Alamat

Jl. Raya Panglegur KM.4 Pamekasan

Telp./WA

+62 898-9700-500

Email

info@uinmadura.ac.id

Spanduk Menjadi Sarana Dakwah

  • Diposting Oleh Achmad Firdausi
  • Sabtu, 21 Februari 2026
  • Dilihat 139 Kali
Bagikan ke

Oleh: Dr. H. Imam Amrusi Jailani, M.Ag.

(Ketua Program Studi Doktor Ilmu Syariah Pascasarjana IAIN Madura)

Setiap ada even penting, kapan pun dan di mana pun, membutuhkan sarana atau instrumen untuk memperkenalkan even tersebut kepada publik. Salah satu sarana yang mudah dan sederhana serta sunyi (tidak berisik), bisa dipakai untuk memperkenalkan even tersebut kepada publik dan bisa menjangkau seluruh lapisan masyarakat dari lapisan atassampai bawah adalah spanduk. Alat peraga ini biasanya dipasang di atas atau di pinggir jalan raya, atau di tempat-tempat lain yang mudah dilihat oleh publik. Spanduk bisa menjadi alat peraga untuk memperkenalkan atau mempromosikan sesuatu, baik berupa program, aplikasi atau produk yang hendak ditawarkan kepada publik. Semua hal yang dituangkan di permukaan spanduk akan diketahui oleh khalayak yang melintas ke arah spanduk tersebut.

Setiap ada acara yang diharapkan bisa menyedot perhatian publik biasanya diberitahukan secara sunyi melalui spanduk. Tema yang dipilih terkadang berupa kegiatan olahraga, pertandingan semua cabang olahraga yang digandrungi oleh publik, seperti sepak bola, voli, bulutangkis, tinju dan lain sebagainya. Begitu pula dengan adanya gebyar panggung gembira berupa konser yang mendatangkan artis dan aktris, atau vokalis (penyanyi) yang sudah dikenal oleh publik, itu semua diperkenalkan kepada publik melalui spanduk. Setelah orang membaca apa yang ada di depan (spanduk) itu, maka Sebagian orang menunggu saat digelarnya perhelatan tersebut karena hendak berpartisipasi menyemarakkannya. Begitu pula jika ada produk, entah itu lama yang hendak dipromosikan dengan keunggulan tertentu yang mengalami inovasi, lebih murah, praktis dan terjangkaumisalnya, atau produk baru yang hendak diperkenalkan kepada masyarakat, maka biasanya diperkenalkan dengan spanduk. Begitu pula dengan acara-acara lainnya, seperti acara perayaan, seminar, rapat-rapat dan bahkan pengajian-pengajian keagamaan disampaikan melalui spanduk.

Tidak ketinggalan pula semarak Ramadhan dan hari raya-hari raya disampaikan ke publik melalui spanduk. Maka tidak jarang diumpai spanduk bertuliskan “Marhaban Ya Ramadhan”, “Selamat datang Ramadhan”, “Selamat menunaikan puasa di bulan Ramadan”dan lain sebagainya. Sama halnya dengan even-even lainnya seperti Maulidur Rasul, Isra Mi'raj, pengajian Akbar dan tidak terkecuali hari raya Idul Fitri dan Idul Adha selalu mengisi lembaran-lembaran spanduk yang bertuliskan “selamat hari raya idul fitri atau Idul Adha”.Dengan demikian dapat dikatakan bahwa spanduk pun itu bisa menjadi salah satu sarana dakwah di samping sarana-sarana yang lain, seperti panggung pengajian, sound system dan lain sebagainya.

Spanduk bertuliskan “Marhaban Ya Ramadan” di setiap menjelang bulan Ramadan pasti bertebaran dan dibentangkan di mana-mana, baik di atas jalan maupun di pinggir jalan,di depan Gedung atau pertokoan, kampus dan lain sebagainya. Biasanya tidak lah sedikit jumlahnya dan hampi berjejer, apalagi jika ada kaitannya dengan politik, pasti berhamburan.Pemasangan spanduk sebagai pertanda adanya keinginan dari umat Islam untuk menyemarakkan bulan suci Ramadhan dan penyemangat bagi umat Islam agar selalu bergembira menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.

Akan tetapi berbanding terbalik dengan bulan Ramadhan pada kali ini, di mana sedikit dijumpai spanduk membentang di atas jalan, bahkan sudah memasuki bulan Ramadhan pun di hari pertama dan kedua ini sangat jarang dijumpai spanduk bertuliskan sesuatu yang memuliakan datangnya bulan suci Ramadhan. Ada banyak faktor kenapa jarang spanduk bertuliskan “Marhaban Ya Ramadhan” di berbagai Jalan Raya di pelosok negeri ini,mungkin salah satunya karena sudah dipublikasikan lewat media sosial-media sosial, seperti Facebook, Tik Tok, Instagram dan WhatsApp. Atau mungkin pula situasi dan kondisi saat ini menyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang sedang berlangsung di negeri ini, di mana pemerintah menggalakkan efisiensi untuk anggaran-anggaran pada pos tertentu yang dianggap kurang atau tidak penting dikurangi, dan dialihkan ke pos-pos tertentu yang lebih membutuhkan atau diprioritaskan. Sehingga terjadi pemerataan dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat yang lebih membutuhkan.

Mungkin analisis ini bisa diajukan untuk membaca situasi jarangnya spanduk bertuliskan “Marhaban Ya Ramadhan” dengan alasan efisiensi, maka umat Islam pun berpikir pentingnya efisiensi dan tidak menghambur-hamburkan anggaran untuk sekedar hal-hal yang bisa disiasati dengan memakai sarana yang lain seperti media sosial yang dianggap lebih popular. Walaupun demikian mungkin dicukupkan satu atau dua spanduk saja yang membentang di atas jalan dianggap cukup, dan itu pun tetap akan dilalui oleh ribuan umat Islam. Dan mencukupkan hal tersebut tidak mengurangi semangat umat Islam untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan dan menyuarakannya dengan memperbanyak ibadah di bulan suci Ramadan ini tidak kalah dengan tahun-tahun sebelumnya. Maka jangan pernah menganggap enteng keberadaan spanduk. Karena spanduk pun menjadi sarana dakwah untuk mengajak masyarakat ke jalan kebaikann.

 


Editor: Achmad Firdausi