Meneguhkan Tradisi Lokal Madura dalam Menjalani Bulan Ramadhan
- Diposting Oleh Achmad Firdausi
- Kamis, 19 Februari 2026
- Dilihat 95 Kali
Oleh: Dr. Moh. Hafid Effendy, M.Pd.
(Kepala SPI Universitas Islam Negeri Madura)
Ramadhan selalu hadir bukan hanya sebagai bulan spiritual, tetapi juga ruang kultural yang mempertemukan ajaran agama dengan tradisi lokal masyarakat khususnya di Madura. Di tengah arus globalisasi yang kerap menyeragamkan gaya hidup, keberadaan tradisi lokal Madura justru menjadi penyangga identitas yang penting. Bulan puasa di Madura tidak semata-mata dijalani sebagai ritual ibadah individual, melainkan sebagai pengalaman kolektif yang diperkaya oleh nilai-nilai budaya yang diwariskan kepada lintas generasi. Meneguhkan tradisi lokal Madura dalam menjalani puasa Ramadhan bukanlah upaya mengungkap lokalitas masa lalu belaka, melainkan strategi kultural untuk menjaga keseimbangan antara spiritualitas, kebersamaan sosial, dan identitas lokal.
Masyarakat Madura dikenal memiliki karakter religius yang kuat. Kehidupan sosialnya banyak bertumpu pada peran pesantren, kiai, dan tradisi keagamaan yang telah mengakar lama di bumi Madura. Dalam konteks Ramadhan, nilai religius tersebut berkelindan dengan praktik budaya yang khas, seperti tradisi berbuka bersama di kobhung, nyarè malem, kegiatan tadarus kolektif, menabuh alat tradisional ul-daul di malam hari, hingga budaya saling mengirim makanan antartetangga menjelang waktu magrib. Praktik-praktik semacam ini memperlihatkan bahwa puasa tidak dijalankan secara individualistik, tetapi menjadi momentum memperkuat solidaritas sosial sesamnya.
Tradisi lokal tersebut sejatinya mengandung konsep yang relevan dengan tantangan kehidupan modern. Di tengah meningkatnya kecenderungan individualisme, budaya kebersamaan yang hidup dalam masyarakat Madura menawarkan model relasi sosial yang berbasis kepedulian dan kepekaan. Ketika seseorang berbagi makanan berbuka dengan tetangga berupa takjil dan semacamnya bahkan yang dibangun bukan hanya relasi sosial, tetapi juga rasa saling memiliki sebagai bagian dari komunitas etnik yang sama. Nilai inilah yang membuat Ramadhan terasa hidup dan bermakna secara sosial di Madura. Namun demikian, perkembangan zaman membawa tantangan tersendiri. Digitalisasi dan budaya populer global mulai memengaruhi pola kehidupan masyarakat khususnya di Madura termasuk cara menjalani Ramadhan. Tradisi lokal perlahan terdesak oleh gaya hidup serba instan dan konsumtif. Jika tidak disikapi secara bijak, transformasi ini berpotensi mengikis praktik-praktik budaya yang selama ini menjadi media internalisasi nilai keagamaan dan moral. Oleh karena itu, meneguhkan tradisi lokal Madura tidak berarti menolak modernitas, tetapi menempatkan tradisi sebagai fondasi yang mampu beradaptasi secara kreatif.
Secara konseptual tradisi lokal dapat dipahami sebagai jembatan antara ajaran universal agama dan konteks sosial masyarakat. Islam mengajarkan nilai kesederhanaan, kesabaran, dan kepedulian terhadap sesama, sementara tradisi Madura menyediakan medium konkret untuk menerjemahkan nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, budaya saling mengunjungi dan mempererat silaturahmi selama Ramadhan memperkuat makna ukhuwah atau persaudaraan. Dengan kata lain, tradisi lokal berfungsi sebagai bahasa kultural yang membuat nilai agama lebih mudah dipahami dan dihayati oleh masyarakat.
Bagaimana peran generasi muda? Hal ini menjadi faktor kunci dalam keberlanjutan tradisi lokal. Banyak anak muda Madura yang kini hidup dalam ekosistem digital dengan paparan budaya global yang luas. Tantangannya adalah bagaimana menjadikan tradisi lokal tetap relevan bagi mereka. Salah satu jalan yang dapat ditempuh melalui reinterpretasi tradisi dengan pendekatan kreatif, misalnya mendokumentasikan kegiatan Ramadhan khas Madura melalui media digital, mengemas kajian keagamaan dengan bahasa yang lebih komunikatif, atau menjadikan tradisi kuliner Ramadhan sebagai bagian dari edukasi budaya. Dengan demikian, tradisi tidak dilihat sebagai beban masa lalu, tetapi sebagai identitas yang membanggakan. Selain itu, lembaga pendidikan dan pesantren memiliki posisi strategis dalam memperkuat keberlanjutan tradisi lokal. Melalui pendidikan berbasis budaya, nilai-nilai lokal dapat diajarkan sebagai bagian dari pembelajaran karakter. Ramadhan menjadi momen ideal untuk mengintegrasikan pendidikan spiritual dengan praktik budaya yang hidup di masyarakat. Ketika anak-anak dan remaja dilibatkan dalam kegiatan kolektif seperti tadarus bersama atau kerja sosial selama puasa, mereka tidak hanya belajar agama secara teoretis, tetapi juga mengalami dan menikmati langsung makna kebersamaan.
Meneguhkan tradisi lokal Madura dalam menjalani Ramadhan juga memiliki implikasi yang lebih luas bagi kehidupan kebangsaan. Di tengah keberagaman budaya di Indonesia, keberadaan tradisi lokal menjadi sumber kekayaan sosial yang memperkuat persatuan dan kesatuan. Tradisi yang hidup dan dirawat menunjukkan bahwa identitas keislaman dapat tumbuh harmonis dengan identitas kultural lokal tanpa harus saling meniadakan. Pesan ini penting dalam membangun masyarakat yang toleran dan inklusif.
Dapat dikatakan bahwa Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang merawat nilai-nilai yang membentuk jati diri komunitas etnik. Tradisi lokal Madura cerminan kearifan yang telah teruji oleh waktu, yang mengajarkan bahwa ibadah memiliki dimensi sosial dan kultural yang kuat. Meneguhkannya berarti menjaga ruang di mana spiritualitas bertemu dengan kebersamaan, dan agama bersanding harmonis dengan budaya. Jika tradisi ini terus dirawat dan diadaptasi secara kreatif, maka Ramadhan tidak hanya menjadi momentum spiritual tahunan, tetapi juga sarana memperkokoh identitas lokal yang relevan di tengah perubahan zaman.
Editor: Achmad Firdausi