KETIKA KAMPUS MENJADI TANEYAN LANJHANG: Spiritualitas, Kebersamaan, dan Ikhtiar dalam Membangun Peradaban
- Diposting Oleh Achmad Firdausi
- Rabu, 22 Juli 2026
- Dilihat 297 Kali
Oleh: Prof. Dr. H. Atiqullah, S.Ag., M.Pd.
(Direktur Pascasarjana)
Enam puluh tahun perjalanan Universitas Islam Negeri (UIN) Madura merupakan anugerah sekaligus amanah besar yang patut disyukuri bersama. Dies Natalis ke-60 bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum untuk meneguhkan kembali jati diri UIN Madura sebagai perguruan tinggi Islam yang mengintegrasikan keunggulan akademik, kedalaman spiritual, kepedulian lingkungan, dan pengabdian bagi kemanusiaan. Dalam semangat itulah, keluarga besar Pascasarjana UIN Madura memaknai peringatan Dies Natalis tahun ini dengan tema reflektif: "Menguatkan Spiritualitas, Melestarikan Lingkungan, Membangun Peradaban dalam Bingkai Taneyan Lanjhang."
Tentu tema tersebut lahir dari kesadaran bahwa pembangunan peradaban tidak mungkin berdiri hanya di atas kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Peradaban yang kokoh harus ditopang oleh spiritualitas yang kuat, relasi sosial yang harmonis, serta kepedulian terhadap lingkungan sebagai amanah Allah Swt. Nilai-nilai inilah yang sejak lama hidup dalam budaya Madura, khususnya dalam filosofi Taneyan Lanjhang.
Taneyan Lanjhang bukan sekadar pola permukiman tradisional masyarakat Madura, tetapi merupakan simbol kebersamaan, gotong royong, penghormatan kepada orang tua dan guru, serta tanggung jawab kolektif antaranggota keluarga dan masyarakat. Dalam konteks perguruan tinggi, filosofi ini mengajarkan bahwa kampus adalah rumah besar tempat seluruh sivitas akademika saling menguatkan, saling menjaga, dan bersama-sama membangun masa depan. Semangat Taneyan Lanjhang juga mengingatkan bahwa ilmu pengetahuan harus tumbuh dalam suasana kekeluargaan, keteladanan, dan kepedulian sosial.
Sebagai wujud nyata dari tema tersebut, pada rangkaian peringatan Dies Natalis ke-60, yakni Senin, 20 Juli 2026, keluarga besar Pascasarjana UIN Madura melaksanakan kegiatan bersih-bersih lingkungan kampus dan rujaan bersama. Kegiatan ini diikuti oleh para pimpinan, dosen, dan tenaga kependidikan dalam suasana penuh kebersamaan dan kekeluargaan. Sejak pagi hari , seluruh peserta memulai dengan doa bersama oleh Prof. M. Muhlis Sholichin dilanjutkan bergotong royong membersihkan area sekitar gedung Pascasarjana, menata taman, merapikan ruang kerja, serta menjaga kebersihan lingkungan sebagai bentuk tanggung jawab bersama terhadap kelestarian kampus.
Bersih-bersih lingkungan bukanlah aktivitas yang sederhana. Dalam perspektif Islam, menjaga kebersihan merupakan bagian dari iman. Kampus yang bersih mencerminkan budaya akademik yang sehat, disiplin, dan menghargai lingkungan. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi sarana pendidikan karakter bagi seluruh sivitas akademika bahwa kepedulian terhadap lingkungan harus dimulai dari tindakan nyata, bukan sekadar wacana. Di tengah berbagai tantangan perubahan iklim dan kerusakan lingkungan global, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi pelopor budaya hidup bersih dan berkelanjutan.
Setelah kegiatan bersih-bersih, acara dilanjutkan dengan rujaan bersama yang berlangsung hangat dan penuh keakraban. Tradisi makan bersama ini menjadi simbol persaudaraan dan kesederhanaan yang telah lama hidup dalam budaya masyarakat Madura. Dalam suasana tanpa sekat formalitas, para pimpinan, dosen, dan tenaga kependidikan saling berbincang, berbagi pengalaman, dan mempererat ukhuwah. Kebersamaan semacam ini sangat penting untuk membangun komunikasi yang sehat, memperkuat solidaritas, serta menumbuhkan rasa memiliki terhadap institusi.
Kita harus yakin bahwa kekuatan sebuah perguruan tinggi tidak hanya terletak pada kecanggihan fasilitas atau banyaknya program akademik, tetapi juga pada kualitas hubungan antarmanusia di dalamnya. Ketika pimpinan, dosen, dan tenaga kependidikan dapat duduk bersama dalam suasana kekeluargaan, maka akan lahir energi positif yang mendorong lahirnya kolaborasi, inovasi, dan pengabdian yang lebih bermakna. Dari kebersamaan yang sederhana itulah sesungguhnya fondasi peradaban dibangun.
Atas nama pimpinan Pascasarjana UIN Madura, saya menyampaikan ucapan selamat Dies Natalis ke-60 UIN Madura kepada seluruh sivitas akademika, alumni, dan mitra kerja UIN Madura di mana pun berada. Semoga pada usia yang ke-60 ini, UIN Madura semakin unggul dalam pengembangan ilmu pengetahuan Islam integratif, semakin kuat dalam membangun budaya akademik yang berlandaskan nilai-nilai spiritual, semakin peduli terhadap kelestarian lingkungan, dan semakin luas memberikan dampak bagi masyarakat, bangsa, dan dunia.
Secara khusus, saya juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh akademika di lingkungan Pascasarjana yang telah berpartisipasi dalam kegiatan kebersamaan pada 20 Juli 2026. Semangat gotong royong, kepedulian lingkungan, dan keakraban yang terbangun dalam kegiatan tersebut merupakan cerminan nyata nilai-nilai Taneyan Lanjhang yang ingin terus kita hidupkan di lingkungan kampus. Semoga kebersamaan ini menjadi energi baru untuk meningkatkan kualitas layanan akademik, memperkuat budaya riset, serta menghadirkan pengabdian yang lebih berdampak bagi masyarakat.
Akhirnya, marilah kita jadikan Dies Natalis ke-60 UIN Madura sebagai titik tolak untuk melangkah lebih jauh. Dengan spiritualitas yang kokoh, lingkungan yang terjaga, dan kebersamaan yang terus dirawat, insya Allah UIN Madura akan mampu menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, penjaga nilai-nilai kemanusiaan, dan pelopor pembangunan peradaban yang bermartabat dalam bingkai Taneyan Lanjhang.
Dirgahayu ke-60 UIN Madura. Menguatkan Spiritualitas, Melestarikan Lingkungan, Membangun Peradaban dalam Bingkai Taneyan Lanjhang.
Editor: Achmad Firdausi