Dialog Guru dan Dosen Bukan di Suatu Senja
- Diposting Oleh Achmad Firdausi
- Rabu, 25 Februari 2026
- Dilihat 71 Kali
Oleh: Dr. Syukron Affani, M.S.I.
(Kepala Pusat Penelitian LPPM UIN Madura)
Seorang guru profesional bertanya dengan nada selidik kepada seorang berprofesi dosen: “Rasanya saya tidak kalah bahkan jauh lebih pandai dari Saudara tetapi mengapa Saudara terlihat lebih mentereng di mata orang-orang. Apa yang membedakan antara guru dan dosen?” Pak dosen agak tersenyum dengan pertanyaan menukik tersebut. Ia mengusap ringan dahi yang mulai kehilangan batas dengan kepalanya yang ditumbuhi rambut kusut memutih di mana-mana. “Jangan dijawab karena dosen di perguruan tinggi dan guru di bawahnya ya? Guru profesional belum-belum menyergah.
“Sama saja,” jawab pak dosen ringan.
“Memang tidak adil dunia ini,” tanggap pak guru hiperbolik. Pak dosen memandangi pak guru yang menggerutu.
“Jangan-jangan nasib kita tertukar. Rasanya saya lebih cocok jadi guru dan Bapak yang semestinya menjadi dosen. Pak guru mengernyit mendengar nada pak dosen yang setengah mengeluh. Pak guru memandangi wajah dosen yang sebagian kepalanya sudah enggan ditumbuhi rambut. Pak dosen kemudian memulai bercerita. Ia membukanya dengan klausa: “Saya orang yang ceria dan tidak suka menulis…”
-----
Wakil Rektor III UNESA Surabaya bidang riset, inovasi, pemeringkatan, publikasi ilmiah, dan Science Center menulis opini menarik di harian Jawa Pos (23/03/2026) tentang urgensi transformasi perguruan tinggi dari teaching university menjadi research university; dari kampus pengajaran menjadi kampus riset. Ia menyinggung harapan Menteri Diktisaintek Brian Yuliarto agar perguruan tinggi bukan sekedar sibuk dengan publikasi tetapi juga berorientasi pada hasil nyata (impact) yang mendukung delapan industri strategi nasional: papan, kesehatan, energi, manufaktur modern, digitalisasi, maritim, pertahanan, dan hilirisasi sumberdaya alam.
DNA dosen bukan teacher only but teacher researcher and teacher scholar karena itu wajib melakukan riset yang publikatif dan berdampak nyata dalam realitas Riset di PTKI; harus terintegrasi antara publikasi dan urgensi dampak riilnya bagi masyarakat. Itulah keniscayaan integrasi skema penelitian dan pengabdian masyarakat. Penelitian adalah modal akademis melaksanakan pengabdian kepada masyarakat. Produk atau pengalaman pengabdian kepada masyarakat tersebut kemudian menjadi dokumen akademis yang dirujuk dalam pembelajaran perkuliahan sehingga proses pendidikan di kampus berlangsung secara factual karena berorientasi pada learning based on research and community services. Inilah triadik integrasi penelitian-pengabdian kepada masyarakat-pengajaran secara sirkulatif.
Agenda SDGs (Sustainable Development Goals) atau persisnya the 17 Sustainable Development Goals (the 17 SDGs) yaitu 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan akan menjadi instrumen kampus-kampus bukan semata beralih menjadi kampus riset publikasi tetapi menjadi kampus riset berdampak (impactful research university). Universitas Islam Negeri Madura (UIN Madura) menetapkan delapan (8) prioritas SDGs dari tujuh belas poin SDGs yang dinilai relevan dengan mandat kelembagaan dan karakteristik wilayah, yaitu: (SDGs 1) tanpa kemiskinan; (SDGs 4) pendidikan berkualitas; (SDGs 5) kesetaraan gender; (SDGs 6) air bersih dan sanitasi; (SDGs 8) pertumbuhan ekonomi dan pekerjaan yang layak; (SDGs 14) kehidupan bawah laut; (SDGs 15) kehidupan di darat; serta (SDGs 16) institusi yang kuat dan kedamaian
Bagi akademisi di PTKI yang masih didominasi oleh bidang humaniora yang bersifat metafisika, isu-isu tersebut tampaknya cocok di-address untuk akademisi di bidang sains, teknologi, keinsinyuran, dan matematika yang khas fisika. Hal itu juga diakui oleh opini Wakil Rektor III UNESA tersebut bahwa sekelas University of Oxford juga sulit men-drive fakultas humaniora di lingkungannya untuk aktif melakukan riset berdampak. Artinya hadir tantangan integrasi humaniora dan sains terutama dalam aspek dampak riil dan bentuknya.
Momentum untuk menjawab tantangan ini dengan cepat hadir dalam suatu program riset kolaborasi yang disebut dengan Program JATIM MELAJU. Dosen-dosen peneliti dari PTKI termasuk UIN Madura mulai akan mencoba “adu kesaktian” dengan dosen-dosen peneliti dari tradisi mapan penelitian sains di perguruan tinggi umum. Dosen-dosen UIN Madura berkesempatan melaksanakan pesan Menteri Agama saat berkunjung dalam peresmian UIN Madura untuk mengintrodusir metafisika humaniora ke dalam fisika sains sehingga UIN Madura dapat menjadi the New Baitul Hikmah yang sorry to say (kata Pak Menteri): not only by reason tetapi konektif dengan jagat Bismirabbika yang menembus sirr al-asrar ghaib al-ghuyub (the secret of the secret).
----
Di akhir cerita, pak guru terkekeh-kekeh: “Saya juga orang yang ceria dan tidak suka menulis meskipun suka membaca… Rasanya Saya harus bersyukur. Dan Saudara…Saya kira sudah tahu cara bersabar.” Pak guru bergegas pergi dengan sisa kekehannya meninggalkan pak dosen.
Editor: Achmad Firdausi