Alamat

Jl. Raya Panglegur KM.4 Pamekasan

Telp./WA

+62 898-9700-500

Email

info@uinmadura.ac.id

Review terhadap Tidurnya Orang yang Puasa

  • Diposting Oleh Achmad Firdausi
  • Selasa, 24 Februari 2026
  • Dilihat 70 Kali
Bagikan ke

Oleh: Dr. H. Imam Amrusi Jailani, M.Ag.

(Ketua Program Studi Doktor Ilmu Syariah Pascasarjana IAIN Madura)

Salah satu pemandangan yang sering dijumpai di kalangan masyarakat muslim di bulan suci Ramadan adalah banyaknya orang yang melakukan tidur di siang hari. Entah mengapa kok banyak di antara orang yang berpuasa itu senang tidur di siang hari. Hal ini memerlukan penelaahan dan penelitian lebih lanjut dan mendalam. Apakah mereka memang terbiasa tidur di siang hari atau apakah tidurnya mereka itu karena capek dan istirahatnya dengan cara tidur ? Atau pula karena mereka merasa mengalami kelelahan disebabkan lapar berpuasa ? Dan masih banyak faktor lainnya yang perlu dikaji lebih dalam. Akan tetapi sebagian dari mereka beralasan bahwa tidurnya orang puasa itu bernilai ibadah, sehingga mereka yang biasanya di siang hari tidak tidur, malah di bulan puasa menyempatkan untuk tidur, hitung-hitung menghilangkan ingatan dan perasaan tentang laparnya menjalani puasa. Sebagian dari mereka juga sudah terbiasa menjalani tidur siang, akan tetapi di bulan Ramadan durasi tidurnya justru bertambah. Mungkin karena diuntungkan oleh pandangan yang menyatakan bahwa tidurnya orang puasa itu bernilai ibadah.

Kemudian orang berpikir, terbersit tanya, puasa kok tidur terus ? Ngapain Kok tidak memperbanyak ibadah, kok yang dipilih ibadahnya malah tidur? Sedangkan ibadah-ibadah yang lainnya itu diabaikan. Terlintas pula  pertanyaan, apakah memang betul tidurnya orang puasa itu ibadah? Suatu hal yang menarik untuk didiskusikan. Mari kita telisik sumber dari pandangan itu, apakah ada riwayat yang mendukung pandangan tersebut? Kalau ada,  apakah riwayat itu riwayat yang shahih atau dho’if ?  atau bahkan tidak sampai pada derajat dho’if? Kemudian Bagaimana pandangan ulama tentang hal tersebut.

Terdapat riwayat yang sering disampaikan tiap Ramadhan tiba adalah riwayat tentang hikmah orang berpuasa yang bahkan tidurnya pun bernilai ibadah. Riwayat yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi ini berbunyi: “naumus shaim ‘ibadatun wa shumtuhu tasbihun wa ‘amaluhu mudha’afun wa du’auhu mustajabun wa zhambuhu maghfurun”, artinya: “Tidurnya orang puasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, amal ibadahnya dilipatgandakan, doanya dikabulkan, dan dosanya diampuni”. Riwayat ini kerapkali menjadi biang politisasi oleh sebagian kalangan yang menjustifikasi tidur saat menjalankan puasa di bulan Ramadhan bernilai ibadah dan bukan bersikap malas-malasan. Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din memberikan komentar terhadap pandangan ini, bahwa di antara adab puasa adalah tidak memperbanyak tidur di siang hari, supaya orang yang puasa bisa merasakan lapar dan haus dan merasakan berkurangnya kekuatan. Jika hal tersebut sudah bisa dirasakan, maka seseorang akan sampai kepada hikmah puasa, mencapai derajat taqwa serta memperhalus dan melembutkan hati dan perasaan.

Apakah tidur di siang hari bulan puasa itu salah dalam perspektif imam Ghazali. Beliau tidak mengatakan demikian, akan tetapi hanya mengingatkan bahwa sebagian tidur dinilai oleh kebanyakan orang sebagai tindakan bermalas-malasan. Hal tersebut akan mamantik konotasi miring dan negatif. Akan tetapi, tidur yang memang dipersiapkan untuk memperkuat dalam menjalankan ibadah akan menjadi sesuatu yang baik dan bermanfaat. Pandangan ini parallel dengan penjelasan Syaikh Muhammad bin Muhammad al-Husaini al-Zabidi, dalam kitabnya, Ittihaf sadat al-Muttaqin, yang memandang tidurnya orang puasa bernilai ibadah, tarikan napasnya adalah tasbih, dan diamnya mengandung hikmah. Dan tidur pun menurutnya dapat membantu seseorang melaksanakan ibadah, lebih fresh.

Memang harus diakui riwayat ini dinilai oleh banyak ulama muhadditsin sebagai hadits dho’if. Namun perlu dicatat pula bahwa menurut sebagian ulama pula, termasuk Imam Nawawi, hadits dho’if bisa dijadikan dasar dalam hal fadhoilul a’mal, termasuk tidur di siang hari bulan Ramadhan, dengan tujuan memperkuat ibadah pada malam hari, seperti qiyamul lail. Tapi jangan dianggap suatu pretensi yang mendukung memperbanyak tidur di siang hari bulan puasa, apalagi dengan dalih ibadah. Sebaiknya, tidur seperlunya saja, toh itu manusiawi, tapi jangan dimaksudkan sebagai ibadah dengan semata tidur. Sematkan maksud dalam tidurnya, semoga dengan tidur ini fisik lebih fresh dan jiwa lebih tenang, sehingga ibadah kepada Allah pun akan lebih khusyuk. Semoga Allah menerima ibadah piasa kita. Amin

 


Editor: Achmad Firdausi