Menjaga Napas Tradisi Tembang Macapat Madura di Tengah Arus Modernitas
- Diposting Oleh Achmad Firdausi
- Rabu, 10 Desember 2025
- Dilihat 216 Kali
Oleh: Dr. Moh. Hafid Effendy, M.Pd.
(Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Madura dan Peneliti Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI)
Di tengah derasnya arus modernitas, ketika musik digital, konten instan, dan budaya populer membanjiri ruang dengar kita setiap hari, keberadaan tembang macapat Madura seakan bergerak di lorong sunyi tanpa sinar matahari. Padahal, tradisi lisan ini bukan hanya sekadar warisan budaya, tetapi juga cermin nilai, identitas, dan kearifan masyarakat Madura yang telah hidup ratusan tahun. Macapat Madura dikatakan sebagai medium pendidikan moral, spiritual, sekaligus instrumen estetika yang seharusnya tetap mendapatkan ruang dalam kehidupan masyarakat.
Tembang macapat Madura memiliki ciri khas yang berbeda dengan macapat Jawa. Selain struktur metrum yang khas, macapat Madura memuat diksi yang lebih lugas, energik, dan dekat dengan kehidupan masyarakat pesisir atau agraris. Tema yang diangkat pun beragam: dari nasihat tentang etika sosial, hubungan antarmanusia, ketaatan beragama, hingga kisah-kisah nabi. Di banyak desa, tembang ini dulunya diperdengarkan dalam acara adat, khitanan, hingga kegiatan pendidikan informal di langgar atau pesantren. Namun kini, perjumpaan generasi muda dengan macapat semakin terbatas. Banyak anak-anak Madura yang justru lebih mengenal musik K-Pop, lagu viral TikTok, atau konten digital lain ketimbang karya sastra lokal mereka sendiri. Situasi ini bukan salah siapa-siapa, tetapi menjadi tanda bahwa revitalisasi budaya lokal harus dilakukan lebih serius, terstruktur, dan relevan dengan perkembangan zaman. Jika tidak, macapat akan tinggal nama dalam penelitian atau dokumen kebudayaan yang dirayakan sebagai sejarah, tetapi tidak dihidupi sebagai praktik.
Salah satu problem utama hilangnya ruang bagi tembang macapat adalah minimnya regenerasi pelaku. Tidak banyak santri, siswa, atau remaja desa yang mempelajari teknik melagukan macapat, baik karena kurangnya guru yang kompeten maupun karena tidak adanya ruang pentas yang rutin. Padahal, macapat Madura bisa menjadi basis pembentukan karakter. Dalam syair-syairnya, terselip pesan tentang pentingnya menghormati orang tua, menjaga keseimbangan hidup, memahami makna kerja keras, serta memperkuat hubungan manusia dengan Tuhan. Nilai-nilai seperti ini sangat relevan untuk memperkuat pendidikan moral generasi muda.
Pemerintah daerah sebenarnya memiliki peluang besar untuk menjadikan macapat sebagai bagian penting dari program kebudayaan. Festival macapat tingkat kecamatan hingga kabupaten, lomba tembang di sekolah, maupun pelatihan khusus bagi guru seni budaya bisa menjadi langkah sederhana tetapi berarti. Selain itu, kolaborasi antara budayawan, akademisi, dan komunitas lokal juga diperlukan untuk memperkaya dokumentasi macapat Madura, baik berupa audio, video, maupun teks beraksara Madura yang kini mulai diminati kembali.
Pesantren sebagai institusi lokal yang dekat dengan masyarakat memiliki posisi strategis dalam pelestarian macapat. Tidak sedikit tembang macapat Madura yang sarat nilai-nilai keislaman. Di beberapa pesantren tradisional, macapat masih menjadi bagian dari pembelajaran kitab kuning dengan fungsi sebagai media menghafal, merenungi, dan menanamkan hikmah. Jika pesantren terpanggil untuk kembali menghidupkan tradisi ini, generasi muda Madura akan memiliki jembatan kultural yang kuat antara tradisi dan religiusitas.
Selain itu, inovasi juga perlu dilakukan agar macapat tidak terkesan kuno atau “tidak cocok” bagi generasi digital. Pengemasan ulang melalui musik modern, kolaborasi dengan instrumen kontemporer, atau produksi konten macapat di platform seperti YouTube, TikTok, dan Spotify dapat menjadi strategi efektif. Banyak tradisi lokal di negara lain yang bertahan justru karena berhasil masuk ke ruang digital tanpa kehilangan ruh aslinya. Macapat Madura seharusnya menempuh jalan yang sama lebih modern dalam kemasan, tradisional dalam nilai.
Tentunya revitalisasi macapat tidak hanya relevan untuk kepentingan budaya, tetapi juga memiliki nilai ekonomi. Jika dikembangkan sebagai bagian dari ekonomi kreatif, macapat bisa menjadi sumber pendapatan bagi pelaku seni, pengajar, hingga event organizer lokal. Desa-desa wisata budaya pun dapat menjadikan pertunjukan macapat sebagai atraksi utama yang tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga menumbuhkan rasa bangga masyarakat setempat terhadap tradisi mereka.
Menggelitik fenomena ini, tembang macapat Madura harus dipandang sebagai napas kultural yang memberi identitas dan kehangatan bagi masyarakat. Tradisi ini tidak boleh hanya hidup dalam buku teks, penelitian akademik, atau festival seremonial. Ia harus kembali menjadi budaya hidup dengan dinyanyikan, didengar, dihayati, dan diwariskan. Modernitas bukan alasan untuk meninggalkan tradisi; justru menjadi peluang untuk menafsirkan ulang warisan leluhur dengan cara yang kreatif dan relevan.
Sebagai masyarakat Madura, menjaga macapat berarti menjaga jati diri dan sebagai bangsa Indonesia, merawat keragaman budaya lokal seperti macapat merupakan fondasi penting dari kekayaan nasional. Sebelum terlambat dan macapat benar-benar kehilangan generasi pewaris, inilah saatnya kita memberi tempat bagi tradisi ini untuk kembali didendangkan.
Editor: Achmad Firdausi