Alamat

Jl. Raya Panglegur KM.4 Pamekasan

Telp./WA

+62 898-9700-500

Email

info@uinmadura.ac.id

Dari Kajian Kalam Ke Rekonstruksi Kurikulum: Masa Depan Studi Islam Transformatif di PTKI

  • Diposting Oleh Achmad Firdausi
  • Rabu, 6 Mei 2026
  • Dilihat 106 Kali
Bagikan ke

Oleh: Prof. Dr. H. Atiqullah, S.Ag., M.Pd.

(Direktur Pascasarjana UIN Madura)

Perjalanan sejarah intelektual Islam memperlihatkan bahwa ilmu kalam bukan sekadar disiplin teologis yang lahir untuk mempertahankan kemurnian akidah dari berbagai tantangan pemikiran, tetapi juga merupakan instrumen peradaban yang membentuk orientasi sosial umat. Dalam tradisi klasik, para mutakallimun seperti al-Asy‘ari, al-Maturidi, dan al-Ghazali membangun fondasi epistemologis yang tidak hanya meneguhkan keimanan, tetapi juga menautkan keyakinan dengan tanggung jawab moral dalam kehidupan sosial.  Kalam klasik, dengan demikian, tidak berdiri di ruang hampa; ia hadir sebagai jawaban atas dinamika politik, konflik sektarian, dan kebutuhan etika masyarakat Muslim pada masanya.

Dalam konteks kontemporer, perkembangan dunia global menghadirkan tantangan baru yang jauh lebih kompleks: krisis moral politik, polarisasi sosial, ketidakadilan ekonomi, hingga problem kemanusiaan universal. Karena itu, studi Islam tidak cukup berhenti pada pengulangan normatif terhadap formulasi kalam klasik. Sebagaimana Sebastian dalam Public Theology in the History of Christianity  Studi Islam ini membutuhkan transformasi menuju “teologi publik” (public theology), yaitu paradigma teologis yang menjadikan akidah sebagai energi etik untuk menjawab persoalan ruang publik modern.  Teologi publik menuntut agar nilai-nilai dasar keimanan—seperti tauhid, keadilan (‘adl), amanah, musawah, dan mas’uliyyah—diterjemahkan menjadi prinsip sosial-politik yang mampu membangun masyarakat berkeadaban.

Dalam perspektif ini, tauhid bukan sekadar pengakuan metafisik tentang keesaan Tuhan, tetapi juga fondasi pembebasan manusia dari segala bentuk tirani sosial, politik, dan ekonomi. Hassan Hanafi menegaskan bahwa teologi harus bergerak dari Tuhan menuju manusia, dari dogma menuju transformasi sosial. Artinya, akidah sejati harus melahirkan praksis sosial yang menolak korupsi, kekerasan, intoleransi, dan segala bentuk dehumanisasi. Dengan demikian, hubungan antara kalam klasik dan teologi publik bukanlah relasi diskontinuitas, melainkan kesinambungan kreatif antara warisan normatif dan kebutuhan historis.

Bagi masyarakat Madura, diskursus ini memiliki relevansi yang sangat penting. Madura dikenal sebagai wilayah dengan tradisi Islam pesantren yang kuat, berakar pada paham Ahlussunnah wal Jama‘ah, serta didukung oleh jaringan kiai sebagai otoritas moral masyarakat. Dalam kultur lokal kemaduraan, akidah selama ini tidak hanya berfungsi sebagai doktrin keagamaan, tetapi juga sebagai basis solidaritas sosial, etos penghormatan kepada guru, serta pembentukan karakter kolektif. Nilai bhuppa’, bhabhu’, ghuru, rato mencerminkan struktur etik yang memadukan religiusitas dan tatanan sosial lokal.

Namun demikian, perkembangan masyarakat Madura di era digital dan demokrasi modern menghadirkan tantangan baru. Polarisasi politik identitas, penetrasi budaya digital, serta perubahan sosial-ekonomi menuntut adanya reinterpretasi akidah agar tetap relevan dalam membimbing masyarakat. Di sinilah UIN Madura memiliki posisi strategis sebagai pusat pengembangan studi Islam yang tidak hanya melestarikan khazanah klasik pesantren, tetapi juga mendorong lahirnya paradigma Islam transformatif berbasis kearifan lokal. Studi Islam lokal kemaduraan perlu bergerak dari pendekatan normatif-tradisional menuju integrasi antara akidah, etika sosial, dan kesadaran kebangsaan.

Seminar internasional ini menjadi momentum penting untuk mempertemukan tradisi kalam klasik dengan horizon teologi publik dalam konteks lokal Madura dan global dunia Islam. Penguatan akidah tidak lagi cukup dipahami sebatas penjagaan ortodoksi, tetapi harus diarahkan pada pembentukan etika publik yang menjunjung keadilan, toleransi, dan tanggung jawab sosial. Dengan demikian, studi Islam di Madura dapat tampil bukan hanya sebagai penjaga tradisi, tetapi juga sebagai produsen gagasan peradaban.

Akhirnya, transformasi dari kalam klasik menuju teologi publik adalah agenda intelektual sekaligus sosial yang mendesak. Dari Madura, melalui kekuatan pesantren, akademisi, dan budaya lokal yang religius, Islam dapat terus berkontribusi bagi pembangunan masyarakat Indonesia yang beradab. UIN Madura, dalam konteks ini, berpeluang besar menjadi episentrum pemikiran Islam progresif yang berpijak pada akidah, berpihak pada kemanusiaan, dan relevan dengan tantangan zaman.

Artikel ini disampaikan sebagai pengantar Seminar Internasional Dari Kalam Klasik Ke Teologi Publik, 4 Mei 2026 Pascasarjana UIN Madura

 


Editor: Achmad Firdausi