Alamat

Jl. Raya Panglegur KM.4 Pamekasan

Telp./WA

+62 898-9700-500

Email

info@uinmadura.ac.id

Membumikan Lagu Dolanan Madura di Era Digitalisasi

  • Diposting Oleh Achmad Firdausi
  • Senin, 22 Desember 2025
  • Dilihat 146 Kali
Bagikan ke

Oleh: Dr. Moh. Hafid Effendy, M.Pd.

(Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Madura dan Ketua Yayasan Pakem Maddhu)

Pernahkah kita teringat saat masa kecil, orang tua kita mendendangkan lagu dolanan Madura sebagai pengantar tidur nyenyak pada masa lalu. Tentu masa kini sudah jarang dilakukan oleh orang tua kita, karena sudah tergerus oleh zaman. Di tengah derasnya arus digitalisasi, kita menyaksikan sebuah fenomena ironi: teknologi yang menawarkan ruang tanpa batas justru sering membuat kita menjauh dari akar budaya sendiri. Lagu-lagu dolanan Madura yang dahulu menjadi bagian dari aktivitas bermain sambil belajar bagi anak-anak. Kini kian terpinggirkan oleh konten musik modern dan hiburan digital yang lebih instan. Padahal, lagu dolanan bukan sekadar nyanyian pengiring permainan tradisional; ia adalah media pendidikan, pewarisan nilai, dan identitas kultural yang penuh makna. Inilah momentum untuk membumikan kembali lagu dolanan Madura melalui strategi kreatif yang memanfaatkan ruang digital.

Kita harus ingat bahwa lagu dolanan tidak lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dari kehidupan masyarakat, pesan moral, religius, dan sosial. Misalnya, lagu Cong-Koncong Koncè, Dul Kanna’ Dul Kannong mengandung petuah tentang kerja sama, tata krama, dan hubungan yang harmonis antarindividu. Nilai-nilai seperti ini relevan hingga kini, bahkan ketika dunia pendidikan semakin menekankan karakter, literasi budaya, dan kecerdasan emosional. Namun, relevansi itu tidak akan berarti apa-apa jika generasi muda tidak pernah mendengarnya. Maka, digitalisasi bukan musuh, melainkan kendaraan yang bisa membawa tradisi itu menuju audiens baru.

Platform seperti YouTube, TikTok, dan Spotify justru bisa menjadi panggung bagi lagu dolanan Madura. Pengemasan ulang dalam bentuk musik modern, animasi anak-anak, hingga konten edukasi interaktif dapat menarik perhatian generasi yang lahir dan tumbuh dalam era gadget. Kita bisa mencontoh suksesnya lagu daerah lain seperti “Ampar-Ampar Pisang” atau “Cublak-Cublak Suweng” yang viral kembali setelah diadaptasi secara kreatif. Artinya, lagu dolanan Madura memiliki peluang yang sama besar untuk dikenal kembali, asalkan dipromosikan dengan cara yang tepat.

Penting adanya integrasi dalam kurikulum pendidikan bisa menjadi langkah strategis. Sekolah-sekolah di Madura dan wilayah lain yang memiliki peserta didik keturunan Madura dapat memanfaatkan seni musik daerah sebagai media penguatan literasi budaya. Seperti melalui arasemen musik Ul-Daul, Kegiatan ekstrakurikuler berbasis seni tradisi, festival dolanan, hingga pembelajaran melalui metode bermain sambil bernyanyi dapat menghidupkan kembali atmosfer yang dulu begitu akrab bagi anak-anak di kampung. Jika kebijakan pendidikan berbasis kearifan lokal mulai diperkuat, maka lagu dolanan tidak akan sekadar menjadi nostalgia, tetapi menjadi instrumen pedagogis yang relevan.

Selain sekolah, pesantren sebagai institusi pendidikan khas Madura juga dapat terlibat. Dengan karakter religius yang melekat pada sebagian lagu dolanan, pesantren dapat menjadikannya media pembelajaran akhlak dan bahasa daerah. Integrasi antara tradisi dan agama dapat memperkuat identitas kultural umat sekaligus membentuk moral generasi muda yang tidak tercerabut dari akar sosialnya. Tentunya upaya ini tidak cukup hanya mengandalkan idealisme. Kita memerlukan sinergi: pemerintah daerah, pegiat budaya, akademisi, dan para konten kreator digital. Pemerintah dapat memberikan dukungan berupa anggaran kreatif budaya, Kampus melalui Prodi TBIN, PGMI, dan PIAUD menggaungkan pelatihan digital bagi mahasiswa kolaborasi dengan seniman lokal, serta penyelenggaraan lomba konten lagu dolanan Madura. Akademisi dapat meneliti ulang makna, sejarah, dan nilai pedagogis dolanan, sehingga lahir dokumentasi ilmiah yang dapat menjadi rujukan. Konten kreator digital dapat menjadi ujung tombak, menafsir ulang lagu dengan sentuhan visual dan audio modern.

Di sudut ini, kita harus berhenti berpolemik antara “modernisasi vs tradisi”. Keduanya bukan dikotomi yang harus saling memusnahkan. Tradisi yang cerdas adalah tradisi yang mampu beradaptasi. Karena itu, langkah membumikan lagu dolanan Madura bukan nostalgia romantis semata, tetapi strategi pelestarian berbasis keberlanjutan. Selain menghadirkan kembali identitas budaya, upaya ini juga memiliki dampak ekonomi kreatif. Lagu dolanan yang dikemas ulang dapat menjadi produk musik digital, merchandise, hingga bahan wisata budaya. Event seni tradisi dapat menarik wisatawan, menciptakan ruang ekonomi bagi musisi lokal, dan memperkuat branding budaya Madura. Dengan digitalisasi, pasar tidak lagi terbatas pada wilayah Madura; ia terbuka untuk seluruh Indonesia, bahkan dunia.

Perlu dikaji terkait nilai utama dari lagu dolanan Madura yang keberadaannya sebagai sarana pembentukan karakter. Di tengah maraknya konten digital yang kerap gagal memberikan manfaat edukatif, lagu dolanan adalah alternatif sehat yang sarat nilai positif. Ia mengajarkan kebersamaan, hormat kepada orang tua, kesederhanaan, dan religiusitas. Nilai-nilai tersebut sangat relevan dalam membentengi generasi dari individualisme ekstrem dan degradasi moral akibat konten yang tidak mendidik.

Membumikan lagu dolanan Madura di era digital bukan sekadar melestarikan warisan leluhur; melainkan investasi kultural. Jika bangsa besar adalah bangsa yang menghargai tradisi, maka membiarkan dolanan hilang tanpa jejak adalah bentuk kehilangan identitas. Melalui sentuhan kreativitas, kolaborasi lintas sektor, dan pemanfaatan teknologi secara bijak, lagu dolanan Madura dapat kembali berbunyi dan berdendang yang tidak hanya di halaman rumah, tetapi juga di layar ponsel, ruang kelas, media sosial, dan hati generasi baru. Ketika itu terjadi, kita tidak hanya menyanyikan lagu; kita sedang memastikan bahwa identitas kultural Madura tetap hidup, relevan, dan bermartabat. Itulah tugas kita bersama: tidak sekadar mengenang, tetapi menyalakan bahkan menghidupkan kembali di era digitalisasi.

 


Editor: Achmad Firdausi