Alamat

Jl. Raya Panglegur KM.4 Pamekasan

Telp./WA

+62 898-9700-500

Email

info@uinmadura.ac.id

Bus Shalawat Ikon Transportasi Jemaah Haji Mekkah

  • Diposting Oleh Achmad Firdausi
  • Senin, 25 Mei 2026
  • Dilihat 332 Kali
Bagikan ke

Oleh: Dr. H. Imam Amrusi Jailani, M.Ag.

(Pembimbing Ibadah Haji Kloter SUB 74 & Ketua Prodi. Doktor Ilmu Syariah UIN Madura)

Terdapat beberapa hal yang sering dikaitkan dan disandarkan kepada shalawat, bukan karena shalawat itu dibaca atau dijadikan dzikir, tapi shalawat itu disematkan kepada sesuatu, entah itu daerah atau barang. Kalau di Indonesia, tepatnya di Jawa Timur, kita mengenal Bumi Shalawat di Sidoarjo. Di sana ada pondok pesantren terkenal, namun yang ikonik adalah Bumi Shalawat. Bergeser ke Seberang, kita mengenal bumi dzikir dan shalawat, yaitu di Kabupaten Bangkalan.

Lain halnya jika hal tersebut ada di tanah Haram, maka shalawat yang memang sudah booming itu juga menjadi ikon dari transportasi. yaitu pengangkut jemaah dari hotel di berbagai daerah seperti Roudhah, Syisyah, Aziziyah, Misfalah, Jarwal, dan lainnya, menuju terminal di sekitar Masjidil Haram, yaitu terminal Syib Amir, Ajyad dan Jabal Ka’bah. Bus shalawat jumlahnya ratusan untuk melayani kebutuhan jemaah haji. Sarana transportasi ini disiapkan secara gratis, karena memang di Mkekah dan Madinah banyak sesuatu yang gratis, Gratisan memang sangat banyak di Haram, transportasi gratis, air gratis dan sebagainya

Bagian Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) menyiapkan sekitar 452 unit bus pada puncak operasional untuk melayani jemaah haji indonesia. Armada yang beroperasi di Mekkah ini beroperasi melayani rute perjalanan dari pemondokan atau hotel menuju Masjidil Haram secara gratis. 452 unit bus yang notabene berwarna hijau selalu siap siaga beroperasi melayani jemaah selama 24 jam. Itulah kehebatan pelayanan jemaah haji yang ada di tanah Haram. Itu semua dipersembahkan untuk kenyamanan tamu-tamu Allah dalam melaksanakan ibadah haji.

Namun, pada waktu artikel ini ditulis, operasional layanan ini akan dihentikan sementara, mulai tanggal 22 mei 2026 atau tanggal 5 Dzulhijjah 1447 H. pukul 18.00 waktu setempat dan dialihkan untuk persiapan puncak ibadah haji di Armuzna. Penghentian tersebut untuk memberikan waktu istirahat yang cukup bagi Jemaah haji menghadapi kegiatan Armuzna, Dengan berhentinya operasi bus shalawat untuk sementara, Jemaah haji tidak lagi bolak-balik ke Masjidil Haram. Jika kondisi lalu lintas memungkinkan, terdapat tiga terminal yang akan disiagakan, yakni terminal Syib Amir, terminal Jiad atau Ajyad, dan terminal Jabal Ka'bah.

Terminal Syib Amir, bus rute nomer 1–11, 22, dan 23, melayani jemaah yang tinggal di wilayah Syisyah dan Roudhah.  Terminal Jabal Ka'bah, bus rute no. 12–15 melayani jemaah yang tinggal di wilayah Jabal Ka'bah dan Jarwal. Terminal Ajyad, bus rute no. 16–21 melayani jemaah yang tinggal di wilayah Misfalah, Bakhutmah, Surrah, Ajyad, dan Mahbas jin. Bus Shalawat akan kembali beroperasi normal setelah fase Armuzna selesai. Nomer bus sudah disesuaikan dengan hotel tempat Jemaah haji tinggal, seperti di Roudhah 412, naik bus no. 10. Sistem transportasi ini dibagi berdasarkan wilayah tempat tinggal jemaah, yakni Misfalah, Jarwal, Raudhah, Syisyah, dan Aziziyah. Masing-masing wilayah terhubung ke terminal tertentu agar arus pergerakan lebih tertib dan tidak menumpuk.

Karena itu, jemaah diimbau untuk mengingat nomor rute atau setidaknya mengenali warna stiker bus agar tidak salah naik, terutama saat kembali ke hotel. PPIH memastikan layanan bus shalawat akan kembali beroperasi setelah fase puncak ibadah haji selesai. Bus dijadwalkan kembali melayani jemaah pada minggu, 31 mei 2026 pukul 01.00 waktu Arab Saudi. Armada tersebut terdiri atas bus reguler dan bus khusus lansia yang ramah bagi pengguna kursi roda.

Bus shalawat juga disiapkan untuk thawaf ifadhah dan wada', Khususnya bagi kloter-kloter awal yang akan kembali ke tanah air. Bus shalawat akan membantu mobilitas jemaah dalam melaksanakan thawaf ifadhah dan thawaf wada'. Dengan layanan tersebut, jemaah tidak perlu berjalan kaki dari jarak jauh yang melelahkan. Jemaah juga tidak perlu  mengeluarkan biaya tambahan untuk menggunakan taksi. Layanan Jemaah haji, baik transportasi atau lainnya, berorientasi kepada pelayanan ramah lansia, ramah Perempuan, ramah disabilitas, dan ramah dalam segala hal. (Mekkah, 22 Mei 2026/5 Dzulhijjah 1447 H).

 


Editor: Achmad Firdausi