Kampus Ini Adalah Rumah Kita
- Diposting Oleh Achmad Firdausi
- Senin, 18 Mei 2026
- Dilihat 173 Kali
Oleh : Suwantoro
(Dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Madura)
Ada banyak hal yang membuat sebuah kampus terasa hidup dan lebih nyaman. Bukan hanya karena ruang kelas yang elit dan dipenuhi diskusi inspiratif, bukan pula sekadar gedung yang berdiri megah, atau padatnya aktivitas akademik yang bergerak aktif dan tampak produktif. Lebih dari itu, sebuah kampus terasa lebih hidup karena masih ada manusia yang datang dari tempat mereka masing-masing dengan harapan, mimpi, dan tanggung jawab yang sama sebagai sebuah rasa yang lahir karena mereka sadar bahwa dirinya menjadi bagian darinya.
Namun dalam kenyataannya, kesadaran sebagai bagian dari kampus terkadang belum sepenuhnya hadir dalam hal – hal sederhana di sekitar kita. Tidak sedikit persoalan kecil yang sebenarnya sepele, tetapi karena terus berulang akhirnya menjadi bagian dinamika yang hampir tidak luput dari perbincangan bersama. Persoaalan kebersihan, keteraturan parkir, hingga kepedulian terhadap fasilitas kampus misalnya, masih sering kerap muncul dalam percakapan sehari-hari, baik di ruang-ruang informal maupun dalam grup WhatsApp civitas Akademika.
Pola penyampaianya pun beragam. Ada yang menyampaikan dalam bentuk keluhan, ada yang sekadar saling mengingatkan, ada pula yang memberi masukan dengan nada santai. Bahkan ketika pembahasan itu muncul di ruang percakapan grup WhatsApp, tidak jarang juga disampaikan menggunakan narasi yang menyelipkan humor sederhana dengan tetap menyimpan harapan yang sama, Termasuk mereka yang hanya merespon dengan stiker, sesungguhnya juga menyimpan kepedulian yang sama, yaitu sama-sama ingin agar keadaan kampus ini menjadi lebih nyaman, bersih dan tertata.
Percakapan semacam itu, semakin hangat dibicarakan ketika melihat hal sederhana yang sangat merusak kenyamanan dan keasrian lingkungan kampus. Seperti kendaraan yang tidak diparkir pada tempatnya, membuang sampah atau puntung rokok seenaknya, adanya sarana belajar yang belum dimanfaatkan secara bijak. Hingga pada kenyataan di beberapa sudut lingkungan kampus yang masih memerlukan perhatian bersama. Persoalan sederhana seperti inilah yang pada akhirnya menjadi pengingat bagi kita semua bahwa mencintai kampus itu bukan hanya sekadar dengan kata-kata, tetapi juga tindak kepedulian yang nyata.
Karena itu, persoalan ini sebenarnya bukan hanya tentang masalah kebersihan atau parkir semata. Namun, ada faktor mendasar yang menjadi akar persoalan, yakni tentang bagaimana kita memandang kampus itu sendiri. Apakah kampus hanya dipahami sebagai tempat datang untuk bekerja, lalu setelah itu pulang? Ataukah benar-benar dipandang sebagai tempat bersama yang juga ingin kita jaga sebagaimana menjaga rumah sendiri?
Merasa Memiliki
Jawaban dari pertanyaan tersebut pada akhirnya akan tercermin dari sikap dan kepedulian kita selama ini terhadap kampus tercinta. Namun terlepas dari itu, hal penting yang perlu tumbuh agar mudah dalam mewujudkan kampus bersih, asri dan tertata adalah rasa memiliki terhadap kampus itu sendiri. Rasa memiliki biasanya akan tumbuh ketika kita merasa menjadi bagian darinya, kemudian dipraktikan dengan “upaya dalam”nya. Hal ini selaras dengan satu ungkapan kalimat yang sering kali penulis ucapkan. Begini kira-kira ungkapan itu “bagian dari sekaligus upaya dalam”. Jika dikaitkan dalam konteks bahasan ini, artinya cukup simple, yaitu ketika kita sudah menjadi bagian dari kampus ini maka disitulah ada kewajiban bagi kita untuk berupaya dalam menjaga, merawat, membangun dan aktifitas positif lainnya dengan tanpa diminta apalagi harus dipaksa.
Dari titik inilah akan tertanam suatu paham bahwa sesungguhnya kampus bukan hanya milik pimpinan, dosen, mahasiswa, petugas kebersihan, atau satu kelompok tertentu. Kampus adalah milik bersama. kampus menjadi rumah bagi dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, bahkan siapa saja yang datang membawa berbagai kepentingan akademik. Karena itu, rasa memiliki seharusnya tumbuh subur dalam diri setiap orang yang menjadi bagian dari lingkungan kampus ini.
Barangkali selama ini kita terlalu sering memahami kenyamanan kampus sebagai sesuatu yang harus disediakan oleh pihak tertentu. Padahal tidak selamanya begitu. Kenyamanan juga lahir dari kebiasaan kecil yang dilakukan bersama. Menempatkan kendaraan dengan tertib, membuang sampah atau puntung rokok pada tempatnya, menjaga fasilitas kampus, atau setidaknya tidak meninggalkan sesuatu yang mengganggu orang lain, semua itu merupakan bentuk yang paling sederhana tentang kepedulian yang tumbuh dari rasa memiliki.
Dalam dunia pendidikan,terutama di lingkungan perguruan tinggi yang selama ini sering dipandang sebagai ruang berkumpulnya orang-rang idealis dal lahirnya kaum intelektual, harusnya kesadaran semacam ini juga tumbuh seiring dengan tingginya pengetahuan dan banyaknya gagasan yang dibicarakan. Bukan justru sebaliknya. berkembangnya budaya abai terhadap kepentingan bersama.
Sekarang faktanya, banyak berbagai tulisan ajakan atau himbauan yang dipajang seperti “jaga kebersihan”, “buang sampah pada tempatnya”, atau “parkir dengan tertib” sudah cukup sering ditemui di lingkungan kampus kita. Namun dalam praktiknya tidak sedikit yang masih mengabaikan, bahkan mirisnya lagi terjadinya ketidakpedulian yang mengarah pada praktik melanggar, tepat persis di area ajakan itu dipasang. Mungkin persitiwa ini memberikan isyarat bahwa ternyata perubahan itu tidak selalu dimulai dari gagasan besar, tetapi juga dari kepedulian kecil yang benar-benar diwujudkan secara konsisten di atas kesadaran diri.
Dirawat Bersama
Rumah yang nyaman bukan hanya dibangun, tetapi juga dirawat. Begitu pula dengan tempat (Kampus) dimana kita bekerja atau mencari ilmu. Semegah apapun bangunannya, Selengkap apa pun fasilitas yang dimiliki, semuanya tidak akan memberi makna apabila tidak dijaga bersama. Karena, kenyamanan sebuah lingkungan tidak hanya ditentukan oleh sarana fisik, tetapi juga oleh hal-hal kecil seperti kepedulian yang membudaya.
Merawat kampus tidak selalu harus dimulai dengan program besar. Kadang cukup dengan membiasakan diri untuk lebih peduli terhadap sekitar. Tidak membiarkan sampah tertinggal, tidak memarkir kendaraan sembarangan, saling mengingatkan dan memberikan teguran saat melihat sikap yang kurang peduli kepada kampus.
Hal yang sedemikian itu mungkin tampak sangat sederhana, tetapi kita harus yakin bahwa dampaknya sangat besar bagi suasana akademik di kampus kita. Kampus yang bersih dan tertib akan menghadirkan kenyamanan belajar, ketenangan bekerja, berasa betah di kantor, serta bisa menjadi sumber keberhasilan dalam membangun kesadaran ekologis yang sejalan dengan gagasan ekoteologi yang belakangan ini semakin banyak dibicarakan dalam forum-forum ilmiah bahkan menjadi isu penting dalam kajian penelitian di berbagai tempat.
Karena itu, menjaga kampus seharusnya tidak dipahami sebagai tugas sebagian pihak saja. Ini adalah tanggung jawab moral bersama sebagai bagian dari komunitas akademik. Barangkali yang masih perlu terus dibangun bukan sekadar banyaknya aturan, bukan pula ketatnya pengawasan, juga bukan karena semata-mata tuntutan administratif, melainkan tumbuhnya kesadaran bahwa kampus ini adalah ruang bersama yang kenyamanan dan keasriannya ditentukan oleh kepedulian kita bersama pula. Tidak perlu saling menyalahkan, sebab yang jauh lebih penting adalah bagaimana kepedulian itu dapat tumbuh secara kolektif.
Kita harus paham bahwa kampus bukan hanya tempat untuk mencari ilmu, atau hanya sekedar menjalankan tugas dan kewajiban sebagai seorang tenaga pendidik atau tenaga kependidikan (bekerja). Tetapi juga ruang untuk belajar tentang teguhnya tanggung jawab, kuatnya kepedulian, dan lahirnya kedewasaan sosial. Apa yang kita lakukan terhadap lingkungan kampus selama ini sesungguhnya mencerminkan bagaimana kita menghargai ruang bersama yang setiap hari kita tempati.
Sebagai pungkasan, sekali lagi ingin penulis katakan bahwa kampus ini adalah rumah kita, tempat banyak mimpi disiapkan, pengalaman dibentuk, dan masa depan dilahirkan. Karena itu, menjaga kebersihan, ketertiban, keasrian, dan kenyamanan kampus sejatinya bukan sekadar tentang mematuhi aturan, atau bukan sekedar karena jabatan, apalagi punya kepentingan, melainkan tentang kesadaran moral untuk ikut merawat tempat yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidup kita dalam membangun masa depan. Semoga Allah senantiasa memberikan hidayah kepada kita semua untuk menjaga, merawat, dan mencintai kampus ini sebagaimana kita menjaga rumah kita sendiri. Aaamiin.
Editor: Achmad Firdausi