Cerminan Bhinneka Tunggal Ika dan Moderasi Pendidikan dan Latihan PPIH
- Diposting Oleh Achmad Firdausi
- Senin, 2 Februari 2026
- Dilihat 355 Kali
Oleh: Dr. Imam Amrusi Jailani, M.Ag.
(Ketua Program Studi Doktor Ilmu Syariah Pascasarjana UIN Madura)
Pendidikan dan latihan bagi para petugas penyelenggara ibadah haji Indonesia embarkasi Surabaya diselenggarakan selama 10 hari, mulai dari tanggal 28 Januari hingga 7 Februari 2026. Diklat kali ini diikuti oleh hampir 500 PPIH yang akan bertugas mendampingi jemaah selama berlangsungnya penyelenggaraan ibadah haji di tanah haram. Mereka berasal dari berbagai daerah kabupaten dan kota se Jawa Timur, dan juga dari Bali dan Nusa Tenggara.
Mereka berkumpul di asrama haji Surabaya untuk digembleng menjadi petugas penyelenggara haji yang tangguh, sehingga mereka bisa menunaikan amanat yang diberikan kepada mereka dengan baik. Mereka Adalah orang-orang pilihan yang dinilai memmiliki kompetensi serta kualifikasi yang mumpuni untuk mendampingi Jemaah haji. Para PPIH terpilih melalui seleksi dapat dipertanggungjawabkan secaar obyektif dan transparan.
Satu pemandangan yang tampak jelas pada mereka adalah kedatangan mereka dari berbagai daerah dengan latar belakang bahasa daerah yang berbeda, tradisi mereka pun juga berbeda, corak pakaian batik yang dikenakan oleh mereka juga berbeda-beda yang seolah-olah mencerminkan sifat kedaerahan mereka. Namun yang jelas pula tampak sekali mereka memiliki visi dan misi yang sama untuk menyukseskan penyelenggaraan ibadah haji bagi seluruh jamaah haji Indonesia. Hal ini mencerminkan keragaman atau kebhinekaan bagi seluruh petugas penyelenggara haji Indonesia. Walaupun demikian mereka menyuguhkan moderasi dalam berpikir dan bersikap.
Mereka berasal dari latar belakang yang berbeda, baik secara jabatan maupun status sosial. Ada yang menjabat sebagai kepala Kementerian di kota dan kabupaten, ada yang dosen, ada yang pejabat kasubag di Kementerian, ada yang berprofesi sebagai guru, pengawas, kepala rumah sakit dan Puskesmas, dan juga ada dokter dan perawat atau para medis. Namun mereka berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah, sehingga tidak terlihat siapa yang jabatannya tinggi dan jabatannya rendah.
Tidak tampak perbedaan di antara, mereka memakai seragam yang sama, melakukan aktivitas yang sama, makan dengan porsi makanan yang sama dan menjalankan tugas serta kewajiban yang sama pula. Tidak ada atasan dan tidak ada pula bawahan, tidak ada kepala tidak ada pula staf, tidak ada Kyai maupun santri, semuanya membaur menjadi satu kesatuan yaitu PPIH (Petugas Penyelenggara Ibadah Haji) Indonesia. Suatu pemandangan yang sangat indah nan elok bagi berkibarnya moderasi di bumi Nusantara ini. Mereka tidak membawa simbol kekuasaan atau kedudukan yang disematkan kepadanya di daerahnya masing-masing. Semuanya melebur dalam suatu agenda untuk menggolkan visi dan misi dalam mencapai kemambruran haji. Tugas yang diemban oleh mereka ialah menyukseskan pelaksanaan ibadah haji pada tahun 2026. Kesuksesan tersebut merupakan cita-cita bersama dari seluruh muslim Indonesia terutama seluruh jemaah haji yang diberangkatkan pada tahun ini, sehingga dengan kesuksesan tersebut semua jemaah haji menjadi hajjan mabruro yang diridhoi oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Haji Mabrur itulah yang diidam-idamkan oleh seluruh jamaah haji tanpa terkecuali, baik jamaah maupun petugas, karena dengan jemaah haji yang mabrur itulah kehidupan akan menjadi lebih baik dan mereka yang mabrur berhajinya sudah diagendakan oleh Allah subhanahu wa ta'ala untuk menjadi penghuni surga nanti di hari kiamat bersama para nabi orang-orang saleh dan para kekasih Allah.
Editor: Achmad Firdausi