih bersih, dan keberkahan yang dapat dirasakan oleh keluarga maupun masyarakat sekitar. Amin.
Editor: Achmad Firdausi