Drs. Moh. Mashur Abadi, M.Fil.I. (Intelektual Progresif dalam Pengembangan Studi Islam dan Budaya Madura)
- Diposting Oleh Achmad Firdausi
- Senin, 25 Mei 2026
- Dilihat 414 Kali
Oleh: Prof. Dr. H. Atiqullah, S.Ag., M.Pd.
(Direktur Pascasarjana UIN Madura)
Kepergian Drs. M. Masyhur Abadi, M.Fil.I almarhum merupakan kehilangan besar bagi dunia akademik Islam, khususnya dalam lingkungan UIN Madura kampus yang kini berkembang menjadi bagian penting dalam dinamika pendidikan tinggi Islam di Madura. Almarhum dikenal sebagai sosok dosen senior yang energik, visioner, dan memiliki semangat intelektual yang kuat dalam memperjuangkan pendidikan Islam bercorak modernis sejak dekade 1990-an.
Bagi mahasiswa Fakultas Tarbiyah sekitar tahun 1993–1997, beliau bukan hanya pengajar, melainkan pembimbing intelektual yang mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis, terbuka, dan berani memasuki wilayah-wilayah pemikiran Islam yang jarang disentuh pada masa itu. Di tengah kultur akademik pesantren yang masih cenderung normatif, Almarhum tampil dengan pendekatan yang segar. Ia memperkenalkan diskursus filsafat, pemikiran modern Islam, hingga pergulatan antara tradisi dan modernitas dalam studi keislaman.
Kecenderungannya pada pemikiran Al-Ghazali menunjukkan bahwa beliau tidak melihat modernitas sebagai ancaman terhadap spiritualitas Islam. Sebaliknya, sebagaimana Al-Ghazali memadukan syariat, filsafat, dan tasawuf, Almarhum berusaha menghadirkan sintesis antara rasionalitas modern dengan kedalaman spiritual Islam. Baginya, pendidikan Islam tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang saleh secara ritual, tetapi juga harus mampu membaca perubahan zaman dan menjawab problem sosial masyarakat.
Dalam beberapa forum akademik dan diskusi informal, beliau bahkan pernah menggagas pentingnya “menghidupkan kematian Tuhan” dalam konteks kritik sosial dan spiritual masyarakat modern. Gagasan ini tampaknya memiliki irisan dengan kritik filsafat Friedrich Nietzsche tentang “God is dead”, namun dipahami bukan sebagai penolakan terhadap Tuhan, melainkan kritik terhadap matinya nilai-nilai ketuhanan dalam kehidupan manusia modern. Perspektif ini menunjukkan keluasan horizon intelektual beliau dalam membaca filsafat Barat sekaligus keberaniannya mendialogkan pemikiran tersebut dengan tradisi Islam.
Dalam konteks itu, Almarhum dapat dipandang sejalan dengan tradisi pemikiran kritis Islam modern seperti yang dikembangkan Fazlur Rahman yang menekankan perlunya pembacaan kontekstual terhadap ajaran Islam, atau Mohammed Arkoun yang mendorong dekonstruksi terhadap nalar keagamaan yang beku. Meski bergerak dalam ruang akademik Madura yang relatif terbatas, gagasan-gagasan beliau menunjukkan keterbukaan terhadap arus pemikiran global dalam studi Islam.
Perhatian almarhum terhadap studi Islam dan budaya Madura juga sangat besar. Pada masa berkembangnya Jurnal KARSA, beliau menjadi salah satu motor penggerak penting dalam membangun tradisi akademik berbasis riset dan publikasi ilmiah. Melalui jurnal tersebut, diskursus tentang Islam lokal, tradisi pesantren, budaya Madura, hingga transformasi sosial masyarakat Muslim mulai memperoleh ruang akademik yang serius.
Pada masa itu, penulis sendiri pernah ditunjuk sebagai sekretaris penyunting Jurnal KARSA, bersama Almarhum Dr. Hefni, sebelum estafet intelektual tersebut kemudian dilanjutkan oleh Prof. Eri Hariyanto. Pengalaman itu menjadi saksi bagaimana Almarhum Masyhur Abadi bekerja dengan penuh dedikasi dalam membangun budaya akademik yang produktif. Beliau percaya bahwa kampus Islam tidak boleh hanya menjadi tempat transfer ilmu, tetapi harus menjadi pusat produksi gagasan dan penelitian yang relevan dengan realitas masyarakat.
Semangat akademiknya semakin tampak ketika beliau menjabat sebagai Kepala LP2M. Dalam posisi tersebut, beliau aktif menggagas tema-tema penelitian dosen yang berorientasi pada pengembangan studi Islam kontemporer, pemberdayaan masyarakat, dan transformasi budaya lokal. Baginya, penelitian bukan sekadar kewajiban administratif dosen, tetapi jalan untuk menghadirkan Islam yang hidup dan berdialog dengan problem kemanusiaan.
Pemikiran beliau sesungguhnya memiliki kedekatan dengan paradigma integratif-interkonektif yang kemudian populer dalam pengembangan perguruan tinggi Islam di Indonesia, sebagaimana dikembangkan M. Amin Abdullah. Paradigma ini menekankan pentingnya dialog antara ilmu agama, ilmu sosial, humaniora, dan realitas budaya masyarakat. Masyhur Abadi telah memperlihatkan embrio pemikiran itu jauh sebelum istilah tersebut menjadi arus utama dalam wacana akademik Islam Indonesia.
Sebagai akademisi, beliau mungkin tidak meninggalkan banyak karya populer berskala nasional, namun jejak intelektualnya hidup dalam ingatan para mahasiswanya yang saat ini berkiprah di kampusnya (termasuk penulis saksinya sejak menjadi mahasiswa-nya (1993) hingga bersama meniti jejaknya di jalur akademisi pada kampus tercinta ini, kolega, dan tradisi akademik yang pernah beliau bangun. Sosoknya mengajarkan bahwa seorang dosen bukan hanya pengajar di ruang kelas, tetapi penjaga api pemikiran dan penggerak perubahan sosial.
Kini beliau telah tiada. Namun dedikasi, keberanian berpikir, dan kecintaannya pada pengembangan pendidikan Islam modern tetap menjadi warisan berharga. Dalam konteks dunia pendidikan Islam yang hari ini menghadapi tantangan digitalisasi, konservatisme, dan krisis kemanusiaan, semangat intelektual seperti yang diwariskan Masyhur Abadi justru semakin relevan untuk dikenang dan diteruskan. Semoga surga untuk Almarhum. Amien Yaa Robbal ‘alamien.
Editor: Achmad Firdausi