Belajar dari Ismail: Keberanian Pasrah kepada Kehendak-Nya
- Diposting Oleh Achmad Firdausi
- Selasa, 26 Mei 2026
- Dilihat 335 Kali
Oleh: Moh. Hafid Effendy
(Dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan)
Pernahkah Anda membayangkan diri berada di posisi Ismail? Seorang anak muda yang diminta oleh ayahnya untuk menyerahkan nyawa bukan karena kesalahan, bukan karena hukuman, melainkan semata-mata karena perintah Allah. Kisah ini bukan sekadar narasi sejarah yang kita dengar setiap menjelang Idul Adha. Ia adalah cermin yang memantulkan pertanyaan mendasar tentang keimanan kita: seberapa berani kita pasrah kepada kehendak-Nya?
Kita sering memuji kebesaran Ibrahim sebagai ayah yang taat. Itu benar dan tak terbantahkan. Namun, di balik sorot cerita itu, ada sosok yang kerap luput dari perhatian kita: Ismail. Ia bukan korban pasif. Ia bukan anak yang diseret paksa ke tempat penyembelihan. Al-Quran dalam Surah Ash-Shaffat ayat 102 mencatat dialog yang luar biasa. Ibrahim berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi menyembelihmu, maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.” Dan Ismail menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insyaallah, engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
Bayangkan keberanian macam apa yang dibutuhkan untuk mengucapkan kalimat itu. Ismail tidak meronta. Ia tidak lari. Ia tidak mempertanyakan keadilan Tuhan. Ia justru menyerahkan diri dengan penuh kesadaran. Inilah yang dalam tradisi Islam disebut sebagai tawakkal, kepasrahan total yang lahir bukan dari kelemahan, melainkan dari keyakinan yang teramat kuat bahwa di balik setiap ujian, ada hikmah yang belum terlihat oleh mata.
Sekarang, mari kita tarik kisah ini ke kehidupan sehari-hari. Tentu saja, kita tidak diminta menyerahkan nyawa. Tetapi bukankah kehidupan modern memiliki ujian-ujiannya sendiri? Kehilangan pekerjaan di usia produktif. Ditinggal pergi oleh orang yang kita cintai. Gagal dalam usaha yang sudah dirintis bertahun-tahun. Atau sekadar menghadapi kenyataan yang tak sesuai rencana. Di titik-titik seperti itulah, kepasrahan Ismail menjadi relevan.
Masalahnya, kita hidup di zaman yang mengagungkan kendali. Kita diajarkan untuk merencanakan segalanya karier, keuangan, bahkan timeline kehidupan. Menikah di usia sekian, punya rumah di usia sekian, pensiun di usia sekian. Ketika rencana itu gagal, kita merasa dunia runtuh. Kita marah kepada keadaan, bahkan diam-diam mempertanyakan keadilan Tuhan. Padahal, justru di situlah ujian sesungguhnya dimulai: apakah kita mampu seperti Ismail, mengatakan “Lakukanlah apa yang Engkau kehendaki, ya Allah”?
Kepasrahan bukan berarti menyerah. Ini penting untuk ditegaskan. Pasrah dalam makna islami adalah menyerahkan hasil setelah ikhtiar maksimal. Ismail tidak tinggal diam tanpa usaha. Ia sudah menjalani hidupnya dengan penuh ketaatan. Ia sudah “berikhtiar” dengan menjadi anak yang saleh. Maka ketika ujian terbesar datang, ia siap bukan karena ia tidak takut, tetapi karena imannya lebih besar dari rasa takutnya.
Di sinilah Idul Adha seharusnya menjadi momen refleksi, bukan sekadar perayaan. Ketika kita menyembelih hewan kurban, yang sejatinya kita sembelih adalah ego, keserakahan, dan ilusi kendali atas hidup. Daging kurban yang dibagikan kepada tetangga dan kaum dhuafa adalah simbol bahwa kepasrahan selalu berbuah kebaikan—bahwa ketika kita melepas, justru kita menerima lebih banyak.
Lihatlah akhir kisah Ibrahim dan Ismail. Allah mengganti Ismail dengan seekor domba. Ujian itu tidak pernah dimaksudkan untuk menyakiti, melainkan untuk meninggikan derajat. Allah tidak butuh darah Ismail. Yang Allah ingin lihat adalah ketulusan hati seorang hamba. Dan ketika ketulusan itu terbukti, rahmat-Nya datang dalam bentuk yang tak terduga.
Maka di Idul Adha tahun ini, izinkan kita bertanya kepada diri sendiri: apa “domba pengganti” yang sedang Allah siapkan untuk kita? Mungkin di balik kehilangan itu ada pertemuan yang lebih baik. Mungkin di balik kegagalan itu ada jalan yang lebih tepat. Mungkin di balik rasa sakit itu ada kekuatan yang selama ini tidak kita sadari.
Keberanian Ismail mengajarkan kita bahwa kepasrahan adalah bentuk keberanian tertinggi. Bukan keberanian yang berteriak lantang, melainkan keberanian yang berbisik lembut: “Aku percaya kepada-Mu, meskipun aku belum mengerti.”
Selamat Hari Raya Iduladha. Semoga kurban kita diterima, dan semoga kita semua diberi keberanian untuk pasrah dengan penuh iman, penuh harap, dan penuh cinta kepada-Nya.
Editor: Achmad Firdausi