Alamat

Jl. Raya Panglegur KM.4 Pamekasan

Telp./WA

+62 898-9700-500

Email

info@uinmadura.ac.id

Puasa dan Teori Pendidikan

  • Diposting Oleh Achmad Firdausi
  • Selasa, 24 Februari 2026
  • Dilihat 70 Kali
Bagikan ke

Oleh: Zainul Hasan

(Kepala Ma’had al-Jami’ah UIN Madura)

Suatu hal yang patut kita syukuri, sampai hari ini, kita diberi kekuatan dan kemampuan untuk melaksanakan puasa Ramadhan 1447 H ini. Melaksanakan puasa berarti mensyukuri atas nikmat yang diberikan oleh Allah, yaitu kesempatan untuk menikmati hidup di dunia yang fana ini. Disamping itu, kekuatan dan kemampuan untuk melaksanakan puasa juga merupakan nikmat ditengah saudara-saudara kita yang berkeinginan puasa, tetapi terhalang oleh faktor kesehatan, bepergian jauh, atau karena udzur lainnya.

Kewajiban puasa, didasarkan pada ayat Al-Qur’an: “Wahai orang-orang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183). Ayat ini, walaupun sering diucapkan bolak-balik oleh para muballigh dan hafal di luar kepala, tetapi tetap menarik untuk dikaji dan diimplementasikan dalam kehidupan nyata. Tulisan ini berupaya untuk mengkorelasikan antara puasa dan teori pendidikan yang diharapkan akan memilki nilai tambah (added value) dan insipirasi bagi kita khususnya bagi para aktivis atau orang-orang yang bergelut dalam dunia pendidikan.

Dalam teori pendidikan dinyatakan bahwa pendidikan itu  merupakan sistem yang terdiri dari raw input, proses, dan output. Raw Input, adalah data atau elemen mentah yang masuk ke dalam sebuah sistem sebelum diproses, yang dalam pendidikan merujuk kepada peserta didik beserta potensi-potensi yang dimilikinya. Proses, merupakan kegiatan belajar mengajar dengan cara mengaktualisasikan potensi yang dimiliki siswa, baik potensi fisik maupun psikis, berkembang menuju arah yang positif. Sedangkan output merupakan hasil dari proses pembelajaran.

Tanpa bermaksud untuk menafsirkan al-Qur’an yang merupakan Firman Allah yang Maha Agung (al-Jalal), Maha Sempurna (al-Kamal), dan Maha indah (al-Jamal), tetapi hanya mencoba memahami, melihat, mengelaborasi, semangat belajar tanpa batas (no limit to study) dan tentunya banyak kekurangan bahkan kesalahan, frasa ayat “Wahai orang-orang beriman” bisa dianalogkan (diqiyaskan) sebagai elemen  “raw input” dalam teori pendidikan. Raw input, adalah siswa dengan segala potensi yang dimiliki. Di kalangan barat, potensi siswa, pada umumnya, merujuk kepada bakat, motivasi, kecerdasan. Mereka mengabaikan potensi ruhaniyah (spiritualitas) yang merupakan potensi  bawaan (generik) yang ada pada diri manusia, sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an: “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (al-A’raf:172). Akibat dari pengabaian potensi ini, maka pendidikan di barat cenderung sekuler, dikotomik, bahkan ateistik. Dalam konteks puasa Ramadhan, keImanan merupakan prasyarat dan potensi utama  yang harus diperhatikan sebelum memasuki elemen “proses” pendidikan. Tanpa adanya keimanan, maka otomatis ia gugur sebagai “siswa” peserta didik puasa Ramadhan.

Selanjutnya, frasa ayat: “diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian” bisa dianalogkan (diqiyaskan) sebagai elemen “proses” yang dalam teori pendidikan disebut juga sebagai proses pembelajaran. Dalam konteks “proses”, Imam Ghazali mendeskripsikan tiga tingkatan yang dijalankan oleh “siswa” peserta didik puasa Ramadhan. Pertama, Puasa orang awam atau shaumul ‘awam. Puasa level ini adalah puasa yang biasa dilakukan oleh kebanyakan orang atau sudah menjadi kebiasaan umum. Praktik puasa yang dilakukan di level ini sebatas menahan haus dan lapar serta hal-hal lain yang membatalkan puasa secara syariat. Jika, misalnya, dilakukan scoring, nilanya baru good, belum very good apalagi exellent.

Kedua, puasanya orang khusus atau shaumul khushus. Mereka berpuasa lebih dari sekadar untuk menahan haus, lapar dan hal-hal yang membatalkan. Tetapi mereka juga berpuasa untuk menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki dan segala anggota badannya dari perbuatan dosa dan maksiat. Mulutnya bukan saja menahan diri dari mengunyah, tapi juga menahan diri dari menggunjing, bergosip, apalagi memfitnah dan berdusta. Nabi SAW bersabda:
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan pengamalannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari no. 1903). Kalau zaman sekarang, mungkin termasuk juga menahan jari-jarinya agar tidak menyebarkan berita-berita bohong atau hoax. Jika, misalnya, dilakukan scoring, nilanya naik pada level very good.

Ketiga, puasa orang super khusus atau shaumu khushusil khushus. Mereka tidak saja menahan diri dari maksiat, tapi juga menahan hatinya dari keraguan akan hal-hal keakhiratan. Menahan pikirannya dari masalah duniawi, serta menjaga diri dari berpikir kepada selain Allah. Standar batalnya puasa bagi mereka sangat tinggi, yaitu apabila terbersit di dalam hati dan pikirannya tentang selain Allah, seperti cenderung memikirkan harta dan kekayaan dunia. Bahkan, menurut kelompok ketiga ini, puasa dapat terkurangi nilainya dan bahkan dianggap batal apabila di dalam hati tersirat keraguan, meski sedikit saja, atas kekuasaan Allah. Jika, misalnya, dilakukan scoring, praktik puasa seperti ini termasuk kategori istimewa, exellent. Puasa kategori level ketiga ini adalah puasanya para nabi, shiddiqin dan muqarrabin, sementara di level kedua adalah puasanya orang-orang shalih.

Terakhir, frasa ayat “agar kalian bertakwa” bisa dianalogkan (diqiyaskan) sebagai elemen “output” yang dalam teori pendidikan disebut juga sebagai tujuan, hasil, atau “produk” pembelajaran. Dalam ayat ini, secara eksplisit (tersurat), out put puasa Ramadhan adalah semoga menghasilkan pribadi-pribadi yang bertaqwa. Menjadi insan bertaqwa adalah impian semua orang yang berman, Allah berfirman: Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu (al-Hujurat: 13).

Dari uraian di atas, tampak jelas korelasi yang cukup signifikan antara pelaksanaan puasa dan teori pendidikan yang jika dinarasikan secara deduktif, puasa, tiada lain, adalah proses pendidikan yang maha dahsyat dari Dzat Yang Maha Kuasa agar menghasillan out put pribadi yang maha hebat, yaitu insan yang bertaqwa.

 


Editor: Achmad Firdausi